HOME OPINI OPINI

  • Kamis, 12 Mei 2022
Jordus Cup, Senyum Sepakbola Dari Jorong Dua Sungayang
Rivo Septian

Oleh : Rivo Septian
Reporter Minangsatu

Kamis (12/05/2022), saya bersama tiga rekan lainnya menghadiri partai final Jordus Cup di Sungayang Tanah Datar yang mempertemukan Persiju Telabang dan Rafely Selection. Persiju Telabang yang diisi mayoritas pemain Liga 2, berhasil merengkuh trofi dengan kemenangan telak 3-0.

Kali ini, saya tidak akan membahas perihal pertandingan tersebut. Jordus Cup itu sendiri memantik "pangana lain" di kepala saya.

Kami tiba di Stadion Mini Pulai Sungayang pas menjelang azan ashar. 2 orang petugas karcis sudah menyambut kami di gerbang depan jalan utama ke stadion dengan senyum sederhana penuh keramahan. Sebagai awak media kami diarahkan ke tempat parkir oleh petugas lainnya. 

Selang beberapa saat azan menggema. Sebuah mushalla sederhana di pojokan stadion yang menyatu dengan bangunan Sekolah Dasar menjadi tempat kami menggelar ashar berjama'ah sore itu. Beberapa pemain yang akan berlagapun ikut dalam jama'ah ashar tersebut. Syahdu juga rasanya. Perihal dunia yang akan kami jelang tak menghalangi utang akhirat kami kepada Sang Khalik.

Usai shalat kami beranjak ke dalam stadion. Dari jarak 20 meter, seorang pria bertopi putih seumuran Ayah saya menyapa saya kembali dengan senyum sederhana sambil melangkah ke arah saya. Pak Haji Yas orang memanggilnya atau lebih lengkapnya bernama H. Yasman Yanusar. Kami bersalaman dan sedikit berbagi kabar masing-masing. 

"Rivo atur saja bagaimana bagusnya. Buat nyaman diri Rivo dan rekan-rekan," begitu kata penasehat Jordus Cup ini.

Rasanya kami sudah liputan banyak iven olahraga, khususnya sepakbola di seputaran Sumatera Barat ini. Baik yang digelar oleh perorangan, kelompok, maupun federasi resmi sekalipun. Pak Haji Yas menampilkan komunikasi yang layak kami apresiasi. Saya menggunakan kata "kami" disini adalah representasi dari beberapa orang jurnalis yang sempat hadir sore itu. Ternyata, selain saya banyak kuli berita lain yang hadir, baik dari Tanah Datar maupun luar Tanah Datar.

Dalam hati saya, "padiah juga lakek tangan" Pak Haji ini. Pandai sekali meraih hati wartawan. Maklum, pengalaman bersua banyak rekanan mengajarkan saya banyak tipe orang. Dengan Pak Haji, kami tidak merasa "diagak-agakan" dalam melaksanakan liputan.

Saya lihat sekeliling stadion mini, "sasak" oleh penonton yang katanya tidak hanya dari Sungayang atau seputaran Tanah Datar, namun juga ada dari Bukittinggi, Agam, Payakumbuh, Lima Puluh Kota,  Solok, Padang, dan daerah-daerah lainnya di Sumatera Barat. Teringat oleh saya Stadion Haji Agus Salim, saat Kabau Sirah masih "baku ampeh" di Liga 1. 

"Pangana" saya juga kembali menerawang, melihat kelas stadion pulai. Saya bergumam andai semua Wali Nagari di Sumbar ini peduli olahraga. Kalau sekelas Jorong Dua Sungayang saja bisa, tentunya 802 nagari di seluruh Sumatera Barat ini seharusnya juga bisa. Maklum jorong adalah lingkup kecil dalam nagari. Apalagi beberapa tahun terakhir, 1 M "pitih" yang harus dihabiskan nagari setiap tahunnya. Meskipun "pitih-pitih" itu tidak semuanya untuk urusan sepakbola. Kalau 10 persen saja Wali Nagari di Sumbar ada yang "gilo bola", bakal ada 80 stadion mini yang representatif di seluruh ranah minang ini. Bakal "baserak-baserak" Irsyad Maulana dan Teja Paku Alam baru lahir di ranah kita ini.

Begitulah Jordus Cup. Iven ini berpesan secara eksplisit namun sexy. Kekompakan warga Sungayang layak diacungi jempol. Dari yang muda hingga yang tua, dari yang laki-laki hingga "amak-amak" ikut repot mengurusi turnamen ini. 

