HOME OPINI OPINI

  • Senin, 18 Maret 2019
Paku Air (diplazium esculentum)
Muhammad Nazri Janra

Kaluak Paku
Kacang Balimbiang
Anak di pangku
Kamanakan di bimbiang

Kekhasan Urang Awak di Minangkabau ini untuk memberikan petuah dan pelajaran berharga kepada kaum penerus melalui petatah petitih memang patut diacungi jempol. Memasangkan sampiran “Kaluak Paku” dan “Kacang Balimbiang” agar berima sama dengan isi pantun singkat “Anak dipangku” dan “Kamanakan dibimbiang” seakan-akan menyiratkan bahwa selain melakukan pembinaan secara psikis kepada generasi muda penerus bangsa, juga harus disertai dengan memberikan mereka asupan gizi yang baik dan menunjang pertumbuhan tubuhnya.

Paku yang dimaksud dalam pantun tersebut adalah Paku Air (Diplazium esculentum [Retz.] SW.). Sedangkan Kacang Balimbiang adalah tumbuhan merambat yang dikenal dengan nama Indonesia Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) D.C.).

Sesuai dengan urutannya, mungkin kali ini kita akan membahas tentang Paku Air saja. 
Paku air atau pakis sayur, merupakan tumbuhan yang banyak tumbuh di Kepulauan Nusantara sampai ke Kepulauan Pasifik dan telah lama dikonsumsi oleh penduduk setempat. Sebagai tumbuhan konsumsi, rasanya belum ada terdengar kalau paku ini dibudidayakan secara komersial. Selama ini konsumsi masyarakat dipenuhi langsung dari sumber yang diambil di alam.

Paku ini paling banyak tumbuh pada daerah-daerah dataran rendah sampai sedang yang lembab, basah dan mempunyai aliran air sehingga keberadaannya mengindikasikan adanya sumber air di suatu kawasan. 
Bagian yang digunakan untuk konsumsi dari paku air ini adalah daunnya yang masih muda, sesuai dengan yang diisyaratkan di dalam sampiran pantun di atas “Kaluak Paku” yang berarti daun paku yang masih dalam lekukan.

Memang, setiap tumbuhan yang termasuk ke dalam golong Pteridophyta akan mempunyai ciri daun muda yang selalu menggulung dan akan tumbuh membuka seiring dengan bertambahnya usia daun. Semakin tua usia daun, semakin keras struktur daunnya, karena semakin banyak mengandung lignin (zat kayu) dan serta senyawa lain yang membuat daun tidak layak untuk dikonsumsi. 

Nah, kembali ke “Pucuak Paku yang Bakaluak” tadi. Layak konsumsinya bagian daun ini dikarenakan banyaknya kandungan nutrisi yang sangat baik untuk pertumbuhan sel di dalam tubuh manusia. Kandungan pertama yang cukup tinggi adalah Vitamin C sebanyak 30 mg dalam 100 gram daun dan Betakaroten (bakal calon Vitamin A) sebanyak 432 RE dalam proporsi jumlah daun yang sama. Kedua zat ini berperan penting dalam penyembuhan luka serta meningkatkan kekebalan tubuh terhadap serangan bakteri dan penyebab infeksi. 

Pucuk paku air juga mengandung mineral kalium dan fosfor, dua unsur penting yang sangat diperlukan untuk membentuk tulang yang kuat. Selama ini orang hanya tahu bahwa susu adalah sumber utama kedua mineral ini, sehingga cenderung untuk mendapatkannya hanya dari sumber tunggal tersebut.

Dalam ilmu nutrisi, suatu unsur nutrisi sebaiknya diperoleh dari beragam sumber makanan untuk mendapatkan manfaat terbaik dari unsur tersebut. Selain tentunya untuk menghindari rasa bosan ketika mengkonsumsi suatu sumber makanan yang cenderung monoton. Maka, di sini paku air hadir menjadi alternatif konsumsi untuk individu yang sedang dalam masa pertumbuhan. 

Beberapa unsur terakhir yang cukup penting dan terkandung di dalam pucuk paku air adalah flavonoid dan polifenol. Kedua zat non gizi ini tidak kalah penting, karena bersifat sebagai antioksidan yang berperan dalam memerangi berbagai radikal bebas yang semakin banyak terdapat di lingkungan kita sekarang ini. Radikal bebas adalah senyawa yang bertanggungjawab dalam menyebabkan penuaan dini, kanker serta penyakit-penyakit degeneratif lainnya. Selain itu, kandungan serat yang tinggi pada daun paku air muda juga sangat membantu proses pencernaan dengan membersihkan saluran pencernaan dan memperlancar konstipasi. 

Untuk mendapatkan manfaat yang sudah diuraikan di atas tadi, maka sebaiknya perlu berhati-hati dalam proses pengolahan sebelum dikonsumsi. Pertama-tama, sebaiknya pucuk paku air yang akan dikonsumsi masih segar dan tidak layu. Akan lebih baik lagi kalau pucuk paku yang dikonsumsi langsung dipetik sendiri, sehingga dapat dipastikan kesegarannya.

Kemudian, sebaiknya dicuci terlebih dahulu sebelum dipotong (bahasa Minangnya: “Dipasiangan”). Proses mencuci jangan terlalu lama, cukup untuk memastikan tidak ada kotoran atau kadang-kadang ada hewan atau serangga yang ikut terbawa bersama pucuk paku yang telah dipetik. Juga supaya kandungan Vitamin C dan Betakaroten di dalam daun dan batang muda tidak hilang terbawa air, khususnya untuk Vitamin C yang mudah terlarut dalam air.

Kemudian yang terakhir, jangan memasak terlalu lama, karena banyak sekali zat nutrisi yang dapat rusak teroksidasi jika terlalu lama dipanaskan. Makanya, walaupun enak, rendang paku sebenarnya merupakan cara paling tidak dianjurkan untuk mendapatkan manfaat optimal dari kandungan paku air, karena yang tertinggal dalam tipe masakan ini hanya kandungan seratnya saja. 

Memang benarlah bijaknya orang tua kita dahulu, yang telah meninggalkan berbagai nasehat bijak yang mereka wariskan kepada generasi selanjutnya. Kebijakan yang mereka dapatkan dari hasil interaksi yang sangat intens dengan alam lingkungannya yang disemboyankan dengan “Alam Takambang Jadi Guru.”


Tag :opiniMNazriJanra