HOME VIRAL UNIK

  • Minggu, 15 Maret 2026

Sejarah Kota Payakumbuh Dan Struktur Adatnya

  Kota Payakumbuh
Kota Payakumbuh

Sejarah Kota Payakumbuh dan Struktur Adatnya

Oleh: Andika Putra Wardana


Di jalur darat yang menghubungkan Bukittinggi dan Pekanbaru, ada sebuah kota yang sejak lama menjadi pusat aktivitas masyarakat di wilayah utara Sumatera Barat. Kota itu adalah Payakumbuh.

Banyak orang mengenalnya sebagai kota kuliner dan gerbang menuju Lembah Harau. Namun di balik itu, sejarah Kota Payakumbuh menyimpan cerita panjang tentang perkembangan nagari, pusat pemerintahan kolonial, hingga menjadi kota modern di wilayah adat Minangkabau.

Berasal dari Wilayah Adat Luhak Limapuluh Kota

Dalam struktur adat Minangkabau, Payakumbuh berada di wilayah Luhak Limapuluh Kota, salah satu dari tiga luhak utama yang menjadi pusat awal perkembangan masyarakat Minangkabau. Wilayah ini sejak lama dikenal sebagai kawasan pemukiman tua yang berkembang dari nagari-nagari di sekitar kaki Gunung Sago.

Catatan adat menyebutkan bahwa kawasan ini sudah dihuni sejak masa awal migrasi masyarakat Minangkabau dari daerah asal di Pariangan, Tanah Datar. Dalam tambo dan catatan adat Minangkabau juga dikenal kisah perjalanan sekelompok orang dari lereng Gunung Marapi menuju kawasan kaki Gunung Sago untuk membuka pemukiman baru. Kisah perjalanan ini kemudian menjadi bagian dari sejarah awal terbentuknya nagari-nagari di wilayah Limapuluh Kota.

Seiring waktu, kawasan yang sekarang menjadi Payakumbuh berkembang sebagai pusat aktivitas masyarakat nagari di sekitarnya. Nagari-nagari seperti Aie Tabik, Payobasuang, Tiakar, dan Koto Nan Godang termasuk dalam wilayah adat yang membentuk kawasan kota ini.

Karena berada di tengah wilayah nagari-nagari tersebut, Payakumbuh sejak lama berfungsi sebagai pusat pertemuan kegiatan ekonomi dan pemerintahan adat masyarakat Luhak Limapuluh Kota.

Asal-usul Nama Payakumbuh

Nama Payakumbuh berasal dari bahasa Minangkabau yang terdiri dari dua kata, yaitu payo dan kumbuah.

Payo berarti rawa atau tanah berair, sedangkan kumbuh merujuk pada sejenis tanaman yang dahulu banyak tumbuh di daerah rawa di kawasan Kenagarian Koto Nan Gadang. Wilayah ini pada masa lalu memang dikenal sebagai daerah rawa yang ditumbuhi tanaman tersebut.

Dari situ kemudian muncul penyebutan “payo nan kumbuh”, yang menggambarkan kawasan rawa tempat tanaman kumbuh tumbuh subur. Lama-kelamaan sebutan itu berubah menjadi Payakumbuh.

Nama ini bertahan hingga sekarang dan menjadi identitas kota yang tumbuh di kawasan dataran tinggi di kaki Gunung Sago, dengan aliran beberapa sungai besar seperti Batang Agam, Batang Lampasi, dan Batang Sinama yang melintasi wilayahnya.

Payakumbuh pada Masa Kolonial

Perkembangan besar Payakumbuh terjadi pada masa pemerintahan Hindia Belanda, terutama setelah pecahnya Perang Padri pada awal abad ke-19.

Pada masa itu, wilayah Limapuluh Kota menjadi salah satu daerah penting dalam jalur perdagangan hasil bumi. Pemerintah kolonial kemudian menjadikan Payakumbuh sebagai pusat administrasi untuk mengatur wilayah tersebut.

Belanda menempatkan seorang asisten residen di Payakumbuh yang mengawasi wilayah Afdeeling Limapuluh Kota. Selain itu, kawasan ini juga berkembang sebagai tempat penyimpanan hasil panen kopi yang menjadi komoditas penting pada masa itu.

Fungsi Payakumbuh sebagai pusat pemerintahan tetap berlanjut pada masa pendudukan Jepang. Kota ini menjadi tempat kegiatan administrasi dan pelayanan masyarakat untuk wilayah Limapuluh Kota.

Karena peran itu, Payakumbuh sejak lama dikenal sebagai kota pelayanan bagi nagari-nagari di sekitarnya.

Dari Ibu Kota Kabupaten hingga Menjadi Kotamadya

Setelah Indonesia merdeka, Payakumbuh masih berada dalam wilayah Kabupaten Limapuluh Kota dan bahkan pernah menjadi ibu kota kabupaten tersebut.

Status kota ini mulai berubah pada pertengahan abad ke-20. Melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1956, Payakumbuh ditetapkan sebagai kota kecil dalam sistem pemerintahan daerah di Sumatera Barat.

Perubahan penting terjadi pada tahun 1970 ketika Payakumbuh resmi menjadi daerah otonom dengan status Kotamadya Payakumbuh. Sejak saat itu, kota ini memiliki pemerintahan sendiri yang terpisah dari Kabupaten Limapuluh Kota.

Perkembangan wilayah kota juga terus berlangsung. Pada awalnya Payakumbuh hanya terdiri dari tiga kecamatan, kemudian mengalami pemekaran hingga menjadi lima kecamatan seperti yang dikenal sekarang.

Kecamatan tersebut antara lain Payakumbuh Barat, Payakumbuh Timur, Payakumbuh Utara, Payakumbuh Selatan, dan Lamposi Tigo Nagari.

Payakumbuh Hari Ini

Saat ini Payakumbuh dikenal sebagai salah satu kota penting di wilayah utara Sumatera Barat. Letaknya yang strategis membuat kota ini menjadi penghubung jalur darat antara Sumatera Barat dan Riau.

Kota ini juga berkembang sebagai pusat perdagangan, pendidikan, dan pelayanan pemerintahan bagi masyarakat di wilayah Limapuluh Kota. Udara yang relatif sejuk karena berada di dataran tinggi membuat Payakumbuh menjadi salah satu kota yang nyaman dihuni di Sumatera Barat.

Meski telah berkembang menjadi kota modern, Payakumbuh tetap berada dalam lingkup budaya Minangkabau yang kuat. Struktur nagari, tradisi adat, serta kehidupan masyarakat yang masih dekat dengan sistem adat Minangkabau masih terasa di berbagai bagian kota ini.

Itulah sebabnya, ketika membicarakan sejarah Kota Payakumbuh dan struktur adatnya, kota ini tidak bisa dilepaskan dari identitasnya sebagai bagian dari Luhak Limapuluh Kota, salah satu wilayah tua dalam sejarah Minangkabau.

Di sinilah kota tumbuh.
Di tengah nagari, adat, dan perjalanan panjang sejarah Ranah Minang.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Sejarah, Kota Payakumbuh, Struktur Adat

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com