HOME OPINI OPINI


  • Sabtu, 25 Juli 2020
Sepakbola Usia Muda, Tarkam dan Dimensi Politik
Rivo Septian

Sepakbola Usia Muda, Tarkam dan Dimensi Politik

Oleh Rivo Septian


Adalah sudah menjadi fakta kalau olahraga sepakbola menjadi olahraga paling diminati  di seantero jagad. Dilansir Sport Time, Sepakbola  mengungguli kriket, hoki, tenis, dan bola voli pada jajaran lima olahraga terfavorit di dunia 
dengan jumlah penggemar sebanyak 3, 5 miliar. Angka tersebut adalah setengah dari jumlah penduduk dunia. 

Berita tentang sepakbola menempati kata kunci teratas dalam mesin pencari. Segala hal berbau sepakbola menjadi komoditas baik ekonomi, pendidikan, sosial, bahkan politik. Di masa wabah seperti saat sekarangpun sepakbola seperti memperoleh perlakuan khusus. Disaat seluruh tim medis di dunia masih bertarung mengobati pasien corona, Liga Sepakbola di beberapa negara eropa sudah kembali nampang di televisi meski tanpa penonton.

Barangkali atas dasar itulah sepakbola menjelma menjadi komoditas politik mulai dari tingkat dunia, negara, daerah, hingga sekelas kampung sekalipun atau yang lebih akrab disebut dengan Tarkam (Turnamen Antar Kampung). Kampung menjadi segmen yang sangat kuat dalam struktur sepakbola Indonesia. Pemain sekelas timnaspun mau terlibat dalam Tarkam. Magnet Tarkam tak kalah hebat dari pertandingan selevel liga profesional. Bahkan banyak pemain asing mencari makan di negara kita melalui Tarkam. 

Bagi mereka petarung politik dan pemburu jabatan, sepakbola adalah pemanis diri. Figur calon pejabat atau pemimpin di Indonesia dijamin tidak akan populer apabila tidak menyertakan sepakbola. Jadi tidak aneh kiranya disetiap menjelang pemilu atau pemilihan Kepala daerah akan menjamur Tarkam. Bahkan pemain langganan Tarkampun kesulitan untuk mengatur jadwal main saking padatnya orderan main.

Begitulah politik dan Tarkam di negara ini. Sudah saling mengisi dan saling menopang satu dengan yang lain. Setiap pesta politik akan selalu dihiasi Tarkam. Akibatnya, kompromi sepakbola dan politik menjadi hal yang tak terelakkan lagi. Pelaksanaan Tarkam tak lebih dari seremonial hiburan ajang pengumpulan massa. Dalam Tarkam pembinaan sepakbola usia dini dan akademi berjenjang tak akan mendampat tempat yang layak. Anak-anak muda yang akan meniti karir di jenjang lebih tinggi akan kehilangan menit bermain yang merupakan hal vital dalam konsep pengkaderan pemain profesional. 

Mereka para promotor Tarkam lebih menyukai hasil instan yaitu piala dan penonton. Alhasil, Tarkam adalah ajang tebar pesona pemain yang telah matang. Pemain kelompok usia yang berusaha mengikuti arus Tarkampun harus siap dengan berbagai resiko seperti cedera dan disorientasi prestasi. Parahnya hal seperti ini bukanlah jadi persoalan bagi mereka para pengejar kursi jabatan. Bagi mereka, ini hanyalah  salah satu cara meraup masa. 

Bagi mantan pemain boleh jadi ini adalah ajang jaga kondisi sekaligus cari-cari tambah penghasilan. Namun tidak bagi pemain muda, mereka terancam layu sebelum berkembang.

Sudah sering terjadi kiranya, pemain yang digadang-gadang bakal calon pemain masa depan timnas harus mengubur mimpi gara-gara cedera yang diperoleh saat Tarkam. 

Di dalam Tarkam semuanya memperoleh perlakuan yang sama, baik mantan pemain, pemain profesional aktif, maupun pemain usia dini. Regulasi yang tidak terlalu ketat mengakibatkan minimnya proteksi bagi pemain. Parahnya, tak sedikit pula Tarkam yang diperburuk dengan tawuran antar penonton. 

Itulah Tarkam. Sebuah produk instan yang berkembang jadi alat mencapai tujuan. Setelah tujuan tercapai Tarkam akan ditinggal begitu saja. Bisa dibuktikan nanti, tak sedikit dari wajah-wajah yang nampang di spanduk Tarkam akan "Lupa Ingatan" dengan pembinaan sepakbola usai kursi diperoleh. Karena, sekali lagi itu hanyalah sebuah cara memperoleh tujuan dan pada akhirnya tujuan jualah yang utama, dan alat 
sesungguhnya bersifat pilihan.


Tag :#SepakbolaUsiaMudaTarkamDanDimensiPolitik