HOME OPINI OPINI

  • Jumat, 19 April 2019
Menyatukan Kembali Masyarakat Terbelah
Sartana

Menyatukan Kembali Masyarakat Terbelah

Sartana
(Dosen Psikologi Sosial Universitas Andalas)

Pemilihan umum yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh masyarakat telah terlaksana. Kita tinggal menunggu Komisi  Pemilihan Umum (KPU) untuk menghitung  dan mengumumkan suara  yang sudah diberikan masyarakat. Dan kita semua berharap, setelah ini, kita masuk kembali pada kehidupan sosial yang normal. 

Apa yang dimaksud kembali pada kehidupan sosial yang normal? Kita tahu, sejak masa kampanye pemilihan presiden 2014, kehidupan sosial masyarakat cenderung menyimpang dari yang biasanya. Masyarakat terbelah dalam dua kelompok dan tercipta polarisasi yang kuat antara keduanya. Bahkan, mereka sampai  menggunakan nama satwa tertentu untuk menjuluki kelompok yang lainnya. 

Salah satu konsekuensinya, relasi antar grup tidak cair. Oleh karenanya, pesan-pesan di satu kelompok  yang satu sulit merembes ke grup yang lain. Dua kutub ekstrem yang mereka bentuk telah mendorong masing-masing mereka membuat pagar batas untuk saling berinteraksi. Sehingga, dalam banyak kesempatan, dialog gagal terlaksana. Masing-masing bermonolog dengan pandangan, keyakinan, dan kebenarannya sendiri.

Dari waktu ke waktu, bahkan sudah berjalan hampir lima tahun, pengkutuban sosial tersebut tidak juga mencair. Sebagai dampaknya, sepanjang waktu itu, relasi-relasi yang berlangsung di kehidupan masyarakat selalu terseret dalam arus polarisasi sosial itu. 

Tentu, yang kena getah dari kondisi sosial demikian tidak saja mereka yang terlibat. Namun juga masyarakat secara umum. Kita dapat merasakan bagaimana sulitnya untuk menempatkan diri dan bersikap terkait aneka macamkejadian sosial selama lima tahun terakhir. Kita menjadi serba salah dalam memposisikan diri.

Semua sikap kita tidak ada yang benar. Ketika kita mengkritisi pemerintah, kita dianggap sebagai pendukung kelompok yang tidak pro pemerintah. Meskipun, sebenarnya pada waktu itu kita hanya ingin memerankan diri sebagai warga negara yang kritis. Di sisi berbeda, ketika kita mendukung kebijakan pemerintah, kita juga dianggap pro kelompok pendukung pemerintah. Padahal, untuk kemaslahatan bersama, kita memang perlu mendukung kerja-kerja pemerintah yang memang sudah sesuai dengan tujuan kita berbangsa dan bernegara.

Ya, suasana polarisasi kelompok itu tidak memberi ruang kepada warga negara yang ingin sekedar menjadi “warga negara” yang baik. Tidak sebagai warga negara yang tergabung dalam kutub-kutub kelompok sosial yang saling berkompetisi dan berseteru itu. Karenanya, perseteruan demikian sebenarnya telah menghambat gerak bangsa kita untuk maju lebih cepat. 

Bahwa konflik dan perseturuan dalam organisasi atau negara memang diperlukan, karena ia merepresentasikan situasi yang dinamis, namun konflik yang tidak terkelola dengan baik justru akan kontraproduktif. Dan saya melihat, selama hampir lima tahun itu, kita sebagai bangsa terjebak dalam pusaran itu.

Saya kira, banyak orang berharap kondisi itu berubah pasca 17 April 2019 kemarin. Kutub-kutub sosial yang beku itu dapat mencair. Hubungan-hubungan sosial di masyarakat akar rumput, juga di kalangan elit, tidak lagi dipenuhi warna perseteruan. Namun, penuh dengan riasan persaudaraan dan sikap saling mendukung.
Karena sangat tingginya harapan itu, jauh-jauh hari sebelum hari pencoblosan, orang ingin roda waktu bergerak cepat. Agar ia segera sampai hari H. Kita sudah sangat merasa lelah. Betapa tidak nyamannya hidup dalam kubangan “perkelahian” tanpa henti itu. Orang ingin bernapas lega, lepas dari jerat jejaring wacana yang diproduksi dan disebar untuk menyerang dan menjatuhkan pihak yang lain.

Dan kini, masa pencoblosan itu telah berlalu. Sayangnya, situasi damai itu tidak sungguh-sungguh hadir bulat utuh seperti bulan purnama. Dalam banyak sisi, tentu, keadaanya lebih baik dari sebelumnya. Paling tidak, sekarang, masyarakat sedang sibuk memikirkan realitas yang sedang ada di depan matanya. Baik mereka pendukung calon yang untuk sementara memperoleh kemenangan versi hitung cepat, juga pendukung calon yang kalah.

Perilaku mereka tidak sedang lagi dibimbing oleh harapan dan ilusi yang memabukan oleh dunia yang mereka andaikan. Meskipun, antara kedua kelompok bisa juga masuk perangkap ketidaknormalan psikososial yang baru. Yang merasa menang dimabuk kemenangan, yang merasa kalah juga berpeluang terjangkit gejala untuk menolak kenyataan.

Meskipun, untuk membangun kembali masyarakat yang terbelah juga tidak mudah. Selalu butuh perjuangan untuk menghapus dan membentuk ulang keyakinan-keyakinan yang sudah melekat pada benak masyarakat. Perlu ada narasi-narasi besar tentang persatuan bangsa yang perlu terus didengungkan oleh masyarakat. 
Narasi demikian khususnya harus dikerjakan oleh para elit. Karena, peran elit sangat penting dalam menyusun ulang struktur sosial yang sudah terbentuk tersebut. Karena, pada masyarakat kolektifis, individu-individu secara umum tidak memiliki independensi dalam bersikap dan berperilaku. Diri kita adalah diri yang interdependen, senantiasa tertaut dengan orang-orang lain. Pengetahuan dan keyakinan kita pun sangat dipengaruhi oleh orang lain.

Di luar itu, secara umum, masyarakat memahami kehidupan sosial dalam struktur hirarkhis tertentu. Masyarakat ada sebagai lapisan-lapisan sosial berjenjang. Dan mereka menentukan sikap dan perilakunya cenderung merujuk pada kelas sosial yang di atasnya. Walaupun, persepsi tentang hirarkhi sosial tersebut berbeda-beda antar kelompok masyarakat.  

Secara khusus,  masyarakat Indonesia,  struktur hirarkhi sosialnya tergolong kuat. Karenanya, perilaku sebagian besar masyarakat sangat ditentukan oleh pernyataan dan tindakan-tindakan kelompok elit di masyarakat. Oleh karenanya, sekali lagi, semestinya para tokoh masyarakat lebih berhati-hati dalam membuat pernyataan. Selain juga harus terus menyuarakan pesan persatuan bangsa, dan tidak sekedar memperjuangkan kelompoknya.

Di luar itu, media massa juga menduduki peran yang tidak kalah penting. Terutama televisi dan media-media massa online. Karena, saat ini, dua media ini yang paling mudah diakses dan paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Bagaimana masyarakat memahami dunia sangat ditentukan oleh siaran atau berita-berita yang ditampilkan media tersebut.

Dan, tentu, semua masyarakat pun juga perlu terlibat untuk menjalin kembali kehidupan sosial yang sempat terkoyak itu. Bila tidak dapat berperan aktif membangun wacana persatuan dan keindonesiaan, paling tidak kita bisa menjaga suasana agar tetap sejuk dan harmonis. Menjaga diri agar tetap waras, sehingga dapat menghindarkan diri dari aneka provokasi dan drama yang sengaja dibangun oleh kelompok tertentu. 

Evolusi panjang kehidupan organisme telah membuktikan bahwa organisme yang dapat survive adalah bukan mereka yang kuat, namun mereka yang dapat bekerjasama. Pun demikian peradaban sebuah bangsa. Sebuah bangsa akan tetap bertahan bila warga masyarakatnya bisa bisa saling menjaga, bekerjasama, dan melindungi. Karenanya, demi keutuhan dan keberlangsungan bangsa Indonesia, kita semua harus menempatkan kepentingan bersama di aras paling luhur dalam kehidupan sosial kita, di atas kepentingan golongan, apalagi pribadi.


Tag :opiniSartana