HOME VIRAL UNIK

  • Minggu, 4 Oktober 2026

Manuai Padi Di Tanah Datar Menyimpan Pengetahuan Panen Tradisional Minangkabau

Manuai Padi di Tanah Datar Menyimpan Pengetahuan Panen Tradisional Minangkabau

Oleh: Andika Putra Wardana

Manuai padi di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, bukan hanya kegiatan memotong batang padi ketika musim panen tiba. Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, pekerjaan ini juga berkaitan dengan pengetahuan mengolah sawah, penggunaan alat tradisional, serta kebiasaan bekerja bersama yang diwariskan antargenerasi. Di Nagari Tanjung, Kecamatan Sungayang, misalnya, dikenal tradisi mairiak jo manongkang, yaitu cara memisahkan bulir padi dari tangkainya dengan bantuan kaki dan alat pemukul. Sementara itu, masyarakat Nagari Batu Taba, Kecamatan Batipuh Selatan, mengenal baronde, yakni kegiatan memanen padi secara bergiliran di lahan milik warga. Kedua praktik tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan panen di Tanah Datar memiliki cara dan kebiasaan yang berkembang sesuai lingkungan masyarakatnya.

Mairiak dan Manongkang Padi

Tradisi mairiak jo manongkang merupakan salah satu bentuk pengetahuan panen tradisional yang terdokumentasi di Nagari Tanjung, Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar. Dalam praktik mairiak, batang padi yang sudah disabit dikumpulkan di atas alas terpal pada bagian sawah yang disiapkan sebagai tempat perontokan. Bulir padi kemudian dilepaskan dari tangkainya dengan cara diinjak-injak menggunakan kaki. Setelah itu, padi dapat dipukul menggunakan kayu atau arai kelapa untuk membantu melepaskan bulir yang masih menempel. Cara tersebut menunjukkan bahwa proses panen tidak berhenti ketika batang padi dipotong, tetapi berlanjut melalui tahapan yang membutuhkan tenaga dan keterampilan.

Dalam kajian mengenai kearifan lokal pertanian di Kecamatan Lintau Buo Utara yang diterbitkan pada 2022, peneliti Fortuna Adlin, Arifudin, dan Cepriadi juga mencatat manyabik dan mairiak sebagai bagian dari praktik panen padi masyarakat setempat. Manyabik berarti memotong batang padi, sedangkan mairiak merupakan kegiatan merontokkan bulir padi secara manual menggunakan kaki. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa metode mairiak dahulu digunakan sebelum mesin perontok masuk ke wilayah tersebut. Pengetahuan mengenai tahapan kerja itu memperlihatkan bagaimana petani menyesuaikan cara panen dengan alat dan tenaga yang tersedia.

Perbedaan antara mairiak dan manongkang juga penting untuk dipahami. Dalam dokumentasi kegiatan budaya di Nagari Tanjung pada 2024, mairiak dijelaskan sebagai kegiatan merontokkan padi dengan cara menginjak-injaknya, sedangkan manongkang melibatkan pemukulan menggunakan kayu atau arai kelapa. Kedua kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari rangkaian pengolahan hasil panen tradisional. Namun, pelaksanaan dan penyebutan tahapannya dapat berbeda menurut kebiasaan setempat sehingga tidak tepat menganggap seluruh nagari di Tanah Datar menjalankan urutan yang persis sama.

Baronde dan Kerja Bersama Petani

Selain cara merontokkan padi, Kabupaten Tanah Datar juga memiliki kebiasaan bekerja bersama saat panen. Di Nagari Batu Taba, Kecamatan Batipuh Selatan, praktik tersebut dikenal dengan nama baronde. Laporan yang diterbitkan pada Agustus 2020 mencatat bahwa petani memanen padi secara bergiliran di lahan milik warga. Ketika seorang petani membutuhkan tenaga untuk memanen sawahnya, anggota masyarakat lain ikut membantu, kemudian kegiatan serupa dilakukan di lahan petani berikutnya.

Pola baronde membuat pekerjaan panen tidak sepenuhnya bergantung pada tenaga dari keluarga pemilik sawah. Petani dapat saling membantu sesuai giliran sehingga pekerjaan di satu lahan bisa diselesaikan bersama. Menurut keterangan Wali Nagari Batu Taba, Destriyanto Bandaro Bungsu, yang dimuat dalam laporan tersebut, kebiasaan ini telah diwariskan secara turun-temurun dan membantu mempererat hubungan antarmasyarakat yang bekerja sebagai petani. Praktik itu sekaligus dapat mengurangi kebutuhan biaya tenaga kerja karena sebagian pekerjaan dilakukan melalui bantuan bergiliran.

