HOME LANGKAN TINGKOK

  • Senin, 3 Agustus 2026

Belajar Randai Dari Sang Maestro: Kuranji Sejati Menelusuri Kembali Kaba, Silek, Dan Adat Dalam Pertunjukan

yerri 1
yerri 1

Belajar Randai dari Sang Maestro: Kuranji Sejati Menelusuri Kembali Kaba, Silek, dan Adat dalam Pertunjukan

 

Padang — Pengetahuan tentang randai tidak seluruhnya tersimpan dalam buku. Sebagiannya hidup dalam ingatan para pelaku, dalam langkah silek yang diperagakan, dalam dendang yang dilantunkan, dalam pilihan kata ketika seorang tokoh berbicara, serta dalam pengalaman panjang orang-orang yang tumbuh bersama kesenian itu.

Ruang perjumpaan dengan pengetahuan tersebut hadir dalam pertemuan kedua program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas bersama Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati, Minggu, 9 Agustus 2026. Pada pertemuan ini, tim menghadirkan salah seorang maestro seni tradisi Minangkabau, Musra Dahrizal Katik Jo Mangkuto, yang akrab disapa Mak Katik, sebagai narasumber utama. Kegiatan didampingi dan dimoderatori oleh Dr. Eka Meigalia, S.Hum., M.Hum.

Pertemuan ini menjadi bagian penting dari rangkaian pendampingan karena peserta tidak hanya diajak membicarakan randai sebagai sebuah bentuk seni pertunjukan, tetapi menelusuri kembali pengetahuan yang membentuknya dari dalam.

Bagi Mak Katik, randai merupakan pertemuan berbagai unsur permainan anak nagari. Silek, kaba atau cerita, dendang atau gurindam, bunyi-bunyian, laku atau akting, pakaian, serta kebersamaan para pemain tidak berdiri sendiri. Semuanya harus saling menopang agar sebuah pertunjukan memiliki kesatuan bentuk dan makna.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa randai tidak cukup dipahami melalui apa yang tampak di atas panggung. Di balik sebuah legaran terdapat pengetahuan tentang silek. Di balik dialog terdapat bahasa dan cara bertutur. Di balik kaba terdapat pandangan tentang kehidupan masyarakat. Bahkan cara berdiri, cara berbicara kepada mamak, orang tua, penghulu, kawan sebaya, maupun orang yang lebih muda memiliki logika sosial dan budaya yang perlu dipahami oleh seorang pemain.

Mak Katik menempatkan prinsip adat salingka nagari sebagai salah satu landasan penting dalam memahami randai. Randai yang tumbuh pada suatu nagari membawa pengetahuan lokal masyarakat tempat kesenian itu hidup. Langkah silek, bentuk galombang, bahasa, dendang, pakaian, hingga cara membangun pertunjukan dapat memperlihatkan kekhasan tersebut. Karena itu, belajar randai pada akhirnya juga berarti belajar membaca kebudayaan Minangkabau melalui pertunjukan.

Salah satu pembahasan penting dalam pertemuan tersebut berkaitan dengan kaba dan bahasa yang digunakan dalam randai. Kaba tidak hanya menyediakan cerita untuk dimainkan, tetapi menjadi ruang tempat tokoh, konflik, nilai, dan pengalaman sosial memperoleh bentuk naratif.

Dalam materi yang disampaikannya, Mak Katik memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan bahasa Minangkabau dalam penyusunan cerita randai. Ia memperkenalkan berbagai bentuk bahasa yang dapat hadir dalam cerita, mulai dari bahasa ibu atau bahasa palanta, pantun biasa, pantun bidarai, pantun adat, bidarai kato, hingga bidarai adat.

Pengetahuan mengenai bahasa menjadi penting karena menulis naskah randai bukan sekadar memindahkan sebuah cerita ke dalam dialog. Penulis harus memahami siapa yang berbicara, kepada siapa ia berbicara, bagaimana kedudukan tokoh dalam kehidupan sosial, serta pilihan bahasa seperti apa yang sesuai dengan karakter dan situasi yang sedang dimainkan.

Dengan demikian, bahasa dalam randai bukan sekadar alat komunikasi antartokoh. Bahasa membawa hubungan sosial, etika, estetika, dan pandangan hidup masyarakat yang melahirkannya. Mak Katik juga mengingatkan pentingnya hubungan antara silek dan randai. Silek tidak hanya muncul ketika terjadi adegan perkelahian. Jejaknya hadir sejak pemain memasuki galanggang, membentuk galombang, berdiri ketika berbicara, merespons lawan bicara, hingga menutup pertunjukan. Dalam pandangan tersebut, tubuh pemain randai sesungguhnya terus membawa pengetahuan silek sepanjang pertunjukan.

Begitu pula dengan dendang dan bunyi-bunyian. Keduanya tidak semata menjadi penghias pertunjukan. Irama, suasana cerita, gerak, dialog, dan musik harus memiliki hubungan yang selaras. Pertunjukan menjadi sebuah kerja kolektif ketika pemain mampu mendengar, merasakan, dan menyesuaikan dirinya dengan pemain lain.

