HOME OPINI OPINI

  • Kamis, 22 Januari 2026

Pasan Buruang Dan Alam Yang Luka: Renungan Ekokritik Di Tengah Bencana Sumatera

Penulis: Arif Rahman Hakim
Penulis: Arif Rahman Hakim

Pasan Buruang dan Alam yang luka: Renungan Ekokritik di Tengah Bencana Sumatera

Oleh: Arif Rahman Hakim

November 2025 menjadi catatan kelam bagi Sumatera. Dari ujung Aceh hingga ranah Minang, alam seolah sedang menagih janji yang lama terabaikan. Berdasarkan data terbaru BNPB per 21 Januari 2026, lebih dari 1.200 nyawa telah melayang akibat rentetan banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. 

Di tengah duka ini, sebuah lagu klasik Minang karya maestro Nuskan Syarif berjudul "Pasan Buruang" (Pesan Burung) kembali terdengar, bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai peringatan puitis yang menyayat hati.

Dilihat dari kacamata ekokritik sastra, kajian yang membahas hubungan karya sastra dengan lingkungan, lagu “Pasan Buruang”  yang di populerkan oleh beberapa penyanyi minang sampai saat sekarang ini, salah satunya penyanyi legendaris Tiar Ramon pada tahun 80-an, bisa dibaca sebagai suara alam yang sedang berbicara. 

Nuskan Syarif pada lagu ini tidak menempatkan manusia sebagai tokoh utama, melainkan menghadirkan burung sebagai penyampai pesan. Pilihan ini terasa penting, karena burung digambarkan sebagai makhluk yang hidup paling dekat dengan hutan dan langsung merasakan dampak ketika alam mulai rusak. 

Dalam lagu ini, burung seolah menjadi penjaga keseimbangan alam sekaligus pengingat atas keserakahan manusia. Lirik-liriknya menyampaikan pesan yang jelas tentang pentingnya menjaga hutan, bukan sekadar sebagai nasihat moral, tetapi sebagai peringatan nyata. Kerusakan hutan di hulu, seperti yang disuarakan dalam lagu ini, tidak akan berhenti di sana, dampaknya akan mengalir ke hilir dan kembali menghantam kehidupan manusia dalam bentuk bencana dan krisis lingkungan. 

Dengan cara yang sederhana namun tajam, “Pasan Buruang” mengajak pendengarnya untuk kembali berpikir tentang hubungan manusia dengan alam di sekitarnya.

Terlihat pada bencana Sumatera: Realita dari “Pasan” yang Terabaikan, kondisi Sumatera pada awal 2026 seolah mengonfirmasi peringatan yang sejak lama disuarakan dalam lagu “Pasan Buruang”. 

Banjir bandang yang menerjang kawasan Maninjau dan Malalak, serta beberapa daerah di Kabupaten Agam, dan beberapa wilayah di Kota Padang  pada akhir November 2025, lalu disusul longsor, menunjukkan bahwa alam tidak lagi mampu menanggung beban kerusakan yang terus dibiarkan. 

Rentetan bencana ini bukan sekadar peristiwa alam biasa, melainkan akumulasi dari tekanan panjang yang terjadi di wilayah hulu. Sejumlah ahli lingkungan dan aktivis menilai adanya “jejak oligarki” di kawasan hutan dan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai salah satu faktor utama yang memperparah bencana hidrometeorologi ini mulai dari alih fungsi lahan hingga eksploitasi sumber daya yang mengabaikan daya dukung lingkungan.

Situasi tersebut sejatinya bertolak belakang dengan falsafah hidup orang Minangkabau yang sejak dulu menekankan sikap waspada dan pencegahan. Pepatah “Maminteh sabalun anyuik, malantai sabalun luluih” mengajarkan agar manusia bertindak sebelum terlambat, membaca tanda-tanda alam sebelum datang petaka. 

Namun dalam praktiknya, kearifan itu kerap hanya menjadi slogan. Kesadaran baru muncul ketika galodo sudah menyapu pemukiman, ladang rusak, dan nyawa melayang. Pada titik inilah, pesan peringatan dalam lagu tersebut terasa semakin relevan: alam tidak pernah tiba-tiba murka, manusialah yang terlalu lama menutup mata.

Lagu “Pasan Buruang” pada dasarnya mengajarkan satu prinsip penting dalam falsafah Minangkabau: Alam Takambang Jadi Guru, alam yang terbentang adalah sumber pembelajaran. Ketika hutan dirawat, alam berbicara lewat kicau burung dan kesejukan udara. 

Namun saat hutan dieksploitasi tanpa kendali, “pesan” yang disampaikan alam berubah wujud. Ia tak lagi hadir sebagai nyanyian merdu, melainkan sebagai gemuruh air bah, longsor, dan material lumpur yang menghancurkan pemukiman serta memutus kehidupan warga. 

Dalam konteks ini, burung dalam lagu tersebut seakan menjadi simbol peringatan dini yang diabaikan terlalu lama, hingga alam akhirnya berbicara dengan cara yang paling keras.

Hingga kini, pemerintah masih mengandalkan Operasi Modifikasi Cuaca sebagai upaya meredam curah hujan ekstrem di Sumatera Barat dan wilayah sekitarnya. Langkah ini tentu penting dalam situasi darurat, tetapi pada dasarnya hanya bersifat sementara. 

Ia meredam gejala, bukan menyentuh akar persoalan. Padahal, jika menelisik lebih dalam lirik-lirik Nuskan Syarif, solusi yang ditawarkan justru sangat mendasar dan berjangka panjang: mengembalikan fungsi hutan, menjaga wilayah hulu, dan menghormati keseimbangan ekosistem. 

Lagu ini seolah mengingatkan bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu menandingi kebijaksanaan alam, jika manusia terus mengabaikan batas-batas yang seharusnya dijaga.

Mendengarkan “Pasan Buruang” di tengah suasana pengungsian yang masih dipadati ratusan ribu warga Sumatera menghadirkan ironi yang begitu getir. 

Lagu ini tidak lagi terdengar sebagai hiburan, melainkan sebagai cermin yang memantulkan kelalaian kita sendiri. Ia menantang kesadaran bersama: apakah kita akan terus membiarkan burung pembawa pesan itu kehilangan rumahnya satu per satu, atau mulai benar-benar mendengarkan suaranya sebelum peringatan alam berubah menjadi duka yang jauh lebih dalam? 

Di tengah tenda-tenda darurat dan cerita kehilangan, lagu ini seolah bertanya dengan nada lirih namun tegas, berapa kali lagi alam harus berbicara agar manusia mau belajar?

Bencana Sumatera semestinya menjadi titik balik, bukan sekadar catatan kelam yang perlahan dilupakan. Ia adalah momen untuk menata ulang cara kita memandang alam: bukan sebagai objek yang bisa dieksploitasi tanpa batas, melainkan sebagai ruang hidup yang harus dihormati dan dijaga. 

Seperti pesan abadi dalam alunan musik Nuskan Syarif, mencintai alam bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Sebab jika pesan itu terus diabaikan, yang tersisa bukan lagi nyanyian, melainkan sunyi panjang yang ditinggalkan oleh kerusakan dan penyesalan

(Mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas)


Tag :Opini, Artikel, Pasan Buruang, Bencana

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com