HOME LANGKAN TAMBO

  • Kamis, 26 Oktober 2023

Sejarah Saluang Di Minangkabau

Penulis: Hastri Darma Partiwi
Penulis: Hastri Darma Partiwi

Sejarah Saluang di Minangkabau

Penulis: Hastri Darma Partiwi

Saluang adalah alat musik tradisional yang berasal dari minangkabau atau Sumatera Barat. Alat kesenian Saluang terbuat dari bambu yang mempunyai 4 lubang, yang dari lubang itu di hasilkan bunyi-bunyi khusus. Cara memainkan alat musik saluang ini yaitu dengan cara ditiup.

Saluang sering di pakai untuk mengiringi dendang (nyanyian orang minang), Orang Minang percaya bahwa bahan yang paling bagus untuk di buat saluang adalah berasal dari Talang jemuran kain atau Talang  yang hanyut di sungai.

Memainkan saluang ini terbilang sangat sulit karena perlu kelihaian jari dan harus bisa untuk menyisihkan nafas. Karena itu tak jarang di kalangan anak muda mungkin hanya sedikit yang bisa memainkan alat musik ini.

Saluang di perkirakan mempunyai panjang 40-60 cm dengan diameter 3-4 cm. Saluang masuk ke dalam jenis suling, tapi tidak sama dengan seruling pada umumnya.

Saluang mempunyai beberapa macam, yakni Saluang darek, Saluang Sirompak, Saluang Pauh, Saluang panjang dan Saluang Sungai Pagu. Dan asal Saluang ini juga bermacam-macam tempat di Minangkabau.

Saluang Darek berasal dari daerah darek, sedangkan Saluang Pauh berasal dari daerah Pauh Kota Padang, Saluang Panjang berasal dari Solok Selatan, Saluang Sungai Pagu berasal dari Sungai Pagu.

Ada beberapa Saluang yang di gunakan untuk hal-hal mistis contohnya Saluang Sirompak.

 Saluang Sirompak digunakan untuk menundukkan hati seorang wanita agar seorang wanita itu tergila-gila kepada yang memainkannya. Kekhasan melodinya dan diiringi dengan melodi-melodi yang magis, ketika wanita yang diinginkan mendengarnya, maka wanita itu akan tergila-gila kepadanya atau selalu terbayang-bayang si lelaki itu.

Untuk memikat hati wanita itu dibutuhkan juga  mantra-mantra yang khusus, agar mantranya dapat sampai ke wanita itu lebih cepat biasanya di mantra di nyanyikan oleh seorang "padendang".

Setiap jenis saluang memiliki ciri khas masing-masing sesuai daerah tempat berkembangnya, mulai dari teknik memainkannya, hingga bentuk dari saluang tersebut.

Awal mula saluang berkembang di sekitaran gunung Singgalang. Kemudian berkembang ke Agam, Tanah Datar dan Lima Puluh Kota (Luhak Nan Tigo). Setelah berkembang ke daerah tersebut, berkembanglah saluang ke daerah rantau.

Saluang yang sering di pakai orang untuk mengiringi saluang dendang atau bagurau adalah Saluang Darek, karena bunyi saluang darek tersebut sangat khas untuk dendang. Saluang Dendang cukup banyak, diperkirakan ada ratusan lagu ataupun ribuan lagu. Lagunya terdiri dari tiga jenis, yaitu: dendang yang bersifat ratok. Dendang ratok ini biasa hanya diiringi dengan Saluang saja.

Kemudian dendang yang bersifat gembira. Dendang ini biasanya diiringi dengan beberapa alat music, contohnya gandang, alasan agar diiringi dengan alat musik adalah karena lagunya yang bersifat gembira dan biar lagunya tidak terlihat sedih di dengar. Dan kemudian dendang yang bersifat setengah riang. dendang setengah riang adalah dendang yang berisi ratok dan berisi dendang gembira.

Orang Minang sangat terkenal dengan seni berkomunikasinya yang pragmatis.Hal tersebut juga bisa di lihat dengan pertunjukan saluang di Minangkabau. Dalam pertunjukan saluang tersebut, tidak hanya nilai estetika dan hiburan yang di hadirkan, tetapi juga nilai sosial, budaya, nasihat, serta sindir-kias yang tergambar dalam cerita yang di sampaikan.

Biasanya Saluang dimainkan oleh laki-laki, saluang sangat terkenal di Minangkabau di setiap daerah pasti tau apa itu saluang.

Ada juga namanya Saluang Panjang, Saluang yang berasal dari Solok Selatan ini bentuknya yang sangat berbeda dari yang lain.

Saluang ini dahulunya hanya hiburan bagi pengembala ternak dan bertani.berkat kreativitas masyarakat, Saluang Panjang berubah menjadi instrumen yang mirip dengan Seruling khas Sunda. Saluang Panjang mempunyai tiga buah lubang nada dan akan menghasilkan empat tingkatan nada serta memiliki empat jenis bunyi sesuai dengan tingkatan oktafnya.

Ada juga nama nya Saluang Pauh, Saluang yang berasal dari pauh kota Padang, Saluang Pauh ini cara meniupnya beda dari saluang yang lain, yaitu sama dengan meniup bansi. Teknik meniup Saluang ini mungkin tergolong mudah dari yang lain, dan Saluang Pauh juga mempunyai ciri khas bunyi, dan Saluang Pauh mempunyai 6 buah lobang nada, Saluang Pauh biasanya berfungsi sebagai instrument melodis dalam sebuah sajian pertunjukan yang mengiringi dendang (kaba).

Kesenian Saluang Pauah ini mungkin sudah mulai terlupakan di kalangan anak muda sekarang.

Cara pembuatan saluang ini cukup dengan melubangi talang (bambu) dengan empat lubang.

Adapun kegunaan lain dari talang adalah membuat lamang(makanan khas minangkabau atau sumatra barat).

Dalam membuat saluang ini kita harus menentukan bagian atas dan bawahnya terlebih dahulu untuk menentukan pembuatan lubang, kalau saluang terbuat dari bambu, bagian atas saluang merupakan bagian ruas bambu. Pada bagian atas saluang diserut untuk dibuat meruncing sekitar 45 derajat sesuai dengan ketebalan bambu.

Untuk membuat 4 lubang pada alat musik tradisional saluang ini mulai dari ukuran 2/3 dari panjang bambu,yang di ukur dari bagian atas,dan lubang kedua dan seterusnya berjarak setengah lingkar bambu,untuk besar lubang agar menghasilkan suara yang bagus,haruslah di buat dengan garis tengah 0,5 cm.

Keutamaan dari para pemain saluang ini adalah dapat memainkan saluang dengan meniup dan menarik nafas secara bersamaan, sehingga peniup saluang dapat memainkan alat musik itu dari awal sampai akhir lagu tanpa putus. Cara pernafasan ini dikembangkan dengan latihan yang terus menerus. Teknik ini dinamakan juga sebagai teknik manyisian angok ( menyisihkan nafas).

Tiap Nagari di Minangkabau mengembangkan cara meniup saluang, sehingga masing – masing nagari memiliki ciri khas tersendiri. Contohnya dari ciri khas itu adalah Singgalang, Pariaman, Solok Salayo, Koto Tuo, Suayan dan Pauah.

Pemain saluang legendaris bernama Idris Sutan Sati dan padendang legendarisnya adalah Syamsimar.

(Penulis Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas)


Wartawan : Hastri Darma Partiwi
Editor : melatisan

Tag :#Sejarah #Saluang #Minangkabau

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com