HOME VIRAL UNIK

  • Selasa, 16 Juni 2026

Melihat Kedewasaan Lelaki Minang: Dari Dinginnya Lantai Surau Hingga Kerasnya Jalan Rantau

Penulis: Sayyid Sufi M
Penulis: Sayyid Sufi M

Melihat Kedewasaan Lelaki Minang: Dari Dinginnya Lantai Surau hingga Kerasnya Jalan Rantau

Oleh: Sayyid Sufi M


Banyak tradisi unik yang mengakar di Sumatera Barat, salah satunya adalah pola didik tradisionalnya. Sistem pendidikan klasik ala nagari ini sering kali membuat masyarakat luar heran, sekaligus kagum dengan cara orang-orang tua zaman dulu melahirkan para pemikir besar sekaligus petarung yang tangguh.
Model pembelajaran di pedalaman Minangkabau sama sekali tidak mirip dengan suasana kelas formal yang kaku. Ini adalah bentuk penempaan mental dan fisik total yang menguras peluh.

Di bawah tatanan adat yang menganut garis keturunan ibu (matrilineal), remaja laki-laki punya nasib unik. Mereka akan "diusir" secara halus dari rumah kaumnya dan diwajibkan memindahkan alas tidur mereka ke atas hamparan lantai kayu surau kampung.

Menghidupkan Surau: Antara Ayat Suci dan Kuda-Kuda Silek

Untuk melacak kiblat dari sistem pendidikan ini, kita harus kembali ke masa lalu di wilayah Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman. Pada pengujung abad ke-17, Syekh Burhanuddin seorang ulama besar penyebar Islam merombak total fungsi surau. Bangunan kayu yang awalnya hanya menjadi tempat persinggahan musafir, disulap menjadi pusat pengaderan pemuda setingkat desa.

Di atas lantai kayu yang dingin itulah, para pemuda digembleng tanpa ampun oleh guru mengaji dan mamak (paman) mereka. Kegiatan harian mereka terbagi menjadi dua fase:

Selepas Magrib: Duduk bersila merapalkan dan menghafal ayat-ayat suci Al-Qur'an.

Tengah Malam: Beranjak ke halaman untuk melatih kuda-kuda silek (pencak silat tradisional).
Latihan fisik yang berat dan menyakitkan ini sengaja dirancang agar fisik pemuda nagari menjadi liat. Mereka disiapkan untuk menjadi benteng pertahanan, siap pasang badan jika sewaktu-waktu pecah konflik perebutan batas tanah ulayat dengan desa tetangga.

Mengasah Kepekaan Rasa Lewat Sastra Kaba

Pendidikan Minang tidak melulu soal adu otot. Sisi intelektual dan emosional para pemuda juga dipertajam lewat warisan sastra lisan. Di malam-malam yang larut, orang-orang tua akan mengumpulkan anak muda untuk mendengarkan pembacaan kaba (cerita rakyat).

Salah satu karya yang kerap dijadikan rujukan adalah Kaba Angku Kapalo Sitalangwarisan buah karya Darwis Sutan Sinaro. Melalui untaian bait pantun di dalamnya, para pemuda diajak menyelami kedalaman makna konotatif dan bahasa kiasan. Dari sinilah mereka belajar tentang:

Seni berkomunikasi dan tata krama merayu perempuan tanpa merendahkan martabat.
Pemahaman mendalam mengenai batasan hukum adat dan waris.

Siasat memilih kata agar tidak melukai perasaan lawan bicara saat berunding di balai adat.

Metode membedah cerita lisan ini membuktikan bahwa lelaki Minang dituntut untuk tidak hanya lihai mematahkan serangan musuh, tetapi juga harus jago bersilat lidah dan memiliki kepekaan rasa yang halus.

Rantau Sebagai Medang Ujian yang Adil

Puncak dari seluruh rangkaian ujian ini terjadi ketika para pemuda diminta mengepak barang mereka untuk meninggalkan kampung halaman. Nyali dan mental mereka dipecut lewat sebuah pepatah ikonik yang sangat tajam:

"Karatau madang diulu, babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun."
Sengatan dari pepatah ini menjadi dorongan moral bagi pemuda untuk mengadu nasib ke wilayah pesisir yang sibuk, salah satunya Kota Padang, terutama saat aktivitas perdagangan di pesisir barat Sumatra sedang meroket pada awal abad ke-19.

Tradisi "membuang" anak lelaki ke jalanan ini menjadi juri yang paling jujur. Hanya mereka yang berani pulang membawa modal materi dan cerita sukses yang akan diakui sah sebagai pria dewasa yang lulus dari ujian kehidupan.

Benturan dengan Sistem Sekolah Modern

Kedudukan surau sebagai satu-satunya poros pendidikan perlahan mulai goyah saat pemerintah kolonial Belanda mulai mencampuri urusan domestik masyarakat adat. Catatan sejarah menunjukkan bahwa sekitar tahun 1907, pemerintah Hindia Belanda mulai membangun Sekolah Desa yang kokoh berbahan semen dan bata di pelosok-pelosok nagari.

Anak-anak lelaki yang terbiasa bersila di surau mulai dialihkan untuk duduk rapi di atas bangku kayu. Mereka diajarkan membaca huruf latin, menulis ejaan, dan berhitung formal. Kehadiran sistem baru ini otomatis mengubah pola interaksi sosial masyarakat. Arena pembuktian kecerdasan yang tadinya berupa adu pantun di malam hari, bergeser menjadi persaingan meraih nilai tertinggi di lembar ujian pada pagi hari.

Mengingat kembali kerasnya cambukan rotan di surau serta tajamnya sindiran dalam bait-bait kaba memperlihatkan betapa seriusnya masyarakat Sumatera Barat dalam menggembleng generasi penerus mereka.

Meskipun hari ini lantai kayu surau banyak yang telah melapuk dan digantikan oleh gedung-gedung sekolah berlabel negeri, esensi dari pendidikan nagari tersebut tidak boleh padam. Sistem klasika ini meninggalkan pesan moral yang jujur: selembar ijazah resmi tidak akan ada harganya jika seseorang gagal hidup mandiri dan tidak mampu menjaga kesantunan lidahnya di hadapan orang banyak.


Wartawan : Sayyid Sufi M
Editor : melatisan

Tag :Melihat Kedewasaan, Lelaki Minang, Dari Dinginnya, Lantai Surau, hingga Kerasnya, Jalan Rantau

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com