Saya tak ingin menyebut iven ini "Tarkam" atau turnamen antar kampung. Secara profesional aleknya bisa bersaing dengan Liga 3 Sumbar kita yang sempat "eboh" kemarin. Perangkat pertandingan lengkap dan semua berlisensi. Pertandingan dijalankan sesuai "Law of the game". Tak ada saya lihat "wajah cameh" pada pengadil lapangan karena saya yakin tak ada telpon yang masuk kepada mereka mintak timnya dimenangkan. Tak ada pula yang ngotot ingin juara karena harus lolos ke fase berikutnya. Jordus Cup tidak hanya sekedar memperebutkan piala, tapi dimensi lain dari seni sepakbola dan hiburan dalam suasana lebaran.

Pada Jordus Cup pastinya ada hal yang harus selalu di-upgrade dan di-update. Melihat sosok Pak Haji, saya yakin ia tidak "bakaciak ati" kiranya berbagai perihal turnamen dievaluasi. Mulai dari evaluasi peserta, pelaksana, hingga ketertiban acara. Legalitas dan track record peserta serta pengumpulan data klub dan pemain pastinya sudah dilakukan dengan baik, namun tetap saja harus ada "collecting data" yang lebih akurat terutama jelang kick off turnamen. Penambahan peralatan perangkat pertandingan yang berbasis IT, serta beberapa hal lainnya untuk kemajuan pelaksanaan Jordus Cup mendatang. 

Tapi sekali lagi, "urang sungayang" tidak perlu pula "mamaso diri". Jordus Cup bukan iven milik federasi yang harus siap membuka diri untuk selalu dievaluasi. "Jan dipaso bana", ini sudah luar biasa.

Karena itu, tak ada salahnya kita belajar dari Jordus. Kalau segala sesuatu dilaksanakan dengan ketulusan dan niat yang baik, ganjarannya adalah sensasi kebahagiaan yang tak ada indikatornya meskipun dicari dalam google. Pak Haji Yas tidak mungkin pula mencari "isi saku" dari turnamen ini. Dari senyumnya saja saya sudah yakin beliau sudah cukup berada dan tidak kelas beliau bermain seperti itu. Meskipun senyum tidak selalu dimaknai sama.

Yang pastinya, peserta senang, panitia girang, penonton terhibur, "nan manggaleh bajua bali". Inilah sepakbola kita. Sepakbola yang menebar senyum dan kebahagiaan tanpa intrik telpon diangkat atau chat diterima.

Tunggu dulu. Tulisan ini belum selesai. Ada pula "pangana" saya yang lain. Teringat oleh saya Toulon Tournament. Iven kelompok umur kelas dunia. Nama-nama superstar dunia semacam Zinedine Zidane, David Beckham, Thierry Henry, Cristiano Ronaldo, Frank Lampard, hingga superstar nasional sekelas Egy Maulana Vikri adalah produk-produk yang namanya menjulang via Toulon Tournament. Turnamen kelompok umur yang menjadi sorotan seluruh media dunia. 

Pak Haji Yas bersama urang sungayang lainnya tak perlu pula menandingi Toulon Turnamen, karena itu bukan "karajo" kita. Tapi,  pegiat sepakbola mungkin akan semakin tertarik kiranya Jordus menggelar dua segmen kejuaraan, senior dan kelompok umur. Remaja-remaja minangkabau yang ingin menjadi pesepakbola professional pastinya akan terbantu. Pengurus-pengurus daerah akan giat mempersiapkan tim, karena akan bersaing dalam sebuah iven penuh gengsi yang diliput oleh banyak media di Sumatera Barat dan nasional. Dari lapangan pulai sungayang bakal muncul the next Irsyad dan the next Teja. Saya rasa itu jauh lebih keren. Tak hanya hiburan, namun juga menjadi alur menuju karir tertinggi para pemain. Kalau sudah begitu, tentu para pemandu bakat dan agen pemain bakal duduk pula di deretan bangku penonton. Jordus bisa jadi mercusuar untuk pengorbitan pemain masa depan.

Namun, sekali lagi ini adalah "pangana" saya. Kalaulah tidak semua bisa terwujud, sudah bertransformasi jadi "pangana" pula bagi mereka pegiat dan pecinta sepakbola, itu sudah cukup bagi saya untuk menambah rasa "teh talua" yang sering saya nikmati di simpang Padang Lua. 

Jaya sepakbola nasional,
Maju sepakbola minangkabau

Salam Teh Talua

Padang Lua, 12 Mei 2022


Tag :#sepakbolasumbar #jorduscup #yasmanyanusar #lensabolaminangsatu #ceritadibalikjorduscup #rivoseptian #tanahdatar #sungayang #perantau