- Rabu, 18 Februari 2026
Tradisi Pacu Jawi Di Tanah Datar Dan Jadwal Pelaksanaannya, Atraksi Sawah Usai Panen
Tradisi Pacu Jawi di Tanah Datar dan Jadwal Pelaksanaannya, Atraksi Sawah Usai Panen
Oleh: Avina Amanda
Tradisi Pacu Jawi di Tanah Datar dan jadwal pelaksanaannya selalu menjadi penanda berakhirnya musim panen di Luhak Nan Tuo. Di hamparan sawah berlumpur di Kabupaten Tanah Datar, dua ekor sapi dipacu berlari lurus, sementara seorang joki berdiri di atas bajak kayu sambil memegang ekor keduanya. Sorak penonton pun pecah di tepi sawah.
Atraksi ini bukan sekadar perlombaan kecepatan. Pacu jawi adalah tradisi agraris masyarakat Minangkabau yang telah berlangsung turun-temurun. Ia tumbuh dari kehidupan petani, menjadi perayaan kolektif setelah masa tanam dan panen dilalui bersama.
Bukan Sekadar Balapan Sapi
Meski kerap disebut balapan sapi, pacu jawi memiliki ciri khas tersendiri. Arena yang digunakan bukan lintasan kering, melainkan sawah berlumpur yang baru selesai dipanen. Sepasang sapi diikat pada sebatang kayu bajak, lalu dilepas untuk berlari lurus sejauh kira-kira ratusan meter.
Joki berdiri di belakang, bertumpu pada kayu bajak sambil memegang erat ekor sapi untuk menjaga keseimbangan. Tantangannya bukan hanya menjaga agar tetap berdiri, tetapi juga memastikan sapi tetap berlari lurus hingga garis akhir.
Dalam praktiknya, pacu jawi tidak mengenal sistem juara seperti perlombaan resmi. Penilaian lebih banyak didasarkan pada kemampuan sapi berlari lurus dan kuat. Sapi yang tampil baik biasanya memiliki nilai jual lebih tinggi setelah ajang tersebut.
Dilaksanakan Bergiliran Usai Panen
Tradisi Pacu Jawi di Tanah Datar dan jadwal pelaksanaannya mengikuti kalender pertanian. Kegiatan ini digelar setelah musim panen padi, ketika sawah dalam kondisi kosong dan berlumpur.
Pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran di empat kecamatan di Tanah Datar, yakni Pariangan, Rambatan, Lima Kaum, dan Sungai Tarab. Setiap pekan, lokasi penyelenggaraan berpindah dari satu nagari ke nagari lainnya sesuai jadwal yang telah disepakati oleh panitia dan masyarakat setempat.
Karena bergantung pada musim panen, jadwal pacu jawi tidak selalu sama setiap tahun. Namun umumnya digelar pada akhir pekan agar masyarakat dan perantau yang pulang kampung dapat menyaksikan langsung tradisi tersebut.
Ruang Silaturahmi dan Identitas Luhak Nan Tuo
Bagi masyarakat Tanah Datar, pacu jawi bukan hanya tontonan, tetapi juga ajang silaturahmi. Petani, pemilik sapi, pedagang, hingga wisatawan berkumpul di satu hamparan sawah. Tradisi ini menjadi ruang bertemu, berbagi kabar, dan mempererat hubungan antarnagari.
Di tengah modernisasi pertanian dan perubahan gaya hidup, pacu jawi tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas Luhak Nan Tuo. Lumpur yang memercik, sapi yang berlari, dan joki yang bertahan di atas bajak menjadi gambaran kuat tentang kedekatan masyarakat Minangkabau dengan tanahnya.
Tradisi Pacu Jawi di Tanah Datar dan jadwal pelaksanaannya mungkin mengikuti siklus panen, tetapi semangat kebersamaan yang menyertainya terasa tetap. Ia mengingatkan bahwa di balik kerja keras di sawah, selalu ada ruang untuk merayakan hasil dan menjaga warisan budaya agar tetap hidup di ranah Minang.
Editor : melatisan
Tag :Tradisi, Pacu Jawi , Tanah Datar, Jadwal Pelaksanaannya, Atraksi, Sawah, Usai Panen
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MAKNA SIMBOLIS TANDUK KERBAU PADA ATAP RUMAH GADANG, JEJAK SEJARAH DAN FALSAFAH MINANGKABAU
-
KEUNIKAN ALAT MUSIK TRADISIONAL SALUANG DAN CARA MEMAINKANNYA DALAM TRADISI MINANGKABAU
-
MAKNA FILOSOFIS MOTIF BATIK TANAH LIEK MINANGKABAU, WARNA BUMI DALAM JEJAK ADAT
-
LEGENDA MALIN KUNDANG DAN PESAN MORAL DI DALAMNYA, KISAH ANAK DURHAKA DARI PESISIR MINANGKABAU
-
TEKNIK DASAR SILAT HARIMAU MINANGKABAU UNTUK PEMULA, WARISAN GERAK DARI RANAH MINANG