HOME OPINI OPINI

  • Jumat, 29 Maret 2019
Politik Rotan dan Beringin
Muhammad Nazri Janra

Politik Rotan dan Beringin

Oleh Muhammad Nazri Janra


Alkisah, bagi orang-orang “parimbo” yang suka berkelana dalam lebatnya belantara di suatu daerah, dua nama tumbuhan yang disebut di dalam judul di atas bukanlah benda asing bagi mereka. Selain cerita tentang binatang-binatang aneh yang mungkin pernah ditemui, pasti ada terselip cerita tentang betapa sakitnya tergores duri rotan serta uniknya bangunan batang beringin pencekik yang menjulang di antara tajuk pepohonan rimba.

Rotan sendiri, yang secara ilmiah berupa beragam tumbuhan berbatang memanjang beruas-ruas dengan daun majemuk memanjang yang berasal dari beberapa marga tumbuhan (Calamus, Daemonorops dan Oncocalamus). Mereka merupakan kerabat dekat dari tumbuhan salak dan sagu yang mungkin jauh lebih dikenal oleh masyarakat.

Rotan banyak ditemukan pada hutan-hutan primer (rimbo tuo) yang tersebar di Asia, Afrika dan Papua. Bagi masyarakat perkotaan, rotan kebanyakan dikenal ketika telah menjadi furniture rumahan, seperti kursi, lemari atau meja. Tapi, tidak banyak yang tahu bagaimana tumbuhan rotan ini sebenarnya di alam aslinya. Kecuali tentunya para parimbo tadi. 

Di dalam hutan, rotan adalah tumbuhan menjalar dengan panjang batang puluhan sampai ratusan meter, tergantung dari umur tumbuhnya. Sebagai tumbuhan menjalar, rotan selalu tumbuh ke arah cahaya matahari. Artinya, jika rotan ini tumbuh bermula dari biji yang jatuh ke permukaan tanah di hutan yang lebat, untuk dapat terus tumbuh dan berkembang, dia harus mulai mengarahkan pertumbuhannya agar mendapatkan cahaya matahari yang cukup untuk perkembangannya. Hal ini tentu tidak gampang, karena rotan tidak mempunyai batang yang kokoh dan besar. Batang rotan yang paling besar hanya mencapai beberapa sentimeter, sehingga tidak akan kuat untuk berdiri tegak sendiri mencapai puncak tajuk hutan yang bisa puluhan meter tingginya seperti halnya dilakukan oleh pohon-pohon lain pada umumnya. 

Di sinilah kemudian peranan dari duri yang ada terutama pada batang dan sulur yang memanjang dari setiap ujung daunnya. Duri-duri ini sangat keras, tajam dan melengkung ke belakang, sehingga efektif untuk dipakai melekatkan diri ke pepohonan lain yang sudah tumbuh duluan. Setiap pertumbuhan daun dan sulur berduri yang baru, setiap kali pula rotan dapat terus merangsek ke atas. 

Bagi orang parimbo, mereka paham sekali kalau berjalan di tengah hutan tidak boleh serampangan, terutama pada tempat yang banyak tumbuh rotannya. Sekali duri rotan ini menempel di baju, apalagi di kulit, jangan bersikeras untuk terus melangkah ke depan kalau tidak mau baju atau kulitnya tergores bahkan robek. Orang yang tersangkut duri rotan harus mengalah untuk mundur satu dua langkah ke belakang, karena dengan cara demikian dan mengingat bentuk durinya yang berkait ke belakang, duri rotan dapat mudah dilepaskan. Saking menyakitkannya goresan duri rotan ini, duri ini juga berfungsi sebagai pelindung bagi daun dan batang muda tumbuhan ini supaya tidak dimamah hewan. 

Di lain tempat, beringin pencekik (Ficus annulata) merupakan fenomena spektakuler lainnya di tengah rimba belantara. Beringin ini mempunyai bentuk daun dan akar hawa yang sama dengan beringin lain pada umumnya, tapi biasanya pada sepanjang batangnya yang telah tumbuh membesar terdapat lowong atau ruangan besar. Ruang hampa di tengah batang beringin pencekik ini bukan terbentuk karena tumbuhan ini punya kemampuan tumbuh seperti itu, tetapi karena adanya proses unik yang mendahului terbentuknya ruang hampa tadi. 

