HOME PENDIDIKAN KOTA PADANG

  • Selasa, 18 Agustus 2026

Dari Kaba Menjadi Naskah: Kuranji Sejati Belajar Menciptakan Randai Sendiri

Dari Kaba Menjadi Naskah: Kuranji Sejati Belajar Menciptakan Randai Sendiri
Dari Kaba Menjadi Naskah: Kuranji Sejati Belajar Menciptakan Randai Sendiri

Dari Kaba Menjadi Naskah: Kuranji Sejati Belajar Menciptakan Randai Sendiri

 

Padang — Sebuah kaba belum dengan sendirinya menjadi randai. Cerita yang hidup dalam ingatan dan tradisi tutur harus melewati proses penciptaan sebelum dapat hadir di galanggang. Tokoh harus dibangun, konflik disusun, dialog ditulis, dendang ditempatkan, dan setiap babak dirangkai agar cerita dapat bergerak sebagai sebuah pertunjukan.

Proses itulah yang dipelajari anggota Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati dalam pertemuan ketiga program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas, Minggu, 16 Agustus 2026. Setelah pada pertemuan sebelumnya mendalami kaba dan berbagai pengetahuan yang membentuk randai bersama Musra Dahrizal Katik Jo Mangkuto, kali ini peserta memasuki tahap yang lebih teknis: belajar mengubah gagasan dan kaba menjadi naskah randai.

Pelatihan menghadirkan Irwandi, S.S., M.Sn., praktisi randai yang juga merupakan salah seorang pelatih di Perguruan Seni Tradisi Singo Barantai. Pengalaman sebagai praktisi menjadi penting dalam pelatihan ini karena menulis naskah randai tidak semata-mata merupakan kerja sastra. Penulis juga harus memahami bagaimana sebuah teks kelak hidup di dalam pertunjukan.

Irwandi menjelaskan bahwa randai dibangun oleh tujuh unsur, yakni silek, tari, dendang, musik, naskah atau sastra, teater atau drama, serta artistika. Di antara unsur tersebut, naskah memiliki posisi penting karena menjadi tempat cerita, tokoh, konflik, dan dialog dibangun sebelum diwujudkan melalui permainan.

Karena itu, menurut Irwandi, menjadi penulis naskah randai membutuhkan pemahaman terhadap seluk-beluk randai, unsur-unsur yang membentuknya, serta bentuk penyajiannya. Pengalaman sebagai pemain bahkan menjadi modal penting karena penulis perlu membayangkan bagaimana teks yang ditulis dapat dimainkan di dalam galanggang.

Peserta kemudian diajak memahami kaba sebagai salah satu sumber penciptaan naskah. Irwandi membedakan kaba klasik yang banyak berkisah tentang kehidupan masa lampau, kerajaan, dan tokoh-tokoh dengan kemampuan luar biasa, dengan kaba baru yang lebih dekat dengan persoalan sosial masyarakat Minangkabau, seperti hubungan mamak dan kemenakan, persoalan harta warisan, serta hubungan percintaan.

Dari sumber cerita tersebut, proses penciptaan mulai bergerak. Peserta belajar menentukan ide dan sinopsis, memilih latar kejadian, menciptakan tokoh beserta hubungan dan karakternya, kemudian menyusun cerita ke dalam sejumlah babak. Mereka juga diperkenalkan pada unsur-unsur pembentuk naskah, mulai dari tema, alur, latar, tokoh, dialog, petunjuk laku, hingga penyelesaian cerita.

Namun, menulis dialog randai memiliki kekhasan tersendiri. Bahasa tidak selalu disampaikan secara langsung. Pantun, kiasan, mamangan, bidarai kato, gurindam, dan berbagai bentuk ekspresi sastra Minangkabau dapat menjadi bagian dari percakapan antartokoh. Dendang pun memiliki fungsi penting untuk menghubungkan babak, membangun suasana sedih, haru, atau gembira, bahkan menyampaikan bagian cerita yang sulit divisualisasikan di atas panggung.

Di sinilah peserta mulai melihat bahwa menulis randai berbeda dari sekadar menuliskan cerita. Seorang penulis harus membayangkan teks sebagai sesuatu yang kelak akan bergerak, bersuara, dan dimainkan.

Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan praktik. Peserta mulai menyusun kerangka cerita, menentukan tokoh, membangun hubungan antartokoh, serta mencoba mengembangkan dialog dan adegan. Hasil latihan dipresentasikan untuk memperoleh tanggapan dan masukan sebelum dikembangkan lebih lanjut menjadi naskah yang lebih utuh.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas, Yerri Satria Putra, menjelaskan bahwa tahap ini diarahkan agar anggota Kuranji Sejati secara bertahap memiliki kemampuan menciptakan naskah sendiri. Selama ini keberlangsungan pertunjukan randai masih banyak bergantung pada naskah yang telah tersedia. Kemampuan menulis akan memberi ruang bagi komunitas untuk menggali kaba, pengalaman sosial, dan persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka menjadi karya baru.

Pendampingan pada tanggal 16 Agustus bukan akhir dari proses tersebut. Setelah memperoleh dasar teknik penulisan, peserta akan memasuki tahap pendampingan untuk mengembangkan kerangka dan latihan yang telah dibuat menjadi beberapa naskah randai.

Dengan demikian, keberlanjutan randai tidak hanya berlangsung melalui kemampuan memainkan karya yang diwariskan. Ia juga tumbuh ketika komunitas mulai memiliki keberanian dan keterampilan untuk menciptakan cerita mereka sendiri.

Dari kaba yang dituturkan, cerita mulai dituliskan. Dari tulisan, tokoh dan dialog memperoleh bentuk. Kelak, ketika naskah itu kembali dibawa ke galanggang, proses pewarisan bergerak satu langkah lebih jauh: komunitas tidak lagi hanya menjadi pewaris randai, tetapi juga pencipta karya yang akan mereka wariskan kepada generasi berikutnya.


Wartawan : Bahren
Editor : bahren

Tag :#Berita #daerah #Pengabdian #unand #minangsatu

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com