HOME OPINI OPINI

  • Minggu, 21 April 2019
Merahasiakan Pilihan dan Dampaknya
Sartana

Merahasiakan Pilihan dan Dampaknya

oleh Sartana

(Dosen Psikologi Sosial Unand)

 

Pada era Orde Baru,  pemilihan umum dirancang dengan asas luber jurdil. Langsung, umum, bebas, rahasia. Juga jujur dan adil. Doktrin demikian terus diulang-ulang. Meskipun dalam prakteknya, pemilu yang berlangsung tidak berjalan sesuai dengan azas tersebut.

Sebagai misal, pada pemilu masa orde baru, orang tidak benar-benar bebas untuk memilih. Pada waktu itu, masyarakat diarahkan untuk memilih partai politik tertentu. Bahkan, ketidakbebasan itu didukung oleh mesin birokrasi pemerintah yang mestinya bersikap netral.

Kalau itu dianggap sebagai kecurangan, maka praktek kecurangan pada waktu itu dapat dikatakan berlangung secara terstruktur dan massif. Karena kecurangan itu memang dikoordinir dari atas, dikerjakan oleh sistem, dan berlangsung merata hampir di seluruh wilayah Indonesia. 

Namun demikian, bukan karena praktek itu, lalu asas yang sudah dirumuskan dan dijadikan landasan pemilu tersebut menjadi cacat karenanya. Saya menganggap asas tersebut memang harus dijadikan prinsip dalam pelaksanaan pemilu. Saya menilai, dengan asas-asas tersebut pemilu akan berjalan lebih baik dan berkualitas.

Dan menurut saya, salah satu asas penting yang harus ditegakan dalam pemilu adalah asas rahasia. Pemilu yang berasaskan rahasia menuntut masyarakat agar suara yang diberikan oleh pemilih bersifat hanya dapat diketahui oleh pemilih itu sendiri. Dalam hal ini, orang tidak boleh mengumbar pilihannya kepada orang lain atau publik.

Sebelum internet dan media sosial berkembang seperti sekarang, asas tersebut gampang untuk dikerjakan. Karena orang tidak cukup ruang untuk pamer pilihannya kepada masyarakat. Andai pun orang menceritakan pilihannya, ia hanya memberitahukannya pada orang-orang terdekat. Tidak sampai dipamerkan ke publik.

Namun, dengan adanya internet, khususnya media sosial, asas kerahasiaan tersebut menjadi sulit dan kompleks untuk dipraktekan. Karena, ketika berinteraksi di media sosial, orang cenderung mengalami kebingungan untuk membedakan ruang privat dan publik. Termasuk juga sulit untuk memilah lingkungan pertemanan yang tergolong sebagai teman dekat dan teman yang jauh, atau massa yang tidak di kenal.

Implikasi dari kondisi itu adalah mereka juga menjadi gagal dalam menentukan batas-batas perilaku yang bisa ditampilkan di media sosial dan yang tidak. Bukankah kita sering melihat orang mengunggah foto-foto di ruang privat rumah mereka di media sosial? Misalnya foto saat seseorang di kamar pribadi, di dapur, atau ruang-ruang privat yang lain. Peristiwa yang nampaknya sederhana itu merepresentasikan adanya perubahan-perubahan pada individu dalam mengkonsepsikan ruang hidupnya.

Terkait pilihan politiknya, orang juga mengalami pemahaman yang sama. Orang menganggap tidak jadi soal untuk mempublikasikan di media sosial. Karena, mereka menganggap akun media sosialnya adalah akun pribadi. Sehingga, mereka pun merasa bebas untuk mengungunggah apa saja di laman media sosialnya.

Selain itu, keinginan orang untuk mempublikasikan pilihannya juga didasari oleh dorongan-dorongan eksistensial. Yaitu karena orang ingin merasakan diri dirinya hadir dan ada di tengah panggung sosial. Penjelasan ini mengasumsikan bahwa manusia memiliki dorongan dasar untuk mengada dan menjadi. Dan untuk merasakan dirinya ada itu, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mendapatkan pengakuan atau perhatian orang lain.