Sama seperti rotan, beringin pencekik juga membutuhkan sumber cahaya matahari yang membuat mereka tumbuh terus ke atas untuk melewati tutupan tajuk hutan. Begitu biji tumbuhan ini berkecambah, mereka mulai melingkarkan akarnya di sekitar pohon besar di dekatnya yang telah tumbuh terlebih dahulu. Akar ini kemudian akan membantu mereka untuk memanjat terus ke atas mencapai sumber cahaya. 

Berbeda dari rotan yang sulur berduri pada daunnya akan gugur jika daun sudah terlalu tua, akar beringin pencekik terus tumbuh membesar seiring dengan bertambahnya ukuran batang. Dan berbeda pula dengan beringin pada umumnya, belitan akar beringin jenis ini akan terus menguat pada batang inangnya sehingga lama kelamaan, batang inang yang berada di tengah pelukan beringin pencekik ini akan mati. Setelah batang tumbuhan inangnya mati dan membusuk secara alami, tinggallah bekas lowong di tengah-tengah batang beringin pembelit yang sudah besar tersebut.

Membaca dan merenungkan cerita dua jenis tumbuhan hutan yang berbeda tersebut, secara pribadi mengingatkan saya pada polah tingkah politisi di kancah perpolitikan daerah atau nasional kita. Ada yang terlihat memakai gaya rotan, namun tidak jarang pula yang berpolitik ala beringin pencekik tadi. 

Ada politisi yang saya amati kata-katanya setajam duri rotan, yang disampaikannya berdasarkan fakta dan kebenaran walaupun mungkin akan menyakitkan bagi orang yang mendengarkannya. Kata-kata politisi rotan ini mampu membuat orang berhenti bahkan mengurungkan niat dari melakukan hal yang tidak sesuai dengan kepentingan orang banyak.

Meskipun demikian, politisi jenis ini tetap dapat hidup bersama-sama dengan orang banyak seperti layaknya batang rotan yang telah tumbuh memanjang dan mencapai tajuk, tetap tumbuh bersama dengan pepohonan yang selama ini telah digunakannya untuk menggapai cahaya matahari. Berpolitik ala rotan mudah dilihat pada suasana yang dibentuk oleh para founding fathers negara kita dahulu. Mereka tidak sungkan saling mengingatkan satu sama lainnya, bahkan sampai berdebat sengit, jika ada yang bertindak menyimpang dari apa yang dicita-citakan bersama untuk bangsa dan negara. Keras, tajam, menuju kepada inti masalah tanpa ada basa basi. Tetapi di luar itu, mereka umumnya tetap menjalin silaturahmi. Tidak perlu disebutkan siapa saja orangnya, tetapi rata-rata seperti itulah watak pada bapak bangsa tersebut.

Lain ceritanya dengan politisi yang memakai aliran beringin pencekik ini. Saat masih kecil dan belum terlihat berarti di hadapan orang banyak, oknum politisi seperti ini sering menempel pada partai atau organisasi yang sudah lebih besar dan berkembang. Kemudian ketika namanya telah dikenal masyarakat, dia seperti kacang yang lupa akan kulitnya. Boleh jadi partai, lembaga atau bahkan orang lain yang telah ikut membesarkan namanya ditinggalkannya begitu saja membusuk dan layu, sementara dirinya telah berkibar dan berdiri di puncak. Bahkan, ada pula yang tidak malu-malu menyeberang ke partai lain yang dahulunya mungkin berseberangan dengan dirinya dan partai lamanya.

Fenomena ini mungkin yang banyak kita lihat ada pada situasi politik kontemporer Indonesia belakangan ini. Banyak politisi yang tidak segan-segan mengenyampingkan nilai-nilai luhur persatuan bangsa, selama tujuannya (atau kadang tujuan dari partainya) bisa dicapai. Sama persis kejadiannya seperti batang beringin pencekik tadi. 

Sangat menarik untuk mengikuti alur perpolitikan tanah air kita ini. Apalagi jika perumpaan-perumpaan yang ada di alam terus digunakan sebagai pengingat tentang bagaimana berpolitik yang santun bagi yang terlibat di dalamnya. 


Tag :opiniMNazriJanra