HOME OPINI OPINI

  • Kamis, 10 November 2022
Ingat Hari Pahlawan, Ingat Hutang Republik Kepada Putra Alahan Panjang
Bayu Pamungkas

Setiap orang punya cara masing-masing untuk memperingati hari pahlawan. Ada yang memposting tulisan 'hari pahlawan' dengan quote pahlawan, ada yang mengadakan kelas bedah tokoh pahlawan, ada yang mengirim Al Fatihah untuk pahlawan, dan banyak lagi. Mungkin ini salah satunya, menulis tentang kepahlawanan dengan pengantar bercerita sedikit tentang presiden dan pendahulunya. 

 

Presidenku 

Waktu berlalu, musim berganti. Periode penguasapun silih berganti. Bermacam sudah tipe, 'style', gagasan, 'problem solving', dan terobosan para kapten kapal besar NKRI. Semua misi besarnya tentu untuk kehidupan yang layak dan paripurna. 

Mulai dari masa awal merdeka pada Agustus 1945 dengan Ir. Soekarno yang terkenal atas pidato membiusnya, hingga kini dua tahun sebelum berakhirnya masa jabatan Presiden Jokowi yang sebagian besar masyarakat jatuh hati karena sederhananya. 

Diantara mereka ada Pak Harto yang menjabat sangat lama, 32 tahun. Kalau dihitung dengan sistem sekarang, maka lebih dari 6 periode Jenderal Bintang 5 tersebut menjabat. Kurun waktu yang tidak singkat tentu menyisakan banyak pujian dan gunjingan. Baik untuk pribadi, ring satunya, atau keluarganya. Orang-orang yang hidup di zaman Pak Harto rasanya takkan lupa buah tangannya. Sebut saja bubarnya Partai Komunis Indonesia (PKI), hingga berdirinya Sekolah Intruksi Presiden (Inpres) yang tentu saja banyak rakyat menikmatinya. 

Roda kepemimpinan terus berjalan dan berputar. Lengsernya Pak Harto tahun 1998, digantikan oleh sosok jenius yang temuannya di bidang teknologi jadi referensi peneliti di Jerman, B.J. Habibie. Tapi tak lama, hanya dari 21 Mei 1998 hingga 20 Oktober 1999 Habibie menjabat. Namun begitu, ada satu masterpiece nya Habibie yang akan dikenang sepanjang hayat. Habibie berhasil menjinakkan Rupiah dari 16.800 per 1 USD, menjadi 7.000. 

Berikutnya, Indonesia dipimpin oleh ulama jebolan Nahdlatul Ulama (NU), K.H. Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan Gus Dur. Juga tak lama, kurang dari 2 tahun. Tapi ada yang unik, waktu yang singkat itu dipakai Gus Dur untuk berkeliling dunia. 20 bulan menjabat, Gus Dur mengunjungi 80 negara. Hitung sajalah berapa perbulannya. 

Tentu banyak rakyat yang bertanya-tanya, untuk apa Gus Dur melakukan itu. Misi diplomatik, atau hanya sekedar mengisi waktu. Begitulah, makrifat ulama yang satu ini memang kadang tak termakan oleh rakyat biasa. 

Pasca Gus Dur menjabat, Indonesia sudah 3 kali ganti kepemimpinan. Megawati, SBY, dan Jokowi, dengan segala formula yang mereka miliki. Dengan segala perang dingin yang mereka buat, dengan segala sindir-menyindir para pendukungnya. Itulah mereka, masyarakat yang menilai. Tapi prinsip dasarnya, setiap masyarakat punya selera masing-masing. 

Pertanyaannya, apakah saat hari pahlawan yang harus diulas adalah rekam jejak presiden saja? Tentu tidak. Tapi kalau berkaca perihal gaya menjabat, maka wajar kalau yang jadi buah bibir adalah presiden. Sebab mereka adalah muara politik, mereka adalah pemegang tuas kendali kapal yang panjangnya dari Aceh hingga Papua ini. 

Namun sejatinya pahlawan itu banyak dan berserakan. Bahkan belum lagi Indonesia merdeka, belum ada istilah presiden, yang namanya pahlawan sudah menjamur. Bentangkan saja berapa luas dan panjangnya Hindia-Belanda dulu, setiap daerahnya pasti ada pahlawan, tak perlu disebut daerah mana dan siapa pahlawannya, apa agamanya, apa sukunya, dan bagaimana cara ia melawan penjajah. Pahlawan sudah ada sejak dahulu. Tak berhenti disitu, guru juga disebut pahlawan. Anak juga menyebut orang tuanya sebagai pahlawan. Artinya, pahlawan itu luas, dan tak usai di satu sisi saja.

