HOME VIRAL UNIK

  • Senin, 25 Mei 2026

Permainan Tradisional Anak Nagari

Permainan Tradisional Anak Nagari

Oleh: Fathiyatul Jannah
(Mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas)


Berkembangnya zaman yang semakin pesat dan bersifat revolusioner banyak merubah hal-hal yang seharusnya dilindungi menjadi dilupakan. Permainan tradisional yang kaya akan budaya, nilai-nilai kebangsaan, serta unsur-unsur yang berfungsi untuk perkembangan anak semakin terabaikan. Permainan modern yang dirasakan lebih mudah dan cenderung egois lebih disukai saat ini oleh anak-anak, yang seharusnya belajar tentang permainan motorik dan kognitif yang lebih bermanfaat.

Pesatnya kemajuan teknologi informasi saat ini, baik secara langsung maupun tidak, menjadi salah satu alasan tergeser nya berbagai permainan tradisional milik bangsa Indonesia. Hal ini terlihat dari banyaknya anak-anak yang lebih memilih, bahkan lebih menyukai, permainan yang berbasis teknologi informasi.

Permainan tradisional kini sudah sering ditinggalkan dan hampir dilupakan. Fakta ini dapat terlihat dari jawaban anak-anak ketika ditanya apakah mereka mengenal berbagai permainan tradisional. Banyak di antara mereka yang tidak tahu tentang permainan tradisional yang dulu diwariskan dari generasi ke generasi. Padahal, permainan tradisional memiliki kemampuan untuk mengasah keterampilan sosial anak.

Permainan tradisional yang telah lahir sejak ribuan tahun yang lalu merupakan hasil dari proses kebudayaan manusia zaman dahulu yang masih kental dengan nilai-nilai kearifan lokal. Meskipun sudah sangat tua, ternyata permainan tradisional memiliki peran edukasi yang sangat manusiawi bagi proses belajar seorang individu, terutama anak-anak.

Permainan tradisional dianggap tak semenarik permainan modern dan dianggap kuno serta ketinggalan zaman, namun kenyataannya permainan tradisional banyak mengandung nilai-nilai atau pesan moral yang baik untuk melatih tumbuh kembang anak. Permainan tradisional yang berasal dari Sumatera Barat lambat laun sudah tergantikan dengan munculnya permainan modern yang sedikit banyak memberi dampak negatif kepada anak yang memainkan permainan tersebut.

Anak-anak di Nagari Bayang dalam kesehariannya masih banyak memainkan permainan tradisional dibanding dengan memainkan permainan modern yang berasal dari gadget. Salah satu permainan tradisional yang menjadi khas nagari pesisir selatan diantaranya; Lompat Tali (Kajai) dan Sikoci.

Lompat tali ialah satu jenis permainan yang melibatkan satu atau lebih individu melompati seutas tali yang bergerak ke atas dan ke bawah sehingga tali itu bergerak di bawah kaki dan di atas kepala mereka. Ada berbagai jenis lompat tali yang termasuk: gaya bebas seorang, kelajuan seorang, berpasangan, kelajuan tiga orang, serta gaya bebas tiga orang. Permainan lompat tali bisa dimainkan oleh sekelompok anak-anak. Jumlah pemainnya bisa antara 3 hingga 10 anak. Selain secara berkelompok, lompat tali juga bisa dilakukan sendiri. Dalam permainan yang melibatkan kelompok, peserta dibagi menjadi dua peran. Peran yang pertama yaitu sebagai pemegang tali, dan peran yang kedua sebagai pelompat. Alat yang dipakai untuk bermain lompat tali adalah tali yang dibuat dari karet. Aktivitas lompat tali biasanya dilakukan di sekolah atau di rumah.

Nilai moral yang terkandung dalam permainan lompat tali : Satu, Sportivitas yaitu Belajar terima kalah-menang dengan lapang dada. Kalau nyangkut ya ganti giliran, nggak curang atau marah. Kedua, Kerja sama & kebersamaan yaitu Khususnya pas lompat ganda atau kelompok. Butuh koordinasi sama yang megang tali dan sama teman yang lompat bareng. Kalau nggak kompak, talinya putus. Ketiga, Disiplin & konsentrasi Yaitu Harus fokus ngikutin irama putaran tali. Sedikit lengah langsung nyangkut. Ini ngajarin fokus sama aturan main. Keempat, Sabar & pantang menyerah Yaitu Awal-awal pasti sering gagal. Tapi kalau terus coba, lama-lama bisa. Ngajarin anak buat nggak gampang nyerah. Kelima, Tenggang rasa Yaitu Antre giliran, nggak nyerobot, dan ngasih kesempatan teman lain main. Melatih empati dan giliran. Keenam, Keberanian Yaitu Waktu level tali dinaikkan, pemain dituntut berani nyoba meskipun takut gagal.

