HOME VIRAL UNIK

  • Senin, 16 Februari 2026

Sejarah Lubang Jepang Bukittinggi Dan Kisah Pilu Di Baliknya

Penulis: Ari Yuliasril
Penulis: Ari Yuliasril

Sejarah Lubang Jepang Bukittinggi dan Kisah Pilu di Baliknya

Oleh: Ari Yuliasril


Lorong-lorong sempit itu masih terasa lembap dan dingin. Di bawah perbukitan kota Bukittinggi, jejak masa perang tersimpan dalam gelap yang panjang. Sejarah Lubang Jepang Bukittinggi dan kisah pilu di baliknya bukan sekadar cerita wisata, melainkan potongan ingatan tentang masa pendudukan yang meninggalkan luka.

Lubang Jepang berada di kawasan Ngarai Sianok, tak jauh dari pusat kota. Terowongan ini dibangun pada masa pendudukan tentara Jepang sekitar tahun 1942–1945, ketika Sumatera Barat menjadi salah satu wilayah strategis dalam peta pertahanan militer Jepang di Asia Tenggara. Bukittinggi yang kala itu dikenal sebagai Fort de Kock pada masa Hindia Belanda, dipilih karena letaknya yang tinggi dan dianggap aman untuk pertahanan.

Dibangun di Masa Pendudukan Jepang

Catatan sejarah menyebutkan, terowongan ini dibangun sebagai bunker pertahanan, gudang logistik, sekaligus tempat perlindungan bagi tentara Jepang. Panjang lorongnya mencapai ratusan meter dan memiliki beberapa ruang yang difungsikan sebagai kamar perwira, ruang amunisi, hingga jalur penghubung rahasia.

Pembangunan Lubang Jepang dilakukan secara manual dengan peralatan sederhana. Sejumlah literatur sejarah daerah dan arsip kolonial mencatat bahwa pengerjaannya melibatkan romusha, tenaga kerja paksa dari masyarakat lokal maupun luar daerah. Mereka dipaksa menggali bukit batu dengan kondisi minim makanan dan pengawasan ketat militer.

Di situlah kisah pilu itu bermula.

Jejak Romusha dan Derita yang Terpendam

Dalam berbagai catatan sejarah tentang pendudukan Jepang di Sumatera Barat, romusha menjadi bagian paling getir. Banyak di antara mereka yang tidak kembali ke kampung halaman. Lubang Jepang Bukittinggi menjadi salah satu saksi bisu kerja paksa tersebut.

Lorong-lorong yang kini diterangi lampu wisata dahulu adalah ruang gelap penuh tekanan. Beberapa sumber sejarah lokal menyebutkan bahwa sebagian pekerja tidak selamat akibat kelelahan, penyakit, atau kekerasan selama masa pembangunan.

Tidak banyak nama yang tercatat. Sebagian besar kisah romusha hanya hidup dalam cerita turun-temurun keluarga dan masyarakat setempat. Namun keberadaan terowongan itu sendiri menjadi bukti konkret betapa kerasnya masa pendudukan Jepang di wilayah Minangkabau.

Dari Bunker Perang Menjadi Situs Sejarah

Setelah Indonesia merdeka, Lubang Jepang sempat tidak terawat sebelum akhirnya dibuka kembali sebagai objek wisata sejarah. Pemerintah daerah menjadikannya salah satu destinasi edukasi di Bukittinggi, berdampingan dengan panorama Ngarai Sianok yang memikat.

Kini, pengunjung dapat menyusuri lorong-lorong tersebut dengan pemandu yang menjelaskan fungsi setiap ruang. Namun di balik geliat wisata, nilai sejarahnya tetap melekat kuat. Terowongan itu bukan sekadar spot foto, melainkan pengingat tentang masa ketika kebebasan belum menjadi milik bangsa ini.

Sejarah Lubang Jepang Bukittinggi dan kisah pilu di baliknya mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak datang tanpa harga. Di antara dinding batu yang dingin itu, tersimpan cerita tentang kerja paksa, ketakutan, dan daya tahan manusia menghadapi zaman yang keras.

Bukittinggi hari ini mungkin riuh oleh wisatawan dan lalu lintas kota. Tetapi di bawah tanahnya, sejarah tetap bernafas pelan, mengajak siapa pun yang datang untuk tidak sekadar melihat, melainkan mengingat.


Wartawan : Ari Yuliasril
Editor : melatisan

Tag :Sejarah Lubang Jepang Bukittinggi dan Kisah Pilu di Baliknya

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com