 

Sosok Hebat M. Natsir 

Kiblat tulisan sederhana ini ada pada judulnya. Mumpung sekarang hari pahlawan, pas rasanya menuliskan tentang pahlawan. 

Tanpa mengurangi pembicaraan perihal jasa pahlawan yang lain, maka penulis menjadikan mega bintang dalam tulisan ini adalah ia yang sederhana, lahir di desa nun jauh dari pusat keramaian kala itu, ayahnya bukan anggota militer, ibunya juga bukan konglomerat, tidak ada keluarganya yang berlembaga istimewa. Kalau dilihat-lihat, tak mungkin ia menjadi politikus besar. Ia adalah Mohammad Natsir, semoga Allah terangi kuburnya. 

Siapa M. Natsir sebetulnya? Kalau sekedar ingin tau, pembaca bisa menyediakan waktu 10 sampai 15 menit membaca biografi M. Natsir melalui laman Wikipedia. Di sana hampir lengkap, di mana saja ia bersekolah, karir politik apa saja yang ia pernah lalui, dan berapa lama ia dipenjara. Atau kalau ingin lebih lengkap, pembaca bisa membaca biografi M. Natsir karya Lukman Hakiem, itu jauh lebih lengkap. 

Namun agaknya memang sulit, membaca atau mencari tahu biografi tokoh besar itu butuh energi yang banyak. Tidak mudah merangsang kegemaran untuk membaca. Tak salah, ketika Indonesia masih 34 provinsi, Provinsi Sumatra Barat berada di posisi 24 dalam hal minat baca. Ini PR untuk yang merasa. 

Kembali ke sosok M. Natsir. Alahan Panjang, 17 Juli 1908, nagari yang dingin lengkap dengan panorama-panorama cantiknya, M. Natsir lahir di sana. Ayahnya Muhammad Idris, gelar Minangnya Sutan Saripado. Ibunya bernama Khadijah. Mereka bukan golongan bangsawan. Melihat asal usul M. Natsir, tak banyak yang menyangka 'track record' yang sudah ia torehkan. 

Natsir kecil hidup layaknya anak seusianya, ia dibesarkan dengan didikan yang tak jauh dari prinsip dan nilai Islam. Pagi hingga siang ia sekolah, malamnya ia ke surau. 

 

Pendidikan M. Natsir 

Mula bersekolah, M. Natsir menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat. Zaman itu sebagaimana kita baca sejarah, sekolah unggulan adalah sekolah milik pemerintah Belanda. Mereka yang boleh sekolah di sana orang-orang tertentu saja, anak bangsawan misalnya. M. Natsir pun tak berhak sekolah disana, sebab ia tak punya 'privilege'. 

Namun sejak di bangku sekolah dasar, M. Natsir selalu punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah milik Belanda. 

M. Natsir akhirnya berkesempatan melanjutkan pendidikan di Holandsche-Inlandsche School (HIS) di Padang. Kenangan moral yang paling melekat adalah M. Natsir hanya diizinkan sebagai 'anak bawang' di sekolah ini. Kalau nilainya bagus, ia boleh melanjutkan. Tapi kalau tidak, ia harus kembali ke sekolah rakyat. Terlebih, di sekolah itu bahasa Belanda merupakan pelajaran wajib bagi setiap siswa. 

Tapi akhirnya, M. Natsir yang jenius melewati setiap tahun dengan predikat terbaik. Hingga ia berhak melanjutkan pendidikan dengan beasiswa di sekolah milik pemerintah Belanda tersebut sampai ke tingkat Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), dan Algemeene Middelbare School (AMS). Mungkin setara dengan SMP dan SMA sekarang. 

M. Natsir tidak melalui proses tersebut begitu saja. Ia harus merantau ke Bandung untuk sekolah AMS. Disana tentu ia bertemu dengan orang-orang yang tak ia jumpai sebelumnya. Lebih bangsawan, lebih berlembaga, lebih sombong, dan lebih dalam segala hal dalam benaknya. 

Dalam buku Biografi M. Natsir karangan Lukman Hakiem, ia pernah tak dianggap dalam kelas di AMS bahkan oleh gurunya. Sebab ia datang dari pelosok, dan bukan siapa-siapa, dan gurunya menyangka M. Natsir bukanlah murid yang fasih berbahasa Belanda. 

