HOME EKONOMI NASIONAL

  • Senin, 30 November 2020
Trading Halt dan Pembatasan ARB Diterapkan, Abang Jago Jadi Untung
Bursa saham

Padang (Minangsatu) - Dua investor di Padang, Dzaki Aulia dan Ilfa pusing tujuh keliling lantaran harga saham anjlok tajam pada Maret silam. Bagaimana tak pusing, portofolio merah membara. Bahkan, ada emiten yang kerugiannya mencapai 90 persen.

Sejak wabah corona mulai merebak di Wuhan, kalangan investor di Indonesia sudah mulai was-was. Awal 2020 tak menjadi saat yang indah. Beda dengan masa-masa sebelumnya, tiap Januari investor selalu sumringah.

Pelan dan pasti, indeks harga saham gabungan (IHSG) terus mengalami penurunan akibat investor melakukan aksi jual yang dipicu ketakutan makin luasnya sebaran corona. Ketakutan itu terbukti pada Maret 2020, ketika Presiden Joko Widodo dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengumumkan ada warga negara Indonesia yang terbukti positif corona.

Awal Januari, IHSG sempat berada di angka 6329,414, kemudian terperosok ke 3937.632 pada Maret. Pada masa inilah, banyak investor, apalagi yang baru berkecimpung di pasar modal menjadi putus asa. Dzaki Aulia pada Minangsatu, Minggu (29/11/2020) di Padang, menceritakan bagaimana gundah-gulananya perasaan ketika awal munculnya corona di Indonesia itu. 

Menurut dia, saham-saham blue chip semuanya hancur-hancuran. Semua sektor babak belur. Tiap hari dia mengikuti kisah-kisah sedih para investor melalui media sosial, maupun grup Whatsapp.
Dia memiliki modal lebih kurang Rp10 juta. Kesemuanya dalam bentuk saham. Ketika Maret itu, nilai sahamnya tinggal menjadi Rp2 juta. Dia sempat putus asa dan khawatir portofolio akan makin hancur. “Kalau jual rugi tak mungkin, sebab modal juga didapatkan dengan susah payah,” kata dia.

Dzaki memilih untuk pasrah saja. Dia menyerahkan semuanya kepada perjalanan waktu, dengan harapan corona bisa tertangani dan ekonomi kembali normal.  Bahkan, dia sempat kapok dan tak ingin lagi investasi saham. Dia menganggap terlalu besar risiko yang harus dialami ketika berinvestasi di saham.

Saking kapoknya, berhari-hari dia tak melihat portofolio. Nyaris pula menghapus aplikasi sekuritas di telepon pintarnya. “Sedih melihat nilai saham hancur. Saya juga tak mau mengikuti perkembangan yang terjadi di Bursa Efek Indonesia,” kata dia.

Investor lainnya, Ilfa mengemukakan hal serupa. Ketika nilai saham yang sudah hancur, dia coba untuk mengakumulasi, namun nilainya Kembali jatuh. “Saya sempat berpikiran untuk menjual saja semua saham, walau harus rugi dalam,” kata dia.

Namun, dia berupaya berpikir realistis dengan keadaan, ketimbang melakukan aksi yang merugikan diri sendiri. Dia berkeyakinan, pasti ada kebijakan yang dilakukan otoritas terkait dalam menyelamatkan bursa. Dia juga  berkeyakinan, tiap badai pasti ada akhirnya. Rencana menjual habis saham, dia batalkan dan lebih memilih bersabar dengan keadaan.

Melorotnya IHSG lantaran ketakutan kalangan investor dengan kemungkinan semakin memburuknya perekonomian. Kalangan investor banyak yang tak lagi hirau dengan kerugian dengan alasan mengamankan dana terlebih dahulu, sebelum mengalami kerugian yang lebih besar.

Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bergerak cepat dalam meredakan ketakutan investor itu. Bursa Efek Indonesia memberlakukan trading halt selama 30 menit. Ketentuan tentang trading halt tersebut berlaku efektif sejak Rabu, 11 Maret 2020. 
Selama masa pandemi, tercatat  beberapa kali BEI membalakukan trading halt. Menurut Direktur Utama BEI Inarno Djayadi yang dikutip katakini.com, Sabtu (25/4/2020), selama masa pandemic, tercatat BEI enam kali melakukan trading halt untuk mencegah penurunan lebih dalam dari IHSG. Trading halt pertama dilakukan Kamis 12 Maret pada pukul 15.33 WIB ketika itu IHSG anjlok hingga 5 persen menjadi 4.895.

Selanjutnya pada, Jumat 13 maret IHSG tersungkur 5,01 persen atau 245,17 poin ke level 4.650,58 pada pukul 09:15:33 waktu JATS. Kemudian, pada Selasa 17 Maret, pukul 15:02 waktu JATS, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) harus dihentikan selama 30 menit IHSG terkoreksi 5 persen atau 234,558 poin ke level 4.456,099.

Perdagangan juga terhenti pada pukul 09:37 waktu JATS, Kamis 19 Maret. Posisi IHSG saat terjadinya trading halt adalah pada 4.113,64 atau turun 217,02 poin atau 5,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya..

Selanjutnya perdagangan pada Senin 23 Maret pukul 14.52 WIB kembali terhenti karena IHSG yang kembali terkontraksi 5 persen. Indeks terkoreksi 5 persen atau 209,87 poin menjadi 3.985,07.

Kemudian, trading halt yang dilakukan pada 30 Maret pada pukul 10.20 WIB. Ketika itu IHSG anjlok 5 persen menjadi ke level 4.318,29.
Kebijakan lain yang dijalankan BEI dalam meredakan ketakutan kalangan investor, berupa trading suspend. Langkah tersebut diambil apabila IHSG mengalami penurunan lanjutan hingga lebih dari 15 persen dengan ketentuan sampai akhir sesi perdagangan atau lebih dari satu sesi perdagangan setelah mendapat persetujuan atau perintah Otoritas Jasa Keuangan.

Langkah dan kebijakan yang dilakukan BEI tak sia-sia.  Menurut Direktur BEI, Hasan Fawzi dalam Webinar Financial Sector: Membangun Kepercayaan di Industri Pasar Modal di Tengah Covid-19 di Jakarta, Selasa (28/7),  seperti dikutip CNBCIndonesia, volatilitas yang tinggi di bursa saham domestik terjadi pada pertengahan Maret, mulai mereda pada April 2020. Artinya, kebijakan yang dilakukan bisa mengubah keadaan dalam waktu satu bulan saja.

Penerapan trading halt kembali diberlakukan Bursa Efek Indonesia pada Kamis (10/9/2020)  yang dipicu penurunan IHSG mencapai 5 persen. Waktu itu, IHSG anjlok hingga 257,5 poin menjadi 4.891,88. Sedangkan pergerakan indeks sebelum trading halt mencapai 4.891,88-5.084. Ini kebijakan tradin halt pertama pada era normal baru.

“Dengan ini kami menginformasikan,  Kamis, 10 September 2020 telah terjadi pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada sistem perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada pukul 10:36:18 waktu JATS yang dipicu penurunan IHSG,” ujar Sekretaris Perusahaan BEI Yulianto Aji Sadono dalam pengumuman resmi di BEI, Kamis (10/9). 

Dia mengatakan, penghentian sementara transaksi tersebut sesuai dengan Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor: Kep-00024/BEI/03-2020 tanggal 10 Maret 2020 perihal Perubahan Panduan Penanganan Kelangsungan Perdagangan di Bursa Efek Indonesia dalam Kondisi Darurat.

Pembatasan Auto Rejection Bawah

Banyak kebijakan yang dijalankan dalam meredakan ketegangan dan ketakutan investor. Tercatat beberapa kali PT Bursa Efek Indonesia mengubah ketentuan batas bawah auto rejection. 

