HOME OPINI OPINI


  • Kamis, 12 Maret 2020
Semen Padang di Pusaran Persaingan
Aulia Rahim

Semen Padang di Pusaran Persaingan


Oleh Aulia Rahim
(Pemerhati Kebijakan Publik)

 

Malam mulai larut, kedai sederhana itu masih saja ramai. Suara pengunjung bicara berbaur dengan alunan “Memories” nya Maroon 5 dari pemutar lagu di sudut ruangan. Di samping saya duduk seorang pemuda, saya tak mengenalnya. Tapi karena kedai itu penuh, kami harus berbagi meja. Untuk membunuh sepi, kami bercakap sambil lalu. Ketika tahu saya bekerja di institusi keuangan, ia mulai bicara tentang perekonomian. Lalu ia menyinggung soal persaingan industri. Dengan masygul, sembari mengutip sebuah media cetak nasional, ia mengatakan masifnya pembangunan infrastruktur dalam 5 tahun belakang, justru kontraproduktif dengan perkembangan industri baja dan semen nasional. “Sebagai orang minang, saya khawatir arus pelemahan ini akan menyeret Semen Padang”, ujarnya lirih. Saya tahu yang disampaikannya akurat dan saya mahfum atas kegelisahannya. 

Hari-hari ini industri semen memang dihadapkan pada situasi dan kondisi yang cemas. Kendati pembangunan infrastruktur terus menerus digenjot, tetapi tingkat permintaan semen masih tak sesuai harapan. Persaingan yang semakin ketat, dengan kehadiran beberapa pemain baru, menyebabkan pasokan semen dalam negeri menjadi berlimpah (over supply). Data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menunjukkan di tahun 2019, produksi semen nasional yang mencapai 109 juta ton/tahun, hanya terserap kurang dari 77 juta ton. Artinya terjadi kelebihan produksi semen sebanyak 33 juta ton, atau sekitar 30%. Situasi pun diperparah, tatkala keran impor yang terus dibuka membuat semen dari Tiongkok turut membanjiri pasar domestik. Strategi low price yang digunakan, yang cenderung ke arah predatory pricing, terbukti menggerus dan merusak pangsa pasar pemain lama, termasuk PT Semen Padang. Kondisi over supply juga diproyeksikan akan terus berlanjut sampai 2025. Hal ini harus disikapi dengan sangat serius karena dapat berimbas pada keberlangsungan usaha. 

Saya tatap wajah yang gelisah di samping saya. Saya tahu ia tak sendiri. Jutaan masyarakat Sumbar memang sudah kadung “terikat” dengan Semen Padang. Sebagai pabrik dan industri semen pertama di Asia Tenggara, sebelas dasawarsa keberadaannya telah berjalin-berkelindan dengan tali-temali sejarah, impian, dan harapan masyarakat minang. Kiprahnya membangun negeri ibarat “tinta emas” yang ditorehkan di atas lembar sejarah peradaban. Kokohnya Monumen Nasional, Gedung MPR/DPR, Hotel Indonesia, Jembatan Ampera, dan landmark kebanggaan Sumbar, Jembatan Kelok Sembilan, tak lepas dari semen yang diracik di Lubuk Kilangan. Perusahaan “plat merah” inipun telah berkontribusi, tidak hanya dalam bentuk fisik bangunan, tetapi juga dalam bentuk pemberdayaan masyarakat dan juga lingkungan. Konsep triple bottom line, “profit, people and planet” diejawantahkan secara apik melalui empat pilar corporate social responsibility (CSR) yaitu “Campin Nagari, Pandai Nagari, Paduli Nagari dan Elok Nagari”. Semen Padang juga tak pernah henti menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung implementasi pembangunan yang berkelanjutan. Tanggung jawab sosial yang ditunjukkan bahkan telah mendapat penghargaan dari banyak pihak. Terakhir, PT Semen Padang berhasil meraih penghargaan tertinggi "Gold Brand Equity Award" dari Iconomic di kategori industri semen karena dinilai menjadi yang terdepan dalam bidang CSR.

