HOME OPINI FEATURE

  • Jumat, 15 Januari 2021
Minum TST; Tradisi Minum Teh Talue ala Urang Awak di Kota Medan
Rismal, S.Pd (Guru SMAN 5 Medan)

Minum TST; Tradisi Minum Teh Talue ala Urang Awak di Kota Medan


Oleh Rismal, S.Pd
(Guru SMA Negeri 5 Medan, urang awak merantau ke Medan)

 

Siapakah yang tak pernah mendengar nama Kota Medan? Ibukota propinsi Sumatera Utara yang ditahbiskan sebagai kota nomor satu dan terbesar di Pulau Sumatera.

Dilihat dari luas wilayah dan kepadatan penduduk serta denyut nadi ekonomi masyarakat, Medan memang layak menyandang status sebagai kota metropolitan. 

Ditambah lagi Kota ini memiliki sejarah panjang dan sudah lama dikenal sebagai kota multikultur dengan berbagai etnis yang hidup berdampingan secara harmonis.

Etnis asli di kota Medan ialah orang kampung atau yang dikenal dengan suku Melayu Deli, yang leluhurnya ditelusuri berasal dari wilayah dataran tinggi Karo.

Di samping itu terdapat etnis pendatang seperti etnis Batak, Nias, Aceh, Jawa, Sunda, Banjar dan Minang dan juga etnis keturunan seperti India, Arab, Tionghoa.

Uniknya untuk kawasan permukiman tempat tinggal terdapat pembagian wilayah untuk etnis tertentu seperti kawasan Padang Bulan sekitarnya untuk tempat tinggal etnis Karo, seputaran jalan Asia untuk kawasan perumahan dan bisnis orang Tionghoa serta Sukaramai (jalan Denai, Bakti, Bromo, Tembung ) dan Kotamatsum  (Jalan Japaris,  Halat, Puri, Ismailiyah, Amaliun, Utama) adalah basis pemukiman dan bisnis urang awak (Minang) di Kota Medan. 


Dalam konteks masa kini, maka posisi Kota Medan adalah sebagai daerah rantau yang didatangi oleh Urang Awak (Minang). Menurut  survey  kependudukan  tahun 2010, populasi Urang Awak di Kota Medan mencapai 8,6 % dari jumlah keseluruhan penduduk Kota Medan dan diperkirakan pada dasawarsa kedua abad 21 terus mengalami peningkatan seiring dengan kebiasaan merantau yang telah lama dan terus berlangsung.

Orang Medan sudah lama mengenal dan menyebut Urang Awak (Minang) dengan sebutan orang Padang, dan untuk selanjutnya akan dipakai istilah orang Padang. Walaupun penyebutan ini sebenarnya kurang tepat karena Urang Minang di kota Medan bukan hanya berasal dari kota Padang semata tetapi ada juga yang berasal dari Bukit Tinggi, Payakumbuh, Solok, Pariaman dan daerah lainnya di Sumatera Barat.


Berbicara profesi yang dilakoni orang Padang di Medan banyak berkecimpung di bidang bisnis dan jasa. Bisnis yang banyak digeluti orang Padang di Kota medan didominasi oleh bisnis Kuliner. Di berbagai sudut dan sepanjang jalan di kota Medan jamak ditemui berbagai kedai nasi, rumah makan dan restoran Padang. Ada juga yang menjajakan dagangan sate Padang atau Lamang Tapai dengan memakai gerobak atau mangkal dipinggir jalan. Hal tersebut sebenarnya tidaklah mengherankan sebab ranah minang sudah kesohor dengan berbagai jenis kuliner baik makanan dan minuman yang lezat dan menggugah selera.

Rendang sebagai masakan khas dari Sumatera Barat seperti merupakan menu wajib hidangan yang akan disantap. Bahkan kantor berita Inggris BBC telah menobatkan rendang sebagai masakan terlezat didunia. 


