HOME OPINI OPINI

  • Senin, 4 Juli 2022
Love Hate Relationship : Humas Dan Media Massa Dalam Krisis Tambang Emas Ilegal Negeri Wakanda
Fara Salsabila

Minangsatu - Humas (PR) merupakan bentuk seni berkomunikasi dengan publik untuk membangun saling pengertian, menghindari salah paham dan salah persepsi, serta membangun citra positif organisasi.

Sebagai sebuah profesi, seorang humas memiliki banyak tanggung jawab dalam menginformasikan, mendidik, membujuk, bersimpati dan menciptakan minat publik pada sesuatu atau menciptakan pemahaman, dan menerima situasi. Khusus untuk masalah media relation, banyak praktisi yang menggolongkannya sebagai bagian dari hubungan luar organisasi.

Namun, beberapa praktisi humas melihat media relation sebagai bidang yang terpisah di luar hubungan masyarakat. Itu sebenarnya tidak perlu diperdebatkan.

Toh, esensi media relations adalah bagaimana seorang humas yang menjadi wakil sebuah lembaga untuk berhubungan dengan media ataupun wartawan, harus juga mengetahui bagaimana pola hubungan yang ideal.

Hubungan media massa dengan humas yang terjalin adalah hubungan yang simbiosis mutualis. Saling menguntungkan dan saling memberikan manfaat.

Pada dasarnya, media relation  adalah tentang menciptakan pengetahuan dan pemahaman. Karena di pihak media atau pers, tidak ada yang berhak  mendikte apa yang harus diberitakan oleh media massa, dan segala macam materi jurnalistik tidak boleh memiliki nilai dan manfaat satu arah.

Namun terkadang hal yang terjadi dilapangan justru sebaliknya, Love hate relationship, cinta tapi benci. Istilah yang digambarkan untuk media dan humas yang saling membenci dikarenakan tuduhan menutup-nutupi dan penyampaian berita yang tidak benar. Padahal seharusnya, jurnalis dan PR bekerja dalam suatu ketergantungan untuk saling membantu.

Tetapi hal itu terkadang susah untuk terealisasikan karna konflik kepentingan dan misi yang berbeda, seperti PR yang berpihak penuh pada organisasi dan wartawan yang ingin menggali berita dengan inisiatif jurnalis agar tercipta laporan yang baik.

Sebenarnya hal itu dipicu oleh prasangka skeptis dari kedua belah pihak. Pihak wartawan yang memiliki kecendrungan berfikir bahwa PR memanfaatkan media massa dengan berita yang memihak kepada lembaga tempat ia bekerja sehingga mengganggu mekanisme pers yang normal. PR yang dianggap kurang mampu melayani wartawan dengan menutupi dan menghalangi wartawan untuk memperoleh fakta yang akan ditulis.

Sebaliknya bagi PR, yang menganggap wartawan suka mencari-cari kesalahan atau sisi negative sebuah organisasi dan juga pencari sensasi agar surat kabarnya laris. Hal inilah yang akan menciptakan iklim buruk antara media dan instansi jika kenyataannya mereka memiliki relasi yang saling membenci.

Hal ini dapat dilihat dalam isu salah satu negri sebut saja wakanda. Dengan kekayaan alam melimpah, negri ini masih saja dilanda isu potensial akan krisis karna dugaan kongkalingkong oknum aparat, pemerintah, investor, dan mafia dalam kasus tambang emas ilegal yang mengakibatkan terancamnya 7 sumber air bersih.

Isu ini sempat menjadi krisis saat banyak gerakan penolakan hingga ke pusat dan banyaknya pemberitaan buruk terkait hal ini. Love hate relationship media massa dan humas dapat dilihat dalam kasus ini, begitu banyak media yang mengangkat pemberitaan negatif dan menyerang habis-habisan.

Padahal media dalam manajemen krisis merupakan elemen penting. Selain itu, media juga memiliki cara untuk memanipulasi publik. Ada banyak hal yang harus dipahami seorang PR ketika berhadapan dengan media.

Salah satunya adalah bagaimana humas dapat menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat, menjelaskan apa yang dilakukan untuk mengatasi krisis, tidak mengeluarkan pernyataan “no comment”, dan tidak menerka-nerka atau berspekulasi.

Disinilah peran penting dari kegiatan media relation itu sendiri. Menurut John Vivian (2008), mengatakan bahwa media relations di  bagian humas setidaknya memiliki  tiga tanggung jawab fungsional.

Pertama, hubungan eksternal, bentuk hubungan ini mengoptimalkan komunikasi dengan pihak di luar. Pihak ini kemudian menjadi dasar bagi kekuatan citra instansi di luar. Pemangku kepentingan, khalayak, pemerintah, dan lainnya adalah pihak yang dapat membentuk opini publik tentang instansi.

Kedua, hubungan internal, komunikasi  ini dilakukan untuk menjaga hubungan yang harmonis dan dinamis dengan pihak internal itu sendiri. Seperti karyawan, pemimpin dan lain-lain. Mereka semua adalah orang-orang yang memegang roda gigi dalam proses menjalankan perusahaan.

Ketiga, relasi dengan media, hubungan ini dijalin oleh perusahaan yang berkomunikasi dengan  media massa. Hubungan ini harus didorong agar tidak terjadi miskomunikasi di kemudian hari. Lembaga perlu memiliki hubungan dengan media untuk menemukan dan memberikan informasi untuk mencapai tujuan.

Media juga harus digunakan agar tidak menyebarkan informasi yang dapat merusak citra perusahaan.

Dengan adanya fungsi-fungsi tersebut, diharapkan keberadaan media relations akan mampu mengatasi krisis media. Krisis komunikasi yang terjadi dapat berupa terhambatnya saluran komunikasi yang ada di instansi.

Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Bu Hamda Rizani, SE., M.I.Kom (Analis Humas BPK Perwakilan Provinsi Riau) dalam webinar Crisis Management Handling bertajuk “Keep Chilling and Handle Crisis Public Relation”.

Dimana dalam sebuah krisis itu terjadi dalam 3 tahap, yaitu :

• Tahap Pra-krisis, dalam tahap ini humas haruslah melakukan monitoring media (memantau berita yang menimbulkan krisis) dan analis berita (melakukan analisis berita terhadap berita yang memiliki potensi krisis.

• Tahap krisis, jika sudah memasuki tahap ini Langkah yang dilakukan oleh humas adalah menyiapkan  dan mencari data pendukung untuk membuat tanggapan pimpinan mengenai krisis dan menyebarluaskan tanggapan tersebut melalui berbagai media

• Tahap pascakrisis, jika krisis telah berlalu, humas sebaiknya tetap terus memantau topik pemberitaan terhadap kasus yang telah terjadi.

Hal ini menunjukkan betapa besar peran media relation dalam manajemen krisis.

Love Hate Relationship sebenarnya dapat dihindari jika  PR dan wartawan mampu bersinergi dan saling menghargai visi bersama. Dengan menciptakan relasi yang baik antar keduanya, tentu akan mewujudkan keharmonisan dan saling menguntungkan.

Oleh karenanya, PR harus bersikap elegan untuk menghormati dan mengapresiasi wartawan dalam konteks positif, bukan sematamata karna suap, begitu juga dengan wartawan.(*)

 

Penulis: Fara Salsabila

Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Andalas


Tag :#unand