Kebiasaan bekerja bersama juga memiliki hubungan dengan kehidupan sosial nagari. Di Batu Taba, baronde mempertemukan petani yang tidak hanya memiliki kepentingan terhadap hasil panen sendiri, tetapi juga terlibat dalam pekerjaan warga lain. Hubungan semacam ini penting dalam pertanian padi yang membutuhkan tenaga dalam waktu relatif singkat ketika tanaman sudah siap dipanen. Meski begitu, baronde merupakan praktik yang secara khusus terdokumentasi di Batu Taba; keberadaannya tidak berarti seluruh petani di Kabupaten Tanah Datar masih menerapkan pola yang sama.

Pengetahuan Panen di Tengah Perubahan Alat

Perubahan teknologi pertanian turut memengaruhi cara masyarakat Tanah Datar memanen padi. Publikasi Badan Pusat Statistik Kabupaten Tanah Datar berjudul Statistik Alat-Alat Pertanian Kabupaten Tanah Datar 2016 mencatat berbagai kategori alat pertanian, termasuk alat panen, alat perontokan, pembersih gabah, pengering, dan penggilingan padi. Data tersebut memperlihatkan bahwa mekanisasi telah menjadi bagian dari kegiatan pertanian di kabupaten ini. Kehadiran alat modern membuat sejumlah pekerjaan yang sebelumnya dilakukan dengan tenaga manusia dapat dikerjakan melalui mesin.

Perubahan tersebut ikut menjelaskan mengapa praktik mairiak semakin jarang ditemukan dibandingkan pada masa ketika mesin perontok belum digunakan secara luas. Dokumentasi kegiatan Satu Nagari Satu Event di Nagari Tanjung pada 2024 menyebut mairiak sudah tidak banyak ditemukan, meskipun manongkang masih dikenal dalam kegiatan tradisional setempat. Ketika praktik lama mulai jarang dilakukan dalam pekerjaan pertanian sehari-hari, kegiatan budaya yang memperagakan cara panen tradisional dapat menjadi salah satu ruang untuk mengenalkan kembali pengetahuan tersebut kepada generasi muda.

Di Tanah Datar, pengetahuan panen tradisional juga tidak hanya berkaitan dengan teknik memotong dan merontokkan padi. Petani perlu mengetahui waktu panen, menyiapkan tempat untuk mengumpulkan batang padi, serta mengatur pekerjaan agar hasil yang sudah dipotong dapat segera diproses. Pada metode mairiak, misalnya, penyediaan alas dan tempat khusus di tengah sawah menjadi bagian dari persiapan sebelum perontokan dilakukan. Keterampilan seperti ini diperoleh melalui pengalaman bekerja dan pengamatan terhadap petani yang lebih dahulu menguasai pekerjaan tersebut.

Tradisi mairiak jo manongkang di Nagari Tanjung dan baronde di Nagari Batu Taba memperlihatkan dua sisi kehidupan pertanian masyarakat Tanah Datar. Yang pertama berkaitan dengan teknik pengolahan hasil panen secara tradisional, sedangkan yang kedua menonjolkan pola kerja bergiliran antarpemilik sawah. Keduanya tidak harus ditemukan di setiap nagari dengan bentuk yang sama, tetapi memberikan gambaran tentang beragam pengetahuan yang tumbuh dari kehidupan agraris Minangkabau.

Di sejumlah sawah Tanah Datar, panen kini dapat dilakukan dengan bantuan mesin, sementara istilah manyabik, mairiak, dan manongkang tetap menjadi bagian dari ingatan budaya masyarakat. Ketika cara lama diperagakan kembali dalam kegiatan di Nagari Tanjung, yang terlihat bukan hanya proses mengolah padi, melainkan juga keterampilan yang dahulu menjadi bagian dari rutinitas petani. Dari sana, cerita tentang manuai padi dapat terus dikenal sebagai bagian dari sejarah kerja dan kehidupan masyarakat di luhak Tanah Datar.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Manuai Padi, di Tanah Datar, Menyimpan, Pengetahuan Panen, Tradisional, Minangkabau

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com