HOME OPINI OPINI

  • Sabtu, 30 Maret 2019
Mengayuh Kaki di Antara Tradisi dan Globalisasi
Sartana

Mengayuh Kaki di Antara Tradisi dan Globalisai

Oleh Sartana
 

Globalisasi adalah hal yang hampir mustahil bisa kita lawan. Bila beberapa tahun lalu, ia hanya menjadi jargon kosong yang sering menghiasi pidato-pidato, hari ini globalisasi adalah hal yang ada dan nyata hadir di hadapan kita. Baju yang kita kenakan, makanan yang kita makan, tontonan yang kita lihat, semua dapat menjadi indikasi bahwa globaliasasi telah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Kita sudah terperangkap di dalamnya.
Lebih dari itu, hari ini, sistem mental kita pun juga tidak lepas dari pengaruh globalisasi. Bahkan, bisa dikatakan, kita sudah dicengkeram dengan erat oleh kekuatan-kekuatan tersebut. Cara kita berfikir, cara merasa, dan cara berkehendak kita telah terprogram sedemikian rupa oleh aneka kekuatan yang bekerja di balik gerakan globalisasi.
Saya tidak mengatakan bahwa globalisasi itu buruk. Sama sekali tidak. Namun, bahwa ia telah mengubah tatanan-tatanan yang selama ini kita anggap benar dan mapan, itu adalah fakta yang tidak bisa ditolak. Globaliasi telah menggusur kepercayaan, nilai, norma, juga standar-standar hidup yang telah kita jalani selama ini.
Proses yang demikian dapat dengan mudah kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari soal yang remeh temeh, hingga hal-hal yang mendasar dalam hidup. Misalnya, dalam hal berpakaian. Kita dapat dengan mudah melihat, betapa beda gaya dan standar berpakaian orang-orang muda zaman sekarang, baik yang tinggal di kampung maupun di kota. Pakaian yang mereka kenakan tidak saja merujuk pada gaya berpakaian artis-artis ibu kota, namun meniru gaya artis Timur Tengah, Korea, Jepang, India, Eropa, Amerika, dan belahan bumi lainnya.
Gejala serupa juga berlangsung pada gaya mereka makan, berbicara, membelanjakan uang, dan lain sebagainya. Mereka meninggalkan cara-cara lama dalam berperilaku, dan mengembangkan cara hidup baru. Orang-orang secara perlahan meninggalkan adat dan tradisi, menggantinya dengan cara hidup yang dianggap lebih modern.
Apakah orang-orang yang mengubah cara hidup tersebut salah? Jawaban pertanyaan ini akan menjadi penanda bagaimana sikap seseorang terhadap tradisi di satu sisi, dan modernisasi di sisi yang lain. Sebagian orang akan mengutuk perubahan-perubahan sikap tersebut. Menganggap orang-orang itu telah meninggalkan tradisi, tidak sopan, dan aneka cap yang lain. Pada sisi berbeda, orang-orang memaklumi perubahan perilaku tersebut. Bahkan juga menerima atau mendukungnya.
Tentu, tidak mudah untuk menilai di antara dua sikap tersebut yang paling benar. Bisa jadi, dua-duanya benar. Mereka yang berpendapat tentang pentingnya menjaga tradisi, tentu didasari oleh pandangan bahwa sejauh ini tradisi yang berlangsung telah terbukti menjamin kehidupan sosial berjalan normal. Meski belum mencapai keadan yang diharapkan, adat dan tradisi menawarkan sesuatu yang lebih pasti dibanding dengan nilai-nilai dan cara hidup yang baru.
Namun demikian, mereka yang memilih meninggalkan cara hidup lama, dan lebih memilih mengikuti cara-cara hidup baru juga memiliki pembenaran terhadap pilihan hidupnya. Bahwa hidup berjalan ke depan dan tidak mundur ke belakang. Perubahan adalah hal yang tidak bisa ditolak. Menolak perubahan akan berdampak pