HOME OPINI FEATURE

  • Minggu, 27 November 2022
Mengenang Pelukis "Urang Awak" Nashar; Idealisme Dan Karya-karyanya Di Mata Publik Seni
Lukisan karya Nashar “Pura di Bali” cat minyak, 1958.

Mengenang Pelukis "Urang Awak" Nashar;
Idealisme dan karya-karyanya di mata publik seni

Oleh : Muharyadi

 

Pelukis Nashar, lahir di Pariaman, Sumatera Barat, 3 Oktober 1928 tidak bisa dipisahkan begitu saja dari perkembangan seni rupa moderen di tanah air. Karya-karyanya dikenal dengan konsep “tiga non” - tidak banyak dibahas dan dibicarakan. Tetapi justru Nashar sendiri lebih banyak bertutur tentang karya-karya dan sikap konsistennya berkarya melalui tulisan “Surat-surat Malam” diterbitkan Balai Pustaka, Jakarta puluhan tahun silam.

Di tempat ia mangkal, berkarya di Taman Ismail Marzuki dan mengajar di Institut Kesenian Jakarta Nashar dikenal sebagai sosok pelukis ulet, teguh, gigih dan konsisten, pantang menyerah walau fisiknya tak sehat, ia tetap berkarya, berpameran dan berkarya lagi lebih-lebih saat Boom Seni Lukis melanda Indonesia era 1980-an. Nashar memiliki talenta, namun tidak tergiur manisnya kehidupan finansial dengan menjual karya-karyanya kepada para kolektor maupun galeri.

Pelukis urang awak Sumbar, Nashar

Nashar meninggal dunia, 13 April 1994 dalam usia hampir 66 tahun di kediamannya, Jalan Dewi Sartika, Nomor 33, Cawang, Jakarta Timur, karena sakit kambuhan yang dideritanya sejak lama. Karya-karya Nashar yang semula tidak menjadi lirikan para kolektor dan pemilik galeri tiba-tiba menjadi barang buruan dengan harga yang melambung tinggi dan fantastis saat itu.

Semasa hidup pelukis, teman dekat Chairil Anwar ini, dalam banyak komentar saat kepergian Nashar menghadap sang “Khalik” melihat beberapa sisi kesamaan jalan hidup Nashar dengan pelukis besar Van Gogh yang hingga akhir hayatnya hidup dalam kemelaratan.

Malah pendapatnya yang cukup keras menjelang akhir hayatnya soal “pemberian hadiah” kepada seniman, karena menurut Nashar pemberian hadiah dapat mengandung bahaya. Artinya seniman yang bersangkutan bisa jadi “lupa daratan” dan cepat menjadi puas yang dikhawatirkan tidak berkreasi lagi.

Sosok wanita, lukisan Nashar

 

Idealisme Nashar di mata publik
 

Pengalaman empiris perlukis Nashar yang panjang dan berliku saat ia eksis berkarya dengan ulet, jujur dan konsisten dalam berkesenian. Rasanya seniman mana lagi di tanah air yang tidak kenal Nashar semasa hidupnya, lebih-lebih saat ia di Jakarta puluhan tahun lamanya, ia tetap bahagia dengan kemelaratan walau banyak pihak mengkhawatirkannya.

Penulis Satyagraha Hoerip saat melepaskan kepergian Nashar, berujar; “Saya sendiri sebetulnya sudah lama menangis mengenai nasib seniman rasanya saya sudah kehabisan air mata, karena menghargai seniman semasa hidup merupakan kejadian langka”. Kapan lagi hati kita terketuk untuk persoalan memperhatikan seniman, karena bagaimana pun sejalan dengan kemajuan suatu negara maka kehadiran seniman tidak dapat diabaikan begitu saja.

Lukisan Nashar,  Perahu, 46 x 43 cm, Acrylic, 1975 

Secara moral kepergian Nashar tetap saja menjadi kenangan di mata publik seni di tanah air. Satu diantara banyak dari kenangan tersebut ditujukan kepada pelukis Nashar datang dari Bentara Budaya, Jakarta yang sempat meluncurkan buku peringatan 100 hari wafatnya Nashar yang “Irama Gerak Nashar” setebal 78 halaman dan didalamnya berisi banyak komentar dari pekerja seni, pengamat, kritisi seni bahkan teman sejawat almarhum sesama pelukis.

Menurut Agus Dermawan T, pelukis Nashar merupakan figur yang memang diakui menarik perhatian dunia seni rupa Indonesia. Tidak saja dalam karya-karyanya yang masa bodo dan muskil tetapi juga kehidupan ekstrinsik seni lukisnya. Gaya hidup Nashar yang menganut romantisme pelukis bohemian Eropa pertengahan abad 19 seperti Vincent Van Gogh, Paul Gauguin, Camile Pissaro menjadi pemandangan menarik dan unik.

Kemudian pelukis Hardi berpendapat ; "saya merasa tidak setimpal menilai karya-karya Nashar dengan istilah estetik atau tidak, komposisinya jelek atau bagus, garis yang itu seharusnya disini atau disitu, karya yang ini kuat atau lemah. Saya tidak mau mengulang itu lagi menanggapi Nashar,  saya salah menilai karya-karyanya yang saya saksikan Oktober 1987 silam di Dewan Kesenian Jakarta," jelasnya. Malam pembukaan pameran, Hardi berjabat tangan dengan Nashar. "Saat menatap matanya, tak terasa mata saya sedikit basah," ujar Hardi mengenang masa lalunya.

Jim Supangkat menilai Nashar lebih tajam dan miris. Ia sosok individual dan tidak rasional (bukan pernyataan tidak puas) atau tidak segera bisa dipahami. Yang ada cuma celah kita melihat jejak-jejak keterdesakan. Karena itu masalah sosial pada ekspresi Nashar dinilai Jim Supangkat tidak berpihak karena menunjukkan jejak tanpa arah. Korbannya bukan cuma keseimbangan masyarakkat, tapi juga keseimbangan individual.

Lain halnya pendapat Nyoman Gunarsa. Ia menuturkan ketika Jakarta telah tidur pulas pelukis Nashar tampak memegang bir dan meniup rokok dalam-dalam. Dan secara tenang Nashar tampak mengayunkan kuasnya pada kanvas. Lukisan-lukisan Nashar tampak sepi bahkan naif, karena Nashar ingin mengeluarkan isi hatinya, pendalaman jiwa secara lugu dan tanpa pretensi (istilah Nashar yang sempat diingat Nyoman Gunarsa) bahkan hingga kini.
 

Muharyadi adalah Kurator, Penggiat Seni Rupa dan Jurnalis
 


Tag :#Pelukis urang awak Nashar #Karya nashar #Tim

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News