HOME SOSIAL BUDAYA KABUPATEN LIMAPULUH KOTA

  • Kamis, 8 April 2021
Rumahnya Hancur Akibat Ditimpa Pohon, Satu Keluarga di Akabiluru Terpaksa Tinggal Di Pondok Darurat
Kondisi Rumah Dahniar yang luluh lantak usai Ditimpa Pohon, Kamis (01/04/2021).

Akabiluru (Minangsatu) -

Malang betul nasib Dahlinar (47 tahun), warga Nagari Sariak Laweh Kecamatan Akabiluru Kabupaten 50 Kota. Semenjak rumah yang ditempatinya hancur luluh lantak ulah ditimpa pohon kelapa, Kamis (01/04/2021), Dahlinar bersama ibu dan satu anak laki-lakinya terpaksa tinggal di pondok darurat yang mereka buat tepat di sebelah lokasi bangunan rumahnya. 

"Sudah seminggu kami tidur di pondok ini. Lihatlah kondisi rumah kami yang sudah rata dengan tanah. Kami tak punya pilihan. Setidaknya kami bisa berteduh di pondok ini," ujar Dahlinar saat dikunjungi Minangsatu, Kamis (08/04/2021).

Mirisnya lagi, Dahlinar tak hanya kehilangan rumah namun juga harus menderita tujuh luka jahitan di kepalanya.

"Saya tak tahu bagaimana persisnya robohnya rumah saya ini. Pagi itu, Kamis (01/04/2021) tiba-tiba terdengar angin ribut dan dentuman keras. Seketika benda keras menghantam kepala saya. Akibatnya darah mengucur deras membasahi penutup kepala. Namun tidak saya hiraukan.saya langsung berlari keluar membawa ibu saya dibantu oleh anak bungsu saya," tutur Dahlinar mengingat kejadian kamis lalu itu.

Dijelaskan Dahlinar, saat ini dirinya tak bisa berbuat banyak. Terlebih lagi, sebagai single parent, ia mesti berjuang keras menafkahi keluarganya.

"Saya punya satu ibu dan 3 orang anak.Putra sulung saya tidak tinggal di sini. Ia bekerja di bengkel variasi. Anak perempuan saya duduk di kelas 2 SMK, lalu laki-laki yang bungsu yang ikut membantu saya bekerja. Sedang saya hanya buruh di peternakan ayam," katanya.

Bagi Dahlinar, ujian kali ini benar-benar menguji kesabarannya. Terlebih lagi anak perempuannya sedang butuh biaya besar guna menyelesaikan pendidikannya.

"Mau gimana lagi pak. Kami ini tak punya harta apa-apa. Syukur-syukur kemarin beberapa warga membantu kami. Di sisi lain, anak perempuan saya sedang butuh biaya pendidikan yang tidak sedikit. Apalagi saat ini ia sedang magang. Pokoknya, apapun kondisi saya, anak saya harus tamat sekolah," tekadnya. 

Menurut keterangan anak Sulung Dahlinar, Topit (23 tahun), usai kejadian bencana tersebut ada tim dari Baznas Kabupaten 50 Kota yang berkunjung meninjau lokasi rumahnya.

"Kami diminta untuk melengkapi berkas sebagai prasyarat pengajuan permohonan bantuan. Berkas tersebut sudah kami lengkapi pada Senin (05/04/2021) lalu. Hingga saat ini kami belum terima bantuan apa-apa kecuali sumbangan dari masyarakat sekitar," jelasnya. 

Ditambahkan Topit, keluarganya saat ini sangat butuh tempat tinggal yang layak. Terlebih sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan.

"Semoga permohonan bantuan kami segera diproses dan kami segera dapat bantuan. Setidaknya untuk Ramadhan nanti kami bisa sahur dan berbuka bersama di tempat yang lebih layak. Karena kalau di pondok ini tentu bakal sempit sekali," pinta Topit.*

 

 


Wartawan : Rivo
Editor : Benk123

Tag :#limapuluhkota