HOME OPINI DIDAKTIKA

  • Sabtu, 18 Juni 2022
Menjadi Profesional
Hendry Ch Bangun, Wartawan Senior.

Menjadi Profesional

Catatan Hendry Ch Bangun
 

Menjadi atlet professional itu tidak mudah. Tetapi kita beruntung masih bisa menyaksikannya, untuk memetik pelajaran dari mereka. Mereka bukan hanya pekerja keras, tapi pekerja cerdas. Bukan hanya tekun, tetapi egois dalam mencapai targetnya. Dia melakukan persiapan sebaik mungkin agar berhasil. Dan tidak mau gagal, tidak ada sebersit kata menyerah dalam kamus mereka. Walau kadang, sebesar apapun upayanya, nasib bisa tidak sejalan dengan usaha.

Saya terkagum-kagum dengan Rafael Nadal, yang merebut trofi grandslam Perancis Terbuka ke-14nya, tanggal 5 Juni lalu di Rolland Garros. Melengkapi 2 gelar Wimbledon, 4 gelar AS Terbuka, dan 2 Australia Terbuka. Padahal Maret lalu dia dikira sudah habis karena kalah dan agak cedera. Dan usianya sudah 36 tahun, relatif “tua” untuk ukuran atlet di jalur cepat. Tapi dia mampu merawat cedera, memulihkan stamina, dan bersiap sebaik-baiknya. Dan menang, 6-3,6-3, 6-0, atas Casper Ruud, yang berusia 12 tahun lebih muda! Dia menjadi peraih grandslam terbanyak dalam sejarah, mengalahkan dua pesaingnya Roger Federer dan Novak Djokovic.

Etos petenis profesional memang terkenal. Saya beruntung pernah meliput AS Terbuka dan Australia Terbuka dan melihat bagaimana kiprah mereka. Lapangan latihan sebelum atau setelah bermain tidak pernah sepi, penuh dengan pemain. Steffi Graf, bisa berlatih 2 jam sehabis bertanding, seperti tidak ada lelahnya. Dituntun pelatihnya, dia memulihkan tenaga, memperbaiki kekurangan. Graf menjadi satu-satunya petenis yang meraih Golden Slam, yakni meraih medali emas Olimpiade Seoul 1988 sekaligus grandslam di Australia Terbuka, Perancis Terbuka, Wimbledon, dan AS Terbuka pada tahun yang sama.

Soal latihan ini, Ardy B Wiranata dianggap sebagai pemain bulutangkis Indonesia yang berlatih paling spartan. Sebelum latihan resmi dia sudah memulainya sendiri sekitar satu jam, sehingga ketika masuk sesi resmi, dia “masuk” dengan cepat sementara temannya masih melakukan pemanasan. Maka ketika bertanding, staminanya selalu paling baik. Tidak pernah kelihatan habis tenaga. Tidak ada capeknya. Di masa jayanya, begitu pula Susi Susanti. Dan tentu saja kita mengingat bagaimana Rudy Hartono bekerja keras luar biasa untuk dapat menjadi juara All England sebanyak 8 kali, prestasi yang tidak pernah dicapai siapapun.

Tentu saja di masa keemasan bulutangkis Indonesia, sudah ada pemain malas yang berlatih pas-pasan, dan kurang professional dalam arti tidak menghargai statusnya sebagai pemain yang latihannya ditanggung asosiasi atau negara. "Proses tidak pernah membohongi hasil" mereka yang bersiap lebih baik umumnya memberikan hasil lebih baik. Walau tadi, kalau kemampuan sudah setara, kadang ada momen penentu yang menempatkan seorang menjadi juara dan seorang harus puas sebagai runner-up. Itulah yang mungkin menggambarkan kemenangan Alan Budikusuma atas Ardy B Wiranata di final Olimpiade Barcelona.

***

Di televisi kita menyaksikan bagaimanan pemain-pemain dengan gaji milyaran rupiah per minggu, tetap ikut latihan rutin di lapangan klub sepakbolanya. Latihan dribble, menembak ke gawang, sampai simulasi tanding diikuti serius. Bukan hanya karena mereka adalah bagian satu tim, tetapi tanggungjawab pribadi agar terus mengasah ketrampilan dan menyesuaikan diri dengan taktik pelatihnya.

Pelajaran penting di sini, sebesar apapun Anda, seharum apapun namanya di masyarakat penggemar, di lapangan dia hanyalah seorang pembelajar yang terus memperbaiki diri, agar selalu berhasil dan mencapai hasil tertinggi. Atau dia hanyalah anggota tim yang harus berusaha agar tidak menjadi titik lemah timnya, tetapi justru menjadi “pemenang” untuk mendorong motivasi teman-temannya. Tidak ada istirahat dalam berlatih, kecuali memang cuti atau musim libur yang telah ditetapkan.Kita pernah mendengar bagaimana David Beckham yang terkenal dengan tendangan pisangnya, berlatih ratusan kali menendang bola di luar jam latihannya. Itu kemudian menjadi pembeda dia dengan pemain lain baik ketika masih di Manchester United maupun di Real Madrid. Dan masih dikenang penggemar sepakbola meski dia sudah lama menggantung sepatu.

Profesional dikaitkan juga disiplin makan. Harus ada kesadaran diri tentang asupan makanan ke tubuh agar sesuai dengan kebutuhan fisiknya. Bob Hasan almarhum ketika menjabat Ketua Umum PASI sering mengeluh soal ini. ”Di pelatnas disediakan daging, ikan, sayuran, makanan bergizi, malah senangnya makan bakso yang hanya bikin kenyang tapi tidak bergizi,” katanya. Daging jelas menambah stamina dan daya tahan dalam bertanding, harus diasup secara teratur dengan porsi tertentu, tetapi mungkin karena bosan, akhirnya yang disantap apa yang disukai, bukan diperlukan tubuh. Atlet tidak disiplin dengan aturan yang sudah disiapkan soal makanan. Pastilah besar pengaruhnya pada penampilan mereka saat bertanding.

Soal ini saat masih aktif meliput juga menjadi salah satu keprihatinan saya. Beberapa pemain kita pada waktu itu membawa rice cooker kalau ke luar negeri, karena merasa tidak kenyang kalau tidak makan nasi. Tidak pernah lupa juga bawa mie instan sebagai pelengkap, kadang menjadi teman makan, karbo bercampur karbo. Meskipun uang saku cukup, tidak sedikit yang ngirit, tidak mau membeli daging untuk dimasak, atau beli lauk berbahan daging di restoran, untuk menjaga stamina. Beruntung bila ada pemain yang membawa rendang atau dendeng, yang lumayan bergizi.

Jajan di restoran luar? Hanya satu dua yang mau keluar uang. Kecuali ada orang yang traktir. Makan enak biasanya dialami waktu ada welcome party dari panitia atau undangan selamat datang dari kedutaan atau konsulat Indonesia di tempat. Ketika saya meliput keikut-sertaan Yayuk Basuki mengikuti tiga turnamen di Amerika Serikat, yakni di Schenentady, Washington DC, New York, soal gizi ini tidak lagi persoalan bagi petenis. Karena postur olahraganya sudah glamour, pelayanan bagi pemain di hotel, sangat mewah. Apa saja ada. Tidak heran juga karena perputaran uangnya juga besar. Kalah di babak pertama grandslam Wimbledon mendapat hadiah uangnya sudah lebih besar dari juara pertama di All England, jadi memang sulit membandingkan kelas tenis dengan bulutangkis, dalam semua hal.

Gizi termasuk masalah elementer, kalau ini belum selesai, olahraga Indonesia akan sulit maju. Induk organisasi atau pemerintah harus memberi perhatian khusus. Untuk atlet kelas dunia, layanan juga harus kelas dunia. Standarnya tidak boleh dikurangi atas alasan apapun.

***

Satu juga yang menjadi ciri atlet profesional adalah semangat pantang menyerah. Di twitter sampai hari ini masih ada momen-momen kemenangan Real Madrid sampai ke final Piala Champions. Meskipun tertinggal dari lawan-lawannya sampai menit terakhir, mulai dari Paris Saint Germain, Chelsea, dan kemudian Machester City, pemain Real Madrid tidak patah semangat. Mereka terus berjuang, dan ketika waktu hampir habis, mereka membalikkan keadaan dan menang. Mental juara, begitu gelar yang diberikan kepada pemain, karena tidak berhenti berusaha sebelum peluit akhir berbunyi. Kalah atau menang menjadi urusan nomer dua.

Saat masih meliput dan mendapat tugas juga untuk mengambil gambar dengan kamera, saat mengambil close up, saya bisa menyaksikan wajah mana yang tampak bersemangat dan mana wajah yang seperti mau menyerah. Pemain yang melihat lawannya seperti tak bersemangat, menunjukkan kesusahannya di lapangan, akan memberikan tambahan semangat. Sebaliknya kalau terus berwajah garang, pantang menyerah-meski tenaga sudah terkuras habis-justru menakutkan lawan. Wajah itu selalu diperlihatkan Susi Susanti saat bertanding, sehingga saat masuk lapangan saja lawan sudah keder duluan.

Rahasia inilah yang ditunjukkan Zlatan Ibrahimovic, setelah AC Milan menjadi juara Liga Seri A Italia. Berbagai cedera, dan memaksa dia menggunakan penghilang rasa sakit, tidak menyurutkannya untuk bermain menyemangati yuniornya. Dia bahkan mampu mencetak 8 gol meski hanya tampil 27 kali dari seluruh pertandingan, yang dilakoni AC Milan. Sudah berusia 40 tahun, dia dianggap berperan besar membawa AC Milan menjadi juara 2021/2022 setelah puasa gelar juara di tahun 2010/2011. Orang terkejut ketika Ibrahimovic membuka rahasia cederanya yang parah.

Saya tidak tahu apa penyebab pemain bulutangkis Indonesia tidak ada yang masuk ke semifinal turnamen Indonesia Terbuka yang berlangsung di Jakarta minggu ini. Yang pertama dalam 40 tahun, konon. Apakah daya juang? Faktor gizi? Disiplin, tentu para pelatih yang memahaminya. Saya tidak melihat analisa yang kritis di media massa, seperti dilakukan wartawan di tahun 1980-an atau 1990-an. Yang ada hanya liputan pertandingan dan komentar dari pemain, pelatih, atau pengamat yang sekadar melihat dari permukaan.

Wartawan yang profesional harus memahami sisi dalam dan sisi luar dari pemain, pelatnas, dan sistem pelatihan serta lingkungan yang meliputi olahraga dan atlet kelas dunia Indonesia. Hanya dengan begitu dia dapat memberikan evaluasi kritis melalui opini di medianya, media massa atau media sosial miliknya, untuk meningkatkan kualitas olahraga kita. Wartawan olahraga harus mengerti kedudukannya yang unik dibanding di negara lain. Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI adalah salah satu pendiri Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), karena itu dia menjadi anggota KONI, sehingga peran wartawan tidak sekadar meliput, tetapi harus berperan aktif membina olahraga di Tanah Air.

Jangan membiarkan diri larut dalam arus dan mendiamkan kekurangan yang ada. Melalui media massa masing-masing, mari perbanyak kritik dan saran, perbanyak masukan dan usulan solutif, demi kejayaan olahraga Indonesia.

Ciputat 18 Juni 2022


Tag :#Menjadi atlet profesional #Wartawan kritis #Hendry Ch Bangun