HOME OPINI FEATURE

  • Selasa, 20 Januari 2026

Mahasiswa KKN Kebencanaan Universitas Andalas Lakukan Pendataan Dampak Banjir Di Kapalo Koto, Padang

Mahasiswa KKN Kebencanaan Universitas Andalas Lakukan Pendataan Dampak Banjir di Kapalo Koto, Padang

Oleh:  Putri Agustiono

Setelah banjir melanda Kota Padang pada 27 November 2025, mahasiswa KKN Non-Reguler Kebencanaan Universitas Andalas (Unand) yang ditempatkan di Kelurahan Kapalo Koto pada tanggal 25 Desember 2025 langsung turun ke lapangan. Mahasiswa melakukan salah satu program utama yang mereka jalankan yaitu pendataan warga yang terdampak banjir, sebagai langkah awal pemulihan sekaligus bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Begitu air mulai surut, tim mahasiswa KKN mendatangi rumah-rumah warga di Kapalo Koto dan Cupak Tangah, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Wilayah ini termasuk daerah yang cukup parah terdampak banjir akibat hujan deras dan meluapnya sungai. Di beberapa titik, ketinggian air bahkan mencapai lutut orang dewasa.

Dari hasil pendataan sementara, tercatat sebanyak 10 kepala keluarga di RT 01 dan RT 04 yang terdampak langsung. Pendataan ini tidak hanya mencakup kondisi rumah warga, tetapi juga usaha kecil milik masyarakat serta fasilitas dasar yang rusak akibat banjir.

Pendataan dilakukan dengan cara sederhana namun menyeluruh. Mahasiswa mendatangi warga satu per satu, melakukan wawancara langsung, serta melihat kondisi rumah dan tempat usaha yang terdampak. Dari situ, tim menggali informasi seputar kerusakan bangunan, kerugian ekonomi, kondisi keluarga, hingga kebutuhan paling mendesak setelah bencana.


Beberapa hal yang dicatat antara lain tinggi genangan air, kerusakan rumah dan peralatan, gangguan air bersih dan MCK, dampak terhadap pekerjaan dan pendidikan anak, kondisi kesehatan anggota keluarga, serta bantuan yang sudah atau belum diterima.

Semua data tersebut kemudian dimasukkan ke dalam formulir digital menggunakan Google Form agar lebih rapi, aman, dan mudah diolah. Cara ini memudahkan tim dalam merekap data sekaligus meminimalkan risiko kehilangan informasi.

Salah satu mahasiswa KKN menjelaskan bahwa pendataan ini menjadi prioritas karena data yang jelas dan akurat sangat dibutuhkan dalam penanganan pasca bencana.

“Kalau datanya tidak jelas, bantuan juga jadi tidak tepat sasaran. Dengan pendataan ini, kondisi warga bisa terlihat lebih nyata dan bisa dijadikan dasar untuk bantuan ke depannya,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa tim KKN bekerja sama dengan RT dan aparat kelurahan agar tidak ada warga terdampak yang terlewat.

“Kami dibantu perangkat setempat yang lebih tahu kondisi warganya, jadi datanya bisa lebih valid,” katanya.

Hasil pendataan menunjukkan bahwa sebagian besar rumah warga mengalami gangguan serius pada fasilitas dasar, terutama air bersih dan MCK. Untuk air bersih: 4 KK tidak memiliki akses air bersih atau sumber air rusak total, 5 KK masih memiliki air, tetapi tidak layak digunakan, dan 1 KK kondisi air sudah kembali normal. Untuk MCK/toilet: 4 KK mengalami kerusakan berat, 4 KK rusak ringan atau tidak layak pakai, dan 2 KK masih berfungsi normal.

Pak Junaidi (56), warga RT 01 RW 02, menceritakan kerusakan yang dialaminya. “Meja-meja hilang, rumah penuh lumpur, kulkas rusak, motor juga rusak. Tonggak depan rumah hanyut, atap depan ikut rusak,” katanya.

