- Senin, 10 Agustus 2026
Gejala TBC Yang Sering Diabaikan, Indonesia Hadapi 1 Juta Kasus Per Tahun
Gejala TBC yang Sering Diabaikan, Indonesia Hadapi 1 Juta Kasus per Tahun
JAKARTA – Tuberkulosis atau TBC masih menjadi salah satu penyakit menular yang perlu diwaspadai masyarakat Indonesia. Indonesia berada di posisi kedua dunia dengan beban TBC tertinggi setelah India. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,09 juta kasus TBC terjadi di Indonesia setiap tahun.
Besarnya angka tersebut membuat gejala TBC perlu dikenali sejak awal. Pemeriksaan lebih cepat dapat membantu menemukan pasien yang membutuhkan pengobatan sekaligus mengurangi risiko penularan kepada orang lain.
Kementerian Kesehatan terus mendorong penemuan kasus secara aktif. Pemerintah juga memperluas pemeriksaan kesehatan dan akses layanan TBC untuk menemukan pasien yang belum terdiagnosis.
Pada 2025, WHO menyebut Indonesia masih menghadapi beban TBC yang tinggi. Lebih dari 1 juta orang diperkirakan mengalami TBC, sementara kematian akibat penyakit ini diperkirakan mencapai sekitar 134.000 kasus per tahun. Deteksi dini dan keberhasilan pasien menyelesaikan pengobatan masih menjadi tantangan utama.
Gejala TBC yang Perlu Diwaspadai
TBC paling sering menyerang paru-paru. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan dapat menular melalui udara, terutama ketika penderita TBC paru batuk, bersin atau berbicara.
Salah satu tanda yang paling sering dikaitkan dengan TBC adalah batuk lebih dari dua minggu. Batuk dapat disertai dahak, tetapi tidak selalu. Karena batuk berkepanjangan sering dianggap sebagai keluhan biasa, banyak orang terlambat memeriksakan diri.
Selain batuk, beberapa gejala lain yang perlu diperhatikan antara lain:
-
Berkeringat pada malam hari tanpa aktivitas berat.
-
Demam yang berlangsung lama atau berulang.
-
Berat badan turun tanpa penyebab yang jelas.
-
Nafsu makan menurun.
-
Tubuh terasa lemas dan mudah lelah.
-
Sesak napas.
-
Nyeri dada, terutama ketika bernapas atau batuk.
-
Batuk disertai darah pada kondisi tertentu.
Gejala tersebut tidak otomatis berarti seseorang menderita TBC. Penyakit lain juga dapat menimbulkan keluhan serupa. Karena itu, diagnosis harus dilakukan melalui pemeriksaan di fasilitas kesehatan.
Siapa yang Lebih Berisiko Tertular TBC?
Semua orang dapat tertular TBC. Namun, risiko lebih tinggi terdapat pada orang yang tinggal serumah atau sering melakukan kontak dekat dengan pasien TBC.
Kementerian Kesehatan juga memasukkan orang dengan HIV dan perokok sebagai kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi.
Orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC sebaiknya tidak menunggu munculnya gejala untuk berkonsultasi. Pemeriksaan atau skrining dapat membantu menemukan infeksi atau penyakit lebih awal.
Hal ini penting karena sebagian orang yang mengalami TBC dapat memiliki gejala yang ringan atau bahkan tidak menunjukkan gejala yang jelas.
Batuk Lebih dari 2 Minggu, Kapan Harus Periksa?
Batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu sebaiknya tidak terus dianggap sebagai batuk biasa, terutama jika disertai berat badan turun, demam berkepanjangan, keringat malam, sesak napas atau keluhan lainnya.
Kementerian Kesehatan menganjurkan masyarakat yang mengalami gejala tersebut untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Pemeriksaan dapat dilakukan di Puskesmas maupun fasilitas kesehatan lain yang menyediakan layanan TBC.
Pemeriksaan penting dilakukan karena dokter perlu membedakan TBC dengan penyakit lain yang juga menyebabkan batuk berkepanjangan.
Mengapa Deteksi Dini TBC Sangat Penting?
Penemuan kasus lebih awal tidak hanya berkaitan dengan kondisi pasien. Semakin cepat pasien mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang sesuai, semakin cepat pula langkah pengendalian penularan dapat dilakukan.
Kementerian Kesehatan kini memperkuat strategi active case finding atau penemuan kasus secara aktif. Strategi ini bertujuan mencari kasus TBC yang sebelumnya belum ditemukan, termasuk pada masyarakat yang belum datang ke fasilitas kesehatan karena tidak menyadari dirinya memiliki TBC.