Sesungguhnya bukan hanya masakan lezat saja yang mampu dibuat oleh Urang Awak, namun kuliner minumannya pun tak kalah khas dan nikmatnya. Malahan bisa disebut minuman ini termasuk jenis kuliner yang sulit dibuat oleh masyarakat non-minang karena butuh sentuhan dan tata-cara yang khas yang lekat dengan karakter masyarakat Minangkabau itu sendiri.

Apa itu? Masyarakat Medan menyebutnya dengan TST (Teh Susu Telur) atau yang familiar disebut dengan "Teh Talua". Selain lezat dan nikmat, Teh Talua dipercaya memiliki berbagai khasiat. Di antaranya, menghangatkan badan, penambah stamina dan energi serta diyakini mampu mengatasi rasa lelah dan penat sehabis bekerja.

TST atau Teh talua terbuat dari kuning telur bebek atau telur ayam kampung yang terlebih dahulu dikocok bersama gula pasir dengan mixer sampai mengembang, dan kemudian diseduh dengan air teh panas mendidih serta terakhir tambahkan tiap gelas susu kental manis secukupnya. Untuk menghilangkan bau anyir/amis dari telur bebek maka bisa diberi perasan jeruk nipis. 

Hal lain yang menarik adalah tampilan pada permukaan gelas minuman yaitu terdapat buih yang melimpah dan terdiri dari beberapa lapis. Rasa teh talua mirip seperti teh tarik, namun lebih gurih di lidah sebab menggunakan telur. Buihnya yang tebal juga berasal dari telur. 


Teh talua merupakan minuman favorit bagi orang Padang di Medan terutama kalangan  anak muda atau kaum milenial. Bahkan yang mencengangkan minuman ini juga diminati oleh anak muda dari etnis lain dan selalu banyak dipesan di berbagai cafe pada saat hang-out bersama teman dimalam minggu atau weekend.

    
Di sepanjang jalan di kawasan pemukiman Komunitas orang Padang di Kota Medan banyak berjajar cafe atau tempat makan yang mencantumkan dan menyajikan minuman TST dalam daftar menu kepada para pengunjung. Tempat- tempat yang populer  menyajikan TST yang enak terdapat di sekitar jalan Puri, jalan Ismailiyah, Jalan Amaliun,  jalan Halat, Jalan Bromo dan berbagai tempat lainnya. Harga yang ditetapkan cukup terjangkau untuk isi kantong berkisar Rp 10.000–15.000 per porsi/gelas. 

‌Sesungguhnya menikmati Teh Talua bagi masyarakat Minangkabau tidak hanya sekadar pelepas dahaga dan penambah tenaga. Namun, sesungguhnya terdapat kandungan nilai-nilai sosial yang kuat di dalamnya. Teh Talua merupakan unit terkecil dari komponen utama perilaku sosial Urang Awak yaitu "Surau, Lapau, Gurau".Bagi Urang Awak, menikmati Teh Talua adalah ajang "Maota", dimana Maota adalah partikel dari "Surau, Lapau, Guru" tadi.

Dari meja Teh Talua akan terlahir ide, solusi, negosiasi, serta sosialisasi. Hal tersebut semakin memperkuat identitas urang awak atau Orang Padang yang berusaha untuk selalu mencari manfaat dari setiap tindakan atau usaha yang dilakukan.

Seperti kata pepatah Duduak Marajuik Jalo, Tagak Maninjau Jarak. Bahwasanya 
‌orang Minang adalah tipikal pekerja di mana bekerja yang dimaksud bukan hanya aktifitas gerak tubuh semata, namun juga  berdiskusi melahirkan ide dan gagasan, serta perencanaan yang nantinya akan diaktualisasikan dalam perilaku bergotong royong. "Saciok bak ayam, sadanciang bak basi". Semuanya bisa berawal dari meja Teh Talua.

Demikianlah cara masyarakat Minangkabau menikmati kuliner. Ada kenikmatan, ada sikap sosial dan gotong-royong. Tak terkecuali masyarakat Minangkabau perantau di Kota Medan. Semoga kehadiran Teh Talua semakin mengukuhkan eksistensi kekayaan warisan tradisi Minangkabau di seluruh Nusantara.


Tag :#TehTalue #TST #Medan