HOME OPINI DIDAKTIKA

  • Kamis, 16 Juni 2022
Pendidikan Berpusat Pada Siswa Dan Efikasi Diri Guru Bahasa Indonesia: Kasus Model Project-Based Learning
Opini didaktika Desi

Pendidikan Berpusat pada Siswa dan Efikasi Diri Guru Bahasa Indonesia:

Kasus Model Project-Based Learning

 

Oleh: Desi Sukenti*

Efiskasi diri sangat penting bagi guru saat ini di tengah perkembangan teknologi dunia. Efikasi diri guru merupakan sebagai keyakinan guru dalam diri mereka sendiri kemampuan untuk menjadi guru yang efektif (Panadero, Jonsson, and Botella, 2017; Marsh, Herbert W., et al. 2019), telah ditemukan terkait dengan berbagai karakteristik dan perilaku guru (Barni, Daniela, and Benevene. 2019). Secara khusus, efikasi diri guru menentukan sikap dan pendekatan yang berkaitan dengan praktik instruksional (Rafiola, Ryan, et al. 2020; Y?ld?r?m, and Güler, 2020; Haerazi, and Irawan, 2020).

Namun, sebagian besar studi meneliti hubungan antara efikasi diri guru dan praktik pembelajaran telah mengandalkan pada data cross-sectional (Barni, Danioni, and Benevene, 2019; Bender, and Ingram, 2018; Malinauskas, 2017). Ini berarti bahwa data yang digunakan untuk analisis dapat memungkinkan untuk perbandingan di seluruh responden, tetapi tidak dapat menjelaskan perubahan dari waktu ke waktu, sangat membatasi kemampuan empiris untuk mengidentifikasi kausalitas. Selanjutnya, diskusi teoritis tentang efikasi diri guru menyiratkan bahwa ada hubungan timbal balik atau siklus dengan pengalaman ruang kelas (Rafiola, Ryan, et al. 2020; Talsma, Kate, et al. 2018; Shin, 2018; Müller and Seufert, 2018). Dengan demikian, efikasi diri guru itu sendiri mungkin merupakan hasil yang dipengaruhi oleh perubahan dalam praktik instruksional. Penelitian lainnya mengungkap efikasi diri menyiratkan pada proses pengembangan diri dengan profesionalisme dalam pembelajaran di madrasah (Alhadabi, and Karpinski, 2020; Perera, Calkins, and Part, 2019; Schöber, et al. 2018; Wu, et al. 2019).

Berbagai penelitian tersebut menggambarkan bahwa efikasi diri lebih diteliti secara psikologis dalam proses pembelajaran, namun belum mengungkap penguatan project-based learning dalam pembelajaran guru. Tulisan ini menawarkan efikasi diri bagi guru bahasa Indonesia di tengah pandemi yang masih mengintai. Maka, untuk mengeksplorasi secara empiris hubungan antara efikasi diri guru bahasa Indonesia dan praktik instruksional pembelajaran bahasa, tulisan ini menggunakan data dari intervensi program project-based learning (PBL). Maka, fokus tulisan ini adalah mengeksplorasi: bagaimana penggunaan PBL mempengaruhi efikasi diri guru pada pembelajaran bahasa Indonesia?

PBL dan Efikasi Diri Guru Bahasa Indonesia

Bukan hanya sebuah produk atau sejumlah pengalaman, kunci untuk perubahan dalam efikasi diri adalah bagaimana peristiwa diproses secara kognitif oleh individu (Panadero, Jonsson, and Botella, 2017). Ketika guru menafsirkan pengalaman mengajar menjadi pendidikan yang sukses, rasa self-efficacy mereka dapat meningkat, sementara persepsi kegagalan dapat menguranginya. Karena itu, efikasi diri guru dapat berubah dalam menanggapi perubahan dalam pengalaman kelas. Pergeseran dari metode pengajaran tradisional ke PBL mencakup perubahan dalam pendekatan fundamental untuk pembelajaran dari yang berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa. Sebagai demikian, penerapan PBL dapat mengubah kelas secara signifikan pengalaman baik guru maupun siswa. Itu bisa mengubah cara guru mengajar, bagaimana siswa belajar, dan bagaimana guru dan siswa berinteraksi, yang dapat mempengaruhi bagaimana guru memandang efektivitas mereka sebagai guru.

Secara khusus, PBL dapat mengubah cara siswa menanggapi hal-hal umum proses pembelajaran. Pendekatan yang berpusat pada peserta didik seperti PBL dapat menghasilkan minat siswa yang lebih tinggi dengan menawarkan pandangan yang diperluas tentang bidang studi, kegiatan yang dapat disesuaikan dengan berbagai jenis peserta didik, kesempatan untuk bekerja dengan orang lain, dan peran yang lebih aktif dalam proses pembelajaran secara keseluruhan (Chaijum, and Hiranyachattada, 2020; Akharraz, 2021). Ketika guru mengamati siswa menjadi lebih terlibat dan responsif terhadap materi yang dipelajari, ini dapat meningkatkan sejauh mana guru memahami instruksi mereka untuk menjadi sukses (Guo, et al. 2021). Juga, melalui interaksi guru-siswa yang lebih komunal, PBL dapat meningkatkan kepercayaan dan kerjasama antara siswa dan guru (Owens, and Hite. 2020; Hussein, 2021), yang telah terbukti menyebabkan perilaku positif dan hasil akademik (Akharraz, 2021). Secara bersama-sama, tanggapan positif pada siswa yang diinduksi oleh PBL dapat secara positif mempengaruhi persepsi guru tentang kemampuan mereka sebagai guru, dan memungkinkan mereka untuk meningkatkan efikasi diri.

Selain itu, tidak seperti instruksi berbasis kuliah, dalam PBL, guru mengamati secara terus-menerus bagaimana siswa belajar dan merespons secara langsung setiap kebutuhan siswa yang muncul. Artinya, selain memberikan informasi dan pengetahuan, guru juga secara langsung membimbing dan mengawasi siswa selama proses pembelajaran (Akharraz, 2021). Siswa juga diminta untuk merefleksikan apa yang telah mereka pelajari di kelas, baik secara verbal atau dalam bentuk tertulis, yang memungkinkan guru untuk menilai secara instan bagaimana siswa belajar. Keterlibatan yang meningkat dalam proses belajar dan menerima informasi instan tentang seberapa baik belajar siswa dapat meningkatkan efikasi diri guru dengan cara memberikan konfirmasi langsung tentang seberapa efektif mereka sebagai guru (Ljung-Djärf, Agneta, and Peterson., 2014). Kekayaan bukti empiris tentang efikasi diri guru mengungkapkan bahwa konstruk sangat terkait dengan berbagai aspek pendidikan, termasuk praktik pembelajaran. Namun, memperlakukan efikasi diri guru bahasa Indonesia hanya sebagai penentu hasil pendidikan dan proses memiliki keterbatasan baik dari teoritis maupun praktis perspektif. Maka, efikasi guru menjadi hal krusial dikembangkan melalui proses PBL yang mumpuni dalam profesi keguruan bahasa Indonesia.

Sebuah riset menunjukkan estimasi diperoleh dengan menggunakan desain perbedaan-dalam-perbedaan dan pendekatan variabel instrumental menemukan bahwa program PBL memiliki efek positif pada efikasi diri guru bahasa Indonesia. Juga, analisis data siswa menggunakan desain perbedaan-dalam-perbedaan menemukan bahwa program PBL secara positif mempengaruhi persepsi siswa tentang tingkat upaya diberikan guru untuk memancing minat. Estimasi menggunakan pendekatan variabel instrumental pada subset sekolah dengan yang terkuat peningkatan penggunaan PBL menemukan bahwa PBL berhubungan positif dengan persepsi guru madrasah tentang persiapan kelas, upaya menginduksi minat guru bahasa Indonesia, dan  frekuensi siswa berbagi ide dalam kelas. Asosiasi positif  ditemukan antara PBL dan efikasi diri guru bahasa Indonesia menunjukkan bahwa praktik pembelajaran tidak hanya hasil efikasi diri guru, seperti yang umumnya dirasakan, tetapi dapat juga menyebabkan perubahan efikasi diri guru bahasa Indonesia. Sebagian besar didasarkan pada analisis menggunakan data cross-sectional, cenderung memperlakukan efikasi diri guru hanya sebagai penentu pendekatan metode pembelajaran (Suprayogi, Valcke, and Godwin, 2017). Studi ini memberikan bukti empiris untuk pemahaman alternatif; bisa juga untuk praktik pembelajaran untuk mempengaruhi efikasi diri guru bahasa Indonesia. Tulisan ini memperkenalkan praktik pengajaran sebagai faktor mediasi yang mempengaruhi efikasi diri guru bahasa Indonesia, kontribusi terhadap literatur yang berusaha memahami pengembangan efikasi diri guru.

Sumber utama pengembangan efikasi diri guru bahasa Indonesia berakar pada teori kognitif sosial, ada kemungkinan bahwa pengalaman penguasaan memainkan peran utama dalam meningkatkan efikasi diri guru. Penguasaan pengalaman terjadi ketika guru memandang kinerja mereka sebagai guru bahasa Indonesia untuk menjadi sukses. Ada kemungkinan bahwa PBL mengarah ke lebih positif pengalaman pendidikan di kalangan siswa, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan efikasi diri guru bahasa Indonesia (Owens, and Hite. 2020; Untari, et al. 2020; Hussein, 2021). Pada sisi siswa, peningkatan terbesar dalam PBL, ditunjukkan untuk memiliki perubahan positif dan signifikan secara statistik dalam cara mereka merasakan upaya guru mereka untuk memancing minat dan kelas persiapan, dan juga meningkatkan frekuensi mereka berbagi ide dengan siswa lain di kelas. Siswa memiliki lebih banyak persepsi positif guru mereka di kelas, jika disampaikan kepada guru, dapat berkontribusi pada guru yang memahami pengajaran mereka sendiri menjadi efektif. Juga, berbagi ide di kelas kemungkinan terkait dengan keterlibatan dalam materi pengajaran. Persepsi positif guru bahasa Indonesia dan lebih banyak keterlibatan di kelas melalui berbagi ide cenderung mengarah pada pengalaman penguasaan yang meningkatkan efikasi diri guru.

Program PBL memiliki efek positif pada efikasi diri guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Program PBL secara positif mempengaruhi persepsi siswa tentang tingkat upaya diberikan guru untuk memancing minat. PBL berhubungan positif dengan persepsi guru tentang persiapan kelas, upaya menginduksi minat guru, dan frekuensi siswa berbagi ide dalam kelas. Tulisan ini memberikan bukti empiris untuk pemahaman alternatif; bisa juga untuk praktik pembelajaran untuk mempengaruhi efikasi diri guru bahasa Indonesia dalam pembelajaran bahasa. Wallahu a’lam.

*Mahasiswa Ilmu Keguruan Bahasa (IKB), Universitas Negeri Padang, Indonesia

 


Tag :#Opini #Didaktika #Desi Sukenti