Main sikoci merupakan permainan yang sudah ada sejak lama di kenal di Kabupaten Pesisir Selatan. Istilah sikoci di sini bukanlah untuk perahu penyelamat di atas kapal, tetapi merujuk kepada batu datar yang ukurannya mirip dengan kotak korek api atau lebih besar yang berfungsi sebagai alat bermain. Anak-anak lelaki yang bermain sikoci. Permainan ini biasanya dilakukan di halaman rumah atau di tepi pantai. Sebelum mulai bermain, terlebih dahulu dibuat kotak berbentuk persegi panjang dan dibagi menjadi enam bagian di dalamnya.

Sebelum pemain melempar sikoci atau gundu, mereka terlebih dahulu melakukan permainan gambrengan (hom pim pa) untuk menentukan siapa yang akan memulai. Pemenang dari gambrengan adalah orang yang paling cepat memulai permainan dengan melempar bundu atau sikoci ke kotak pertama. Setelah itu, dia melompat ke kotak dengan satu kaki dan mengambil bundu atau sikoci yang ada di tanah dengan menggesernya menggunakan satu kaki menuju kotak nomor dua. Proses ini berlanjut hingga kotak keenam. Selama permainan, hanya satu kaki pemain yang diperbolehkan menyentuh tanah, sedangkan kaki yang lainnya tidak boleh menyentuh kotak yang berbeda.

Jika sikoci mengenai garis batas dari kotak lain, maka pemain tersebut akan digantikan oleh pemain berikutnya. Permainan sikoci bisa dilakukan secara individual atau berkelompok. Untuk permainan berkelompok, biasanya diikuti oleh empat hingga enam orang. Setiap tim terdiri dari dua hingga tiga anggota. Permainan sikoci merupakan salah satu permainan tradisional yang sering dimainkan pada sore hari atau saat libur menjelang mandi sore.

Nilai moral yang terkandung di dalam permainan sikoci: Satu, Ketelitian dan focus Yaitu Kamu harus ngincer kotak yang bener waktu lempar gaco. Kalau meleset, giliran habis. Ngajarin buat hati-hati dan fokus. Kedua, Keseimbangan dan pengendalian diri Yaitu Lompat pakai satu kaki sambil hindari kotak yang ada gaconya butuh jaga keseimbangan. Ini ngelatih kontrol diri, nggak grusa-grusu. Ketiga, Sportivitas Yaitu Aturannya jelas: kalau injak garis, gaco keluar kotak, atau jatuh, giliran pindah. Pemain belajar terima kalah tanpa ngeles. Keempat, Sabar dan pantang menyerah Yaitu Sikoci dimainin bertahap dari kotak 1 sampai selesai. Kalau gagal di kotak 3, balik lagi ke awal. Ngajarin sabar ngulang proses. Kelima, Kejujuran Yaitu Nggak ada wasit. Biasanya pemain sendiri yang ngaku kalau salah injak. Jadi ngelatih jujur sama diri sendiri. Keenam, Kebersamaan Yaitu Bisa dimainin rame-rame dengan antre giliran. Ngelatih sabar nunggu dan menghargai teman.

Cara melestarikan Lompat Tali dan Sikoci di era digital: Pertama, Integrasi ke kegiatan sekolah & ekstrakurikuler yaitu Masukin permainan tradisional ke jam olahraga atau kegiatan ekstrakurikuler. Guru bisa bikin lomba antarkelas biar anak merasa tertantang dan seru. Kedua, Buat versi digital yang edukatif yaitu Bikin konten video tutorial, TikTok, atau game sederhana di HP yang meniru cara main lompat tali dan sikoci. Tujuannya biar anak digital native tetap kenal, lalu diajak main versi aslinya. Ketiga, Libatkan komunitas & orang tua yaitu Adakan festival permainan tradisional di nagari/kelurahan. Ajak orang tua yang dulu pernah main buat jadi pelatih atau juri. Anak jadi merasa permainan ini punya nilai dan nggak kuno. Keempat, Dokumentasi & publikasi yaitu Rekam cara main, nilai moral, dan cerita di balik permainan. Upload ke media sosial, YouTube, atau arsip digital daerah. Ini biar nggak hilang dan bisa diakses generasi berikutnya. Kelima, Jadikan bagian dari event budaya yaitu Masukin lompat tali dan sikoci ke acara HUT RI, festival budaya, atau kegiatan pariwisata. Anak-anak jadi bangga karena permainan daerahnya ditampilkan di publik.

Perkembangan teknologi yang pesat membuat permainan tradisional Indonesia tergeser oleh permainan modern berbasis gadget. Padahal, permainan tradisional seperti Lompat Tali (Kajai) dan Sikoci kaya akan nilai budaya dan kearifan lokal yang penting untuk perkembangan motorik, kognitif, dan sosial anak.

Permainan-permainan ini mengandung banyak nilai moral, seperti sportivitas, kerja sama, disiplin, sabar, kejujuran, dan keberanian. Sayangnya, anak-anak sekarang lebih memilih game digital dan banyak yang tidak lagi mengenal permainan tradisional.


Wartawan : Fathiyatul Jannah
Editor : melatisan

Tag :Permainan, Tradisional, Anak Nagari

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com