Pendataan Rumah yang terdampak Bencana (Sumber: Dokumentasi KKN Kebencanaan Kapalo Koto 7)

Hal serupa dialami Ibu Yusniati (70) yang tinggal bersama 12 anggota keluarga. “Kasur, kain, baju, kulkas, motor, banyak yang rusak. Saya juga jadi tidak bisa berjualan,” tuturnya. Salah satu anggota keluarganya yang merupakan mahasiswi Universitas Andalas mengalami trauma setelah kejadian tersebut.

Selain kerusakan fisik, banjir juga berdampak pada kondisi kesehatan dan mental warga. Dari hasil pendataan, tercatat: 3 KK mengalami sakit atau luka akibat banjir dan 4 KK mengalami trauma atau gangguan psikis.

Pak Sahrial Deferi (47), pedagang pecel ayam dan nasi goreng, mengungkapkan bahwa dampak paling berat justru dirasakan anak-anak. “Pondasi rumah memang sudah kami perbaiki, tapi anak-anak masih sering ketakutan kalau hujan deras,” ujarnya.

Banjir juga berdampak langsung pada penghasilan warga. Banyak kepala keluarga yang bekerja sebagai pedagang, buruh, atau wiraswasta terpaksa berhenti sementara.

Ikhsan Maulana (26), pemilik usaha pecel lele, menutup tokonya selama empat hari. “Selama tutup, tidak ada pemasukan sama sekali. Setelah itu masih harus keluar biaya untuk bersih-bersih dan perbaikan,” katanya.


Amri (42), buruh lepas, mengaku tidak bisa bekerja karena kondisi lingkungan pasca banjir. Sementara Pak Hedri (38), pemilik usaha fotokopi, mengalami kerugian cukup besar karena CPU dan mesin fotokopi rusak terkena air.

Tim KKN juga mendata enam UMKM di Kapalo Koto yang terdampak banjir, dengan total kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Beberapa di antaranya adalah: Kadai Mishael milik Ibu Eka, mengalami kerugian sekitar Rp10 juta dan terpaksa tutup hampir tiga minggu, Nasi Uduk Buk Dewi, mengalami kerusakan kulkas dan operasional terganggu, Ampera Zahra milik Ibu Anita, air masuk setinggi lutut dan peralatan rusak, Dirga Jus, peralatan pendingin rusak dan sempat kehilangan pelanggan, Tahu Sosis Kopong, kulkas dan freezer rusak, dan Toko Sembako Pak Arka, terdampak ringan. Ibu Anita berharap ada bantuan lanjutan.

“Kami sangat butuh bantuan modal supaya usaha bisa jalan lagi,” ujarnya.

Dari 10 KK yang terdata, baru 3 KK yang sudah menerima bantuan sembako. Sisanya masih belum menerima bantuan apapun. Bantuan yang sudah masuk antara lain sembako, kompor, kasur, selimut, dan bantuan pembersihan dari berbagai pihak. Adapun kebutuhan yang paling dibutuhkan warga meliputi: Sembako dan air bersih, Perbaikan rumah dan fasilitas MCK, Modal usaha dan perbaikan alat UMKM, Pendampingan psikologis bagi warga yang trauma.

Hasil pendataan ini kemudian disusun dalam bentuk basis data digital lengkap dengan dokumentasi lapangan. Data tersebut akan digunakan sebagai bahan koordinasi dengan kelurahan, kecamatan, dan pihak terkait lainnya untuk proses pemulihan pasca bencana.

Kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa KKN sekaligus bukti peran aktif perguruan tinggi dalam membantu masyarakat. Harapannya, data yang telah dikumpulkan ini bisa segera ditindaklanjuti agar warga Kapalo Koto dapat bangkit dan kembali beraktivitas seperti semula.

(Mahasiswi KKN Kebencanaan Universitas Andalas Kapalo Koto 7)


Tag :Pendataan, Dampak Bencana, KKN Kebencanaan Unand, Kapalo Koto 7

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com