Tantangan ke Depan

Untuk tetap mengayunkan langkah di tengah kondisi persaingan yang kian ketat, saya pikir Semen Padang harus cerdik bermanuver. Meskipun sampai detik ini masih menjadi market leader. Dengan share mencapai 42-45%, di pulau Sumatera, Semen Padang memang belum tertandingi. Tetapi situasi dan tantangan yang ada membuat mereka tak boleh berpuas diri. Apalagi dalam iklim pasar bebas, di mana nyaris tak ada proteksi. Semen Padang harus selalu tampil efisien, inovatif dan adaptif terhadap kondisi permintaan dan kepentingan pasar. 
Langkah Semen Padang yang bertransformasi dari perusahaan semen menjadi perusahaan penyedia solusi bahan bangunan, merupakan hal yang patut diapreasiasi.

Lewat perubahan ini, Semen Padang dapat mengembangkan kapabilitas dalam menyediakan solusi hilirisasi. Hal ini telah ditransmisikan dengan baik melalui peluncuran beberapa produk turunan, seperti poros konkrit, rumah cepat bangun, dan beton yang menyerap polusi. Strategi hilirisasi ini terbukti mampu menyasar tidak hanya pasar business to business (B2B) tetapi juga business to consumer (B2C).  Ke depan, strategi ini harus terus digenjot sehingga Semen Padang bisa tetap menjadi yang terdepan dalam memberikan solusi bahan bangunan.
Semen Padang juga telah mampu menciptakan produk “semen cepat kering” sehingga pengerjaan konstruksi dapat dilakukan lebih cepat. Produk inovasi itu pun telah dipakai pada pembangunan jembatan dan jalan di Sumbar.

Tetapi inovasi tidak boleh berhenti dan harus terus dielaborasi. Inovasi adalah kunci sukses perusahaan, sehingga harus terus diarusutamakan. Terutama melalui budaya organisasi, sehingga tercipta iklim yang inovatif dalam tubuh korporasi secara berkesinambungan. Yang juga tidak kalah pentingnya adalah bagaimana terus menggali sumber-sumber efisiensi. Salah satunya dengan mencari alternatif bahan baku yang lebih murah, efisien dan terjamin ketersediaannya dalam jangka panjang. Dalam laporan tahunan PT Semen Padang, diketahui kontribusi cost transformation (efisiensi) terhadap pencapaian laba bersih di tahun 2018 bisa mencapai Rp162 miliar atau 20,1%. Efisiensi juga dapat didorong dengan penggunaan informasi dan teknologi, penerapan inovasi dan optimalisasi rantai distribusi. 

Selain itu, dalam industri ada tiga faktor yang selalu menjadi ranah kompetisi antar para pemain. Pertama adalah availability atau ketersediaan produk. Kemudian affordability atau harga yang terjangkau, dan yang terakhir adalah product quality atau kualitas produk. Di ketiga faktor itu semua tahu Semen Padang sudah sangat kompetitif. Untuk itu hal berikutnya yang bisa menjadi pembeda adalah service quality atau kualitas layanan yang diberikan. Peningkatan layanan menjadi sesuatu yang sangat vital di tengah kondisi revolusi industri 4.0 yang serba digital. Apalagi dalam 10 tahun terakhir terjadi peningkatan pesat penduduk “kelas menengah” akibat penurunan tingkat kemiskinan. Mengutip mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, kelas menengah adalah professional complainer yang tekun. Mereka punya ekspektasi yang sangat tinggi untuk kualitas layanan yang baik. Oleh karena itu Semen Padang harus adaptif terhadap perkembangan zaman dan senantiasa meningkatkan layanan yang paripurna untuk seluruh stakeholders perusahaan. Hal-hal itulah yang akan membuat Semen Padang terus menjadi yang terdepan. 

Malam kian larut, pemutar lagu di sudut ruangan mengalunkan “Senyuman dan Harapan” dari The Overtunes dan GAC. Saya lihat kembali pemuda yang gelisah itu. Saya tahu ia tak sendiri. Masyarakat memang cemas. Namun kita tak bisa selamanya muram. “I'm a pessimist because of intelligence, but an optimist because of will”, begitu kata pemikir Italia, Antonio Gramsci. Selamat ulang tahun Semen Padang, dan jangan pernah lelah membangun negeri.  


Tag :#semenpadang #pusaranpersaingan