Sampailah pada suatu kejadian, M. Natsir menciptakan karangan ilmiah berbahasa Belanda. Ia menulis dan sekaligus memperjuangkan hak petani tebu yang ada di Pulau Jawa kala itu. Ia berangkat dengan segala tekadnya, mengumpulkan data dan menulis, menjadikan sebuah karya yang besar. Ia sampaikan di depan kelas, fasih berbahasa Belanda, sehingga nilai terbaik ada di tangannya. 

M. Natsir menempuh jalan pendidikan tidak dengan mudah, kalau ia tak dapat yang terbaik maka hilanglah beasiswanya. Namun atas izin Allah, M. Natsir dengan segala variabel kecerdasannya mampu menempuh dan menyelesaikan itu semua dengan gagah. 

 

Hutang Republik Kepada M. Natsir 

Singkatnya, Indonesia pernah menjadi negara bagian atau Republik Indonesia Serikat (RIS). Indonesia dibagi ke dalam 16 bagian. Tentu saja bagian-bagian ini bisa saja melahirkan ego baru. Ada banyak bagian, tentu juga banyak pendapat. Belum lagi bisikan-bisikan agar mengobarkan narasi perpecahan, dan M. Natsir melihat ini hanya akal-akalan Belanda di Konferensi Meja Bundar (KMB) agar bisa menjajah Indonesia ke dua kalinya. 

Untuk menghindari segala ketidakpastian dan menjaga kesatuan, serta untuk meredam gejolak perpecahan, maka M. Natsir mencetuskan gagasan spektakuler dengan tajuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tujuan utamanya satu saja, menjaga persatuan bagian yang sudah mulai terpecah.  

Mosi yang disampaikan M. Natsir di depan parlemen pada tahun 1950 tersebut, tak ada satupun pribadi yang membantah. Tak ada satupun yang menolak. Soekarno, Hatta, bahkan PKI, dan semua perwakilan negara bagian tadi mengangguk dan mengiyakan gagasan M. Natsir. 

Tapi tentu saja tak se-instan itu. M. Natsir telah bergerilya berbulan-bulan menemui para tokoh, guna menyampaikan misi persatuan sebelum menyampaikan gagasan NKRI tersebut. Hebatnya, tak ada yang menolak ide cemerlang M. Natsir tersebut, sebelum akhirnya ia sampaikan di depan republik hingga tak ada yang menyelanya. 

Entah jurus apa yang dipakai M. Natsir. Menyatukan isi kepala yang berbeda. Kalau semuanya bawahan mungkin oke lah. Ini mulai dari presiden, bangsawan, tokoh militer, ulama, diplomatik, akademisi, intelektual, dan sebagainya kala itu mampu ia lobi sehingga mengiyakan idenya. Maka sah-sah saja kalau M. Natsir lebih dari sebutan-sebutan itu. 

Terlepas dari segala kepiawaiannya dalam melobi dan bernarasi, tentu saja M. Natsir adalah pilihan Allah kala itu. Dia dapat Ilham yang mahal, menyatukan puzzle-puzzle bangsa. Bayangkan saja, andai dulu negara bagian itu tak bersatu, mungkin akan bermunculan berbagai problem. Lihat saja belahan bumi lain yang hari ini sedang bersitegang. 

Perihal NKRI, kita harus berterima kasih kepada M. Natsir. Sebab akhir-akhir ini kita hanya bisa teriak, "NKRI harga mati," tanpa tau makna dan lapisan-lapisannya. 

Itu baru jasa untuk republik, belum lagi kita membahas peran besarnya untuk politik dan perdamaian dunia. Ia adalah Presiden Liga Muslim Dunia (World Muslim League). Ia adalah peraih penghargaan Faisal Award (Nobelnya Umat Islam). 

Ia meraih gelar doktor kehormatan dari Universitas Islam Lebanon. Dua gelar kehormatan dari Universitas Kebangsaan Malaysia bidang sastra (pembaca akan mencari M. Natsir dan Buya Hamka berbalas puisi), dan Universitas Sains Malaysia dalam bidang pemikiran Islam. 

Namun begitu, Indonesia baru menyematkan mantan Perdana Menteri Indonesia yang jasnya bertambal ini sebagai Pahlawan Nasionalis Indonesia setelah 15 tahun kematiannya. 

Terimakasih, M. Natsir.

Alfatihah


Tag :#opini #haripahlawan #mnatsir #bayupamungkas