Pada 2025, Kemenkes menyebut estimasi kasus TBC di Indonesia sekitar 1,09 juta kasus per tahun. Pemerintah menilai peningkatan jumlah kasus yang berhasil ditemukan tidak selalu berarti jumlah penyakit semakin parah. Angka tersebut juga dapat menunjukkan bahwa sistem deteksi berhasil menemukan lebih banyak pasien yang sebelumnya belum terdiagnosis.
Apakah TBC Bisa Disembuhkan?
TBC dapat diobati dan pasien perlu mengikuti pengobatan sesuai regimen yang ditetapkan dokter. Salah satu masalah yang harus dicegah adalah pasien berhenti minum obat sebelum pengobatan selesai.
Pengobatan yang tidak dijalankan sesuai petunjuk dapat meningkatkan risiko kegagalan terapi dan munculnya TBC yang resistan terhadap obat.
Karena itu, pasien TBC tidak boleh menghentikan obat sendiri hanya karena kondisi tubuh sudah terasa membaik. Lama dan jenis pengobatan harus mengikuti hasil pemeriksaan serta keputusan tenaga kesehatan.
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa layanan TBC tersedia secara gratis dalam program pemerintah. Masyarakat dapat memperoleh layanan pemeriksaan dan pengobatan TBC melalui fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan tersebut.
Cara Mengurangi Risiko Penularan TBC
Masyarakat dapat membantu mengurangi risiko penularan TBC dengan menerapkan kebiasaan sederhana, terutama ketika berada di lingkungan dengan kasus TBC.
Gunakan masker ketika berada dalam situasi yang berisiko, terapkan etika batuk dan bersin, serta hindari membuang dahak sembarangan. Sirkulasi udara di rumah juga perlu diperhatikan dengan membuka pintu atau jendela agar pertukaran udara berjalan baik.
Orang yang tinggal serumah dengan pasien TBC juga sebaiknya mengikuti anjuran petugas kesehatan mengenai pemeriksaan kontak erat.
Yang tidak kalah penting adalah mengurangi stigma terhadap pasien. TBC merupakan penyakit yang dapat diobati. Stigma dan rasa takut dapat membuat seseorang menunda pemeriksaan, sehingga diagnosis dan pengobatan ikut terlambat.
Jangan Menunggu TBC Semakin Parah
Indonesia masih menghadapi beban TBC yang besar. Dengan perkiraan sekitar 1,09 juta kasus per tahun, masyarakat memiliki peran penting dalam membantu menemukan penyakit ini lebih cepat.
Batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, keringat malam, demam berkepanjangan, berat badan turun, nafsu makan berkurang, sesak napas atau batuk berdarah merupakan keluhan yang perlu diperiksa, terutama jika terjadi bersamaan atau tidak kunjung membaik.
Masyarakat tidak perlu melakukan diagnosis sendiri. Jika memiliki gejala atau pernah melakukan kontak erat dengan pasien TBC, segera berkonsultasi ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan yang sesuai.
Catatan: Informasi ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan diagnosis atau saran dari dokter maupun tenaga kesehatan.
Editor : boing
Tag :TBC, gejala TBC, gejala TBC awal, ciri-ciri TBC, penyebab TBC, penularan TBC, pengobatan TBC, TBC paru, cara mencegah TBC
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
DARI ASKES KE BPJS KESEHATAN: TRANSFORMASI JAMINAN SOSIAL DAN URGENSI GAYA HIDUP SEHAT DI INDONESIA
-
BPJS KESEHATAN TETAPKAN 21 LAYANAN DAN PENYAKIT DI LUAR TANGGUNGAN JAMINAN
-
GUBERNUR MAHYELDI SEBUT PIT HUGI BERDAMPAK POSITIF BAGI PENANGANAN MASALAH KESEHATAN SALURAN KEMIH
-
PELAJAR PUTRI TERGABUNG DALAM GKM-NU CEGAH STUNTING
-
GUBERNUR MAHYELDI TEGASKAN PEMPROV SUMBAR KOMIT DALAM PELAYANAN KESEHATAN ANAK TERPADU DI HADAPAN PESERTA PI TIKA XII
-
RME SUDAH DIGUNAKAN, TETAPI APAKAH SUDAH BENAR-BENAR BERMANFAAT?
-
PERAWATAN GIGI ANAK TANPA RASA TAKUT: MENGENAL KEDOKTERAN GIGI MINIMAL INVASIF
-
MAHASISWA KKN REGULER II UNAND DEMONSTRASIKAN PEMBUATAN PUPUK BOKASHI BERSAMA KWT KORONG KOTO PANJANG
-
MENJAGA NILAI ABS-SBK DI TENGAH FENOMENA LGBT DI SUMATERA BARAT: ANTARA TANTANGAN SOSIAL, MORAL, DAN TANGGUNG JAWAB BERSAMA
-
MENZIARAHI AKAR SEJARAH SEMEN PADANG FC DI LAWANG