HOME OPINI OPINI

  • Senin, 9 Maret 2020
Siti Nurbaya di Era Milenium
Wido Deska Putra

Siti Nurbaya di Era Milenium


Oleh Wido Deska Putra

(mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas Andalas)

Ketika mendengar kata perjodohan maka yang teringat adalah pada zaman Siti Surbaya. Jika ada orang yang dijodoh-jodohkan pada saat sekarang ini maka banyak orang menyama-nyamakan dengan zaman Siti Nurbaya.

Pernikahan akibat perjodohan memang masih marak dikalangan masyarakat modern. Diangap sudah kuno dan tidak zaman namun tetap saja masih berlaku dibeberapa lapisan masyarakat.

Hidup di zaman modern seperti saat ini memang gampang-gampang susah. Gampangnya, misal sebagai wanita dapat saja tidak berkerja dengan tenang, dan tergantung dengan suami kita sebagai wanita karir yang memiliki segudang aktifitas dan kesibukan dan akhirnya orangtua menuntut segera menikah. Hal itu pasti membuat konsentrasi kerja menjadi down. Jika hal itu sudah terjadi, biasanya orang tua terutama ibu kita dengan tidak melihat keadaan yang kita sebagai perempuan alami setiap harinya, menginginkan untuk menjodohkan dengan laki-laki pilihan hatinya.

Biasanya kecemasan orang tualah yang menuntut  anaknya untuk segera menikah, karena melihat anaknya sudah mencukupi umur dan juga sudah sepantasannya untuk menikah. Inilah salah satu alasan orang tua ingin menjodohkan anaknya  dengan orang yang mapan, karena orang tua ingin melihat anaknya hidup bahagia. Jusru itu yang membuat anaknya jadi tidak bahagia.

Mengenai perjodohan, sebenarnya ini bukan suatu lah yang menakutkan, sebaliknya, selama kita ikhlas dan menerima dengan baik jodoh yang dikenalkan ke kita, kita pun sangat bahagia melalui perjodohan, tidak sedikit pasangan yang mendapatkan cinta terbaik mereka.

Berbicara mengenai perjodohan sebenarnya ada beberapa keuntungan jika kita menyetujui perjodohan. Mengenal pasangan setelah menikah akan terasa unik dan menarik, ketika saling mengenal dan mengetaui sifat-sifat satu sama lain, dan ini merupakan menjadi pengalaman baru. Perkenalan setelah pernikahan juga mengajarkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan juga sabar. Namun banyak pasangan kekasih yang akhirnya memutuskan hubungan mereka ditengah jalan. Saat perasaan cinta di hati keduanya sedang besar-besarnya, keduanya bisa saja dengan sekejap merasa sakit hati, kecewa dan terluka secara berlebihan ketika hubungan harus putus dan gagal menikah. Sedangkan untuk mereka yang dijidohkan, merasa bisa meminimalisis rasa sakit hati berlebihan karena sebelum menikah umumnya keduanya belu memiliki cinta yang sangat mendalam antara satu dengan yang lainnya.

Saat orang tua, saudara atau sahabat mencoba menjodohkan dengan seseorang, sudah pasti orang yang akan dijodohkan bukan sembarangan orang. Orang tua pasti telah memilihkan jodoh yang terbaik untuk anaknya. Terbaik tersebut bisa dari segi agama, finansial perkerjaan juga budi perkertinya lewat perjodohan, sangat memungkinkan bagi seseorang yang dijodohkan mendapatkan jodoh terbaik.

Apabila seorang anak merasa tidak ada kecocokan maka seorang anak bisa mengutarakannya tampa menyakiti siapapun. Sewaktu kita dijodohkan  ternyata kita tidak menemukan kecocokan maka kita bisa dan berhak untuk mengutarakan hal tersebut karena ini menyangkut masa depan.  

Sebenarnya pada saat sekarang ada baiknya juga perjodohan seperti pada era Siti Nurbaya, namun menjodohkan haruslah seseorang yang disukai oleh anak. Karena itu juga berpengaruh terhadap rumah tangganya nanti. Namun saat sekarang ini,  seorang anak tidak mau lagi dijodoh-jodohkan, kerena dia telah memiliki pilihannya sendiri, dan hal ini juga merupakan sesuatu hal yang wajar.

Perjodohan yang tidak berhasil akan melahirkan keluarga yang tidak sehat dan tidak harmonis. Beberapa dari keluarga tersebut memiliki kemungkinan untuk mengambil jalan perceraian, namun ketika perceraian bukanlah sebuah pilihan bagi mereka, kelangsungan kehidupan keluarga akan berjalan pahit karena tidak ada rasa cinta dari suami dan istri. Hal ini juga dapat berdampak tidak sehat langsung pada anak-anak, karena mereka tumbuh dalam keluarga tampa cinta. Mental sorang anak juga terpengaruh karena ketidak harmonisan didalam keluarga.

Menurut Eamon  Mccrory,ph.D., dari College London mengatakan bahwa anak yangn melihat orang tua bertengkar didepannya maupun melihat ada kekerasan di depan matanya ada kekerasan dirumah tangga ternyata memiliki pola otak yang sama dengan tentara di medan perang, apalagi anak yang masih dibawah umur akan dapat sepenuhnya memproses situasi sosial yang kompleks. Ledakan emosial bisa memberi kenangan negatif jangka Panjang pada anak. Seorang anak akan mengalami depresi dan ganguan kecemasan. Anak yang melihat orang tuanya bertengkar akan sulit untuk memproses emosinya sehingga ia rentang mengalami depresi maupun gangguan kecemasan.

Kepercayaan diri yang rendah. Setiap rumah seharusnya menjadi tempat paling nyaman dan aman untuk anak. Jika hal ini tidak didapatkan oleh anak didalam keluarganya maka anak akan merasa bingung. Alih-alih sibuk membangun kepercayaan diri mereka, anak-anak akan sibuk untuk mewaspadai dunia sekitar mereka. Dan imbasnya saat anak  tersebut telah dewasa, dia akan takut membangun kehidupan rumah tangga  karena tidak bercaya diri lagi setelah memlihat kekerasan orang-orang tuanya waktu dia masa dia masih kecil. Apalagi jika saat mulai pacaranan, dia mengalami kekerasan fisik, verbal. Anak yang hidup dengan orang tua yang sering bertengkar cenderung akan lebih stres dan juga gampang sakit daripada anak-anak yang tinggal bersama keluarga yang penuh hidup harmonis.

Dapat disimpulkan bahwa perjodohan bisa membawa kepada sebuah kebahagiaan bagi seorang anak, dan juga mempunyai dampak buruk dari perjodohan juga sangat signifikan. Karena anak zaman sekarang sudah tidak mau lagi dijodoh-jodohkan. Hal ini mereka tidak mau serupa dengan zaman Siti Nurbaya, apalagi mereja merupakan generasi Milenial.


Tag :#sitinurbaya #eramilenium