Prinsip kebersamaan itu dirangkum dalam gagasan saiyo sakato. Randai mengajarkan bahwa keindahan tidak lahir dari satu pemain yang ingin tampak paling menonjol. Keindahan justru tumbuh ketika banyak orang mampu bergerak, berbicara, berdendang, dan membangun cerita sebagai satu kesatuan.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas, Yerri Satria Putra, menjelaskan bahwa menghadirkan maestro dalam proses pendampingan menjadi penting karena program ini tidak ingin menempatkan komunitas hanya sebagai penerima pelatihan. Pengetahuan yang hidup pada para maestro perlu dipertemukan dengan generasi yang akan melanjutkannya. Di sisi lain, pengetahuan tersebut juga perlu didokumentasikan, dipelajari, dan dikembangkan agar tidak berhenti pada satu generasi.

Pertemuan itu menjadi semakin bermakna karena proses belajar tidak berhenti pada penyampaian materi. Mak Katik juga menghadirkan pengalaman randai secara langsung melalui pertunjukan Randai Lara Sati. Pertunjukan tersebut memberi kesempatan kepada anggota Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati untuk melihat bagaimana berbagai pengetahuan yang sebelumnya dibicarakan hadir dalam sebuah pertunjukan. Silek tidak lagi sekadar dijelaskan sebagai konsep. Dendang tidak hanya dibicarakan sebagai unsur musikal. Dialog tidak lagi sekadar menjadi contoh susunan bahasa. Semuanya hadir secara bersamaan melalui tubuh dan suara para pemain di dalam ruang pertunjukan.

Pada saat yang sama, pertunjukan Lara Sati memperlihatkan satu hal penting dalam proses pewarisan tradisi: pengetahuan harus mengalami peristiwa. Orang dapat membaca tentang galombang, tetapi pemahamannya menjadi berbeda ketika melihat tubuh para pemain membentuk lingkaran. Orang dapat mempelajari dendang melalui teks, tetapi pengalaman mendengarnya dalam hubungan dengan gerak dan cerita memberikan pengetahuan yang berbeda. Demikian pula kaba. Ia memperoleh kehidupan baru ketika cerita berpindah dari tuturan dan tulisan ke dalam tubuh para pemain.

Pada saat ini, Mak Katik juga tengah membina sepuluh mahasiswa melalui program Belajar Bersama Maestro. Kehadiran para mahasiswa tersebut memperlihatkan bagaimana proses pewarisan pengetahuan tradisional dapat berlangsung melalui hubungan belajar secara langsung dengan maestro.

Dalam hubungan semacam itu, pengetahuan tidak semata dipindahkan melalui penjelasan verbal. Peserta belajar dengan mendengar, melihat, meniru, mengulang, melakukan kesalahan, menerima koreksi, kemudian mencoba kembali. Tubuh menjadi bagian dari proses belajar.

Bagi program pendampingan Universitas Andalas bersama Kuranji Sejati, pengalaman tersebut memiliki arti penting. Upaya menjaga keberlanjutan randai tidak cukup dilakukan dengan mendokumentasikan bentuk pertunjukan yang telah ada. Komunitas juga perlu memperoleh kemampuan untuk memahami pengetahuan di balik pertunjukan dan, pada tahap berikutnya, mengembangkan karya mereka sendiri.

Karena itu, pertemuan 9 Agustus menjadi jembatan menuju tahapan pendampingan berikutnya, terutama dalam pengembangan kaba dan penulisan naskah randai. Anggota komunitas diharapkan tidak berhenti sebagai pemain dari cerita yang telah tersedia, tetapi secara bertahap mampu membaca kaba, mengolah cerita, membangun tokoh dan konflik, menyusun dialog, serta melahirkan naskah randai dari pengetahuan dan pengalaman budaya yang dekat dengan kehidupan mereka.

Di sinilah pertemuan dengan seorang maestro memperoleh makna yang lebih dalam. Mak Katik tidak hanya membawa pengetahuan mengenai bagaimana randai dimainkan. Melalui pengalaman panjangnya, ia membawa ingatan mengenai bagaimana randai dipahami oleh generasi sebelumnya, bagaimana adat bekerja di dalam pertunjukan, bagaimana bahasa dipilih, bagaimana silek hadir dalam tubuh pemain, serta bagaimana berbagai unsur itu dirangkai sehingga pertunjukan tetap memiliki banang sirah, benang merah yang menjaga keutuhan cerita dan nilai yang dikandungnya.

Bagi Kuranji Sejati, proses belajar semacam ini menjadi bagian dari perjalanan untuk tumbuh sebagai komunitas yang tidak hanya mampu mempertunjukkan randai, tetapi juga memahami, menciptakan, dan mewariskannya. Sebab tradisi tidak bertahan hanya karena terus dipentaskan. Tradisi bertahan ketika pengetahuan yang berada di belakang sebuah pertunjukan masih dipelajari, ketika para maestro masih memiliki ruang untuk berbagi, ketika generasi berikutnya bersedia mendengar dan berlatih, dan ketika komunitas memiliki keberanian untuk menciptakan karya baru tanpa kehilangan ingatan tentang akar tempat mereka tumbuh.


Wartawan : Bahren
Editor : bahren

Tag :#langkan #yingkok

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com