Hingga sekarang, masih diberlakukan batas bawah auto rejection tujuh persen, sebelumnya masih dalam suasana pandemi batas bawah auto rejection (ARB) sempat ditetapkan 10 persen. Pemberlakuan pembatasan guna mengurangi tekanan terhadap pasar modal. 

Auto rejection merupakan penolakan secara otomatis oleh sistem perdagangan efek yang berlaku di bursa terhadap penawaran jual dan atau permintaan beli efek bersifat ekuitas yang melampaui batasan harga atau jumlah yang ditetapkan BEI. 

Menurut Dzaki Aulia yang juga mahasiswa Fakultas Ekonomi Unversitas Andalas itu, kebijakan pembatasan yang dilakukan BEI membuat hati jadi teduh. Dengan pembatasan itu, bisa dilakukan pembelian dengan cara mengakumulasi dengan skema mencicil. “Kita bisa membuat perhitungan bila melakukan serok,” kata dia.

Menurut Dzaki, dengan aturan BEI, investor jadi jeli dan mengajarkan untuk cerdas dalam melihat keadaan. “Jangan beli dulu banyak-banyak, kalau sudah turun dalam, maka cicil sedikit demi sedikit, sehingga tidak rugi dalam. Dengan akumulasi kerugian bisa ditekan,” katanya, ketika ditanya tentang apa dampak yang ditimbulkan kebijakan BEI berupa pembatasan ARB.

Menurut Dzaki dan Ilfa, manfaat dari kebijakan trading halt maupun pembatasan ARB yang dijalankan BEI bersama OJK, investor jadi tenang. Ketakutan berubah jadi cuan. “Bermain saham memang risikonya, namun ada pula untungnya,” kata Dzaki. 

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengemukakan, seluruh kebijakan yang dibuat BEI dan OJK selama pandemi membuat pasar tidak panik dan menjual saham dengan tidak rasional.

Trading halt merupakan cara otoritas pasar modal untuk memberi waktu kepada pelaku pasar untuk berpikir, istirahat, dan mencari informasi lebih baik. Penghentian sementara juga mencegah perilaku mengekor para investor. “Supaya perdagangan tetap teratur, wajar dan efisien,” kata Hans yang dikutip katadata.co, 13 Maret 2020. 

Kebijakan BEI dan OJK selama masa pendemi masih diperlukan dalam tatanan new normal. Pembatasan mampu menciptakan kestabilan pasar. Terbukti pula, sejak pandemi jumlah Abang Jago (bahasa gaul sebagai sebutan investor) di pasar modal bertambah.

Penambahan investor di pasar modal mengalami peningkatan pada masa pandemi. Jumlah investor pasar modal tumbuh 22 persen menjadi 3,02 juta akun per Juli 2020.

Data PT Bursa Efek Indonesia menunjukkan, jumlah investor yang tercatat pada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Juli 2020, yang terdiri atas investor saham, reksadana dan obligasi telah bertumbuh 22 persen bila dibandingan dengan 2019, menjadi 3,02 juta investor.

"Dari jumlah tersebut, 42 persen di antaranya merupakan investor saham," papar BEI, Senin (10/8/2020) yang dikutip bisnis.com.

Menurut BEI, kondisi pandemi tidak menyurutkan minat investor untuk bertransaksi saham. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah rerata harian investor ritel saham yang melakukan transaksi sejak Maret sampai dengan Juli 2020.
Ada peningkatan 82,4 persen jumlah investor menjadi 93.000 pada Juli 2020 dibandingkan Maret 2020 sebanyak 51.000. Angka investor ritel yang bertransaksi di Juli tersebut berada di atas rata-rata investor aktif ritel sejak awal 2020 sejumlah 65.000 investor ritel.

Jadi, BEI mampu memberikan keteduhan hati bagi investor serta mendatangkan investor baru lantaran merasa nyaman dengan aneka kebijakan yang diberikan bursa kebanggaan masyarakat Indonesia itu. Ayo Abang Jago, lanjutkan transaksi, cuan menanti. (edwardi)


Wartawan : Edwardi
Editor : sc.astra

Tag :#TradingHalt