Dan terkait kebutuhan untuk eksis itu, mengumumkan pilihan politik dapat menjadi sarana efektif seseorang untuk merebut perhatian publik. Di media sosial, unggaran status tentang itu dapat memancing orang untuk memberi jempol atau komentar. Respon publik tersebut dapat menimbulkan rasa nyaman dan senang pada individu, karena kebutuhan eksistensinya terpenuhi.

Dorongan untuk mempublikasikan pilihan itu juga didukung oleh situasi yang mana banyak juga orang lain yang mempublikasikannya. Sehingga, karena itu, hal yang awalnya tabu itu, ia menjadi hal yang normal untuk dilakukan. Masing-masing orang menganggap hal yang dilakukan wajar dan tidak keliru. Bukankah kebenaran itu selalu hanya soal kesepakatan. Bila kesalahan dilanggar oleh banyak orang, bukankah orang ia akan menjadi kebenaran.

Di sisi lain, merahasiakan pilihan lebih baik karena pilihan itu memiliki implikasi relatif lebih bagus untuk menciptakan kehidupan yang harmonis. Ketika masing-masing orang tidak tahu pilihan orang yang lain, mereka juga akan abai terhadap perbedaan preferensi politik ketika mereka berinteraksi. Sehingga, mereka juga tidak akan membangun sekat-sekat sosial yang memungkinkan mereka berbicara lebih longgar.

Di luar itu, perilaku untuk merahasiakan pilihan itu juga akan berdampak jangka panjang pada cara seseorang menilai calon yang didukung maupun yang tidak. Hal ini terjadi karena manusia memiliki dorongan dasar untuk menunjukan dirinya sebagai diri yang konsisten. Sebagian besar orang tidak nyaman menemukan diri mereka berbeda dengan diri yang sebelumnya. Atau terlihat plin plan.

Keinginan untuk terlihat konsisten tersebut menjadikan orang cenderung berpikir bias dalam memahami dan menilai realitas politik. Penilaiannya akan dipengaruhi oleh sikap yang sebelumnya pernah dikemukakan ke orang lain atau publik. Misal, ketika sebelumnya dia memilih si A, maka sepanjang waktu, orang akan cenderung konsisten mendukung si A. Hampir di semua situasi. Terlepas A itu salah atau atau benar. Artinya, dukungannya lebih berupa dukungan yang membabi buta daripada dukungan yang rasional dan objektif.

Itu pula yang secara sosial menjadikan pertarungan para pendukung capres sejauh ini terjadi begitu sengit. Dan ia terus berlangsung, tidak berkesudahan. Karena, sebenarnya, bila seseorang sudah memiliki keperbihakan dukungan kepada tokoh tertentu sebelumnya, apa yang dikerjakan selanjutnya hanya akan mengkonfirmasi  atau membenarkan sikap awalnya tersebut.

Di sisi lain, orang yang tidak mengumbar pilihannya ke publik, mereka tidak memiliki beban untuk berpindah haluan. Cara pikirnya akan  lebih objektif dan realistis. Karena, mereka tidak ada beban dan tuntutan untuk membuktikan kepada publik bahwa dirinya berlaku konsisten atau tidak. Mereka lebih leluasa dan secara konsisten membela nilai dan ideologi yang diyakini, alih-alih sekedar membela orang atau calon yang didukung.

Mempertimbangkan realitas demikian, karenanya akan lebih baik bila para pendukung calon tertentu, dalam setiap pemilihan umum, tidak usah mempublikasikan tokoh yang didukung. Toh, orang tidak tahu pilihan kita, juga tidak akan menimbulkan masalah. Namun, bagi yang sudah terlanjur mempublikasikan, kiranya penting untuk sering-sering melakukan refleksi diri. Supaya dapat dapat menghindarkan diri dari aneka macam bias dalam memahami realitas, yang tidak saja mengganggu diri, namun juga orang lain. Termasuk juga dapat menghindarkan diri kita menjadi budak pasif dari tokoh yang kita dukung, sampai kita lupa pada tujuan hidup kita sendiri.  


Tag :opini Sartana