HOME SOSIAL BUDAYA KABUPATEN SOLOK

  • Senin, 12 Oktober 2026

Pemulihan Arosuka Tak Cukup Dengan Alat Berat, IJP Hadir Menguatkan Korban Galodo

Suasana penyerahan bantuan dari Indo Jalito Peduli
Suasana penyerahan bantuan dari Indo Jalito Peduli

Pemulihan Arosuka Tak Cukup dengan Alat Berat, IJP Hadir Menguatkan Korban Galodo

Arosuka (Minangsatu) -  Puluhan alat berat bisa dikerahkan untuk membersihkan material galodo. Sungai yang dipenuhi endapan pun dapat dinormalisasi. Namun, membangun kembali kehidupan warga yang porak-poranda akibat bencana membutuhkan sesuatu yang tak bisa dihadirkan mesin: kepedulian dan uluran tangan sesama.

Di tengah perjuangan warga menata kembali kehidupan setelah banjir bandang menerjang Arosuka, Kabupaten Solok, Indo Jalito Peduli (IJP), organisasi perempuan perantau Minang, datang membawa bantuan sekaligus menyampaikan pesan bahwa mereka tidak menghadapi musibah itu sendirian.

Senin (12/10/2026), rombongan yang dipimpin Ketua IJP Astri Asghani, bersama Emma Yohana dan Devi Femiyanti, mendatangi warga terdampak. Kehadiran belasan pengurus organisasi tersebut bukan sekadar menyerahkan bantuan, melainkan juga menghadirkan dukungan moral bagi masyarakat yang masih berjuang melewati masa sulit.

Rombongan disambut Wakil Bupati Solok, H. Candra, di Masjid Raya Kayu Aro. Kunjungan itu berlangsung pada hari terakhir masa tanggap darurat tahap kedua, ketika pemerintah daerah bersama berbagai unsur masih berjibaku membersihkan sisa material galodo dan menyiapkan langkah pemulihan pascabencana.

“Sebagai bentuk kecintaan kepada saudara kita di kampung, kami datang menjenguk sembari mengantarkan bantuan yang diperlukan,” ujar Astri di hadapan warga terdampak.

Bagi warga yang masih berhadapan dengan dampak bencana, perhatian seperti itu menjadi penguat. Sebab, setelah air bah surut dan material mulai dibersihkan, perjuangan untuk memulihkan kehidupan sehari-hari masih panjang.


Kerugian Rp511 Miliar, Pemulihan Belum Usai


Galodo yang menerjang kawasan Arosuka pada 21 September 2026 meninggalkan kerusakan besar. Dua warga meninggal dunia, 84 rumah terdampak, dan 12 gedung perkantoran dilanda material banjir bandang.

Wakil Bupati Solok, H. Candra, menjelaskan, kerusakan rumah warga bervariasi, mulai dari kategori ringan hingga berat. Sementara itu, enam dari 12 gedung perkantoran yang terdampak mengalami kerusakan berat.

“Dua orang warga meninggal karena banjir bandang. Sebanyak 84 rumah terdampak galodo, mulai dari rusak berat, sedang, hingga rusak ringan. Kemudian, 12 gedung kantor juga dilanda galodo, enam di antaranya rusak berat,” kata Candra.

Total kerugian akibat bencana tersebut diperkirakan mencapai Rp512 miliar.

Besarnya kerugian itu menggambarkan betapa berat pekerjaan yang menanti Kabupaten Solok. Berakhirnya masa tanggap darurat bukan berarti persoalan selesai. Pembersihan material, penanganan bangunan yang rusak, pemulihan kehidupan masyarakat, hingga upaya mengurangi risiko bencana susulan masih membutuhkan perhatian dan kerja bersama.

21 Alat Berat Dikerahkan, Tiga Sabo Dam Dibutuhkan


Pemerintah Kabupaten Solok bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, dan unsur terkait terus melakukan penanganan di kawasan terdampak. Sebanyak 21 unit alat berat dikerahkan untuk membersihkan material galodo sekaligus mendukung normalisasi sungai di sisi kompleks Kantor Bupati Solok.

Namun, membersihkan sisa bencana baru menjadi salah satu bagian dari pekerjaan besar tersebut. Upaya mitigasi juga diperlukan agar risiko kejadian serupa dapat ditekan.

Candra menyebutkan, Kabupaten Solok membutuhkan pembangunan tiga unit sabo dam untuk membantu mengendalikan material sedimen yang terbawa aliran sungai. Infrastruktur itu direncanakan dibangun di bagian hulu, tengah, dan bawah aliran sungai.

“Kita membutuhkan pembangunan tiga unit sabo dam untuk mengantisipasi bencana serupa. Sabo dam direncanakan dibangun di bagian hulu, tengah, dan bawah aliran sungai,” ungkapnya.

Kebutuhan tersebut menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan mengangkat material yang menimbun kawasan terdampak. Pembangunan infrastruktur pengendali sedimen dan langkah mitigasi harus menjadi bagian dari upaya melindungi masyarakat ke depan.

Di tengah kebutuhan pemulihan yang besar, dukungan berbagai pihak tetap dibutuhkan, baik untuk membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun mendukung pemulihan daerah.

Seperempat Abad Bergerak, IJP Tak Melupakan Kampung Halaman
Kepedulian terhadap korban galodo Arosuka bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri bagi Indo Jalito Peduli. Menurut Astri Asghani, kegiatan sosial dan kemanusiaan telah menjadi bagian dari perjalanan organisasi perempuan perantau Minang tersebut.

Astri, putri mantan Bupati Solok era 1960-an, Ashghani Marah Sutan, mengatakan IJP secara rutin menggelar kegiatan sosial di berbagai wilayah Sumatera Barat.

“Sekurangnya tiga kali setahun IJP melakukan aksi sosial di seluruh wilayah Sumbar. Kita selain mengantarkan bantuan, juga menyantuni anak yatim dan bedah rumah warga kurang mampu,” tuturnya.

Selama sekitar 25 tahun mengurus IJP, Astri menyebut kepedulian terhadap masyarakat di kampung halaman tetap menjadi bagian penting dari gerakan organisasi tersebut.

Bagi para perantau, kampung halaman bukan sekadar tempat asal. Ada ikatan emosional dan tanggung jawab sosial yang tetap terjaga, termasuk ketika masyarakat di ranah menghadapi musibah.

Kehadiran IJP di Arosuka menjadi salah satu wujud ikatan itu. Jarak tidak menjadi penghalang untuk datang, berbagi, dan membantu saudara sekampung yang sedang menghadapi kesulitan.

“Ternyata Kami Tidak Sendiri”

Bantuan IJP disalurkan langsung kepada warga terdampak di tiga lokasi berbeda. Bagi para penerima, bantuan tersebut bukan hanya bernilai sebagai dukungan kebutuhan, tetapi juga menjadi tanda bahwa penderitaan mereka mendapat perhatian.

Seorang ibu penerima bantuan mengungkapkan rasa haru dan syukurnya atas kepedulian yang datang dari berbagai pihak.

“Kami takjub dan bersyukur, banyak yang peduli terhadap musibah yang kami alami. Terima kasih IJP, ternyata kami tidak sendiri menghadapi bencana ini,” ujarnya.

Kalimat sederhana itu menyimpan makna yang lebih dalam dari sekadar ucapan terima kasih. Di tengah rumah yang rusak, fasilitas yang terdampak, dan kehidupan yang belum sepenuhnya pulih, kehadiran orang-orang yang peduli menjadi pengingat bahwa mereka masih memiliki sandaran.

Wakil Bupati Solok, H. Candra, turut menyampaikan apresiasi atas kepedulian IJP dan berbagai pihak yang membantu penanganan bencana di daerahnya.

Di Arosuka, pekerjaan besar masih menanti. Material galodo harus dibersihkan, sungai perlu dinormalisasi, bangunan terdampak membutuhkan penanganan, dan infrastruktur mitigasi harus diperjuangkan.

Namun, pemulihan bukan semata-mata tentang berapa banyak alat berat yang bekerja atau seberapa cepat sungai kembali normal. Pemulihan juga menyangkut bagaimana warga menemukan kembali kekuatan untuk melanjutkan hidup.

Melalui kunjungan dan bantuan yang disalurkan, IJP membawa pesan sederhana bagi masyarakat terdampak: di tengah beratnya musibah, masih ada tangan-tangan yang terulur.

Sebab, ketika bencana meruntuhkan banyak hal, kepedulian dan gotong royong dapat menjadi salah satu kekuatan untuk membangun kembali harapan. 


Wartawan : Melatisan
Editor : melatisan

Tag : Pemulihan Arosuka, Tak Cukup, dengan Alat Berat, IJP Hadir Menguatkan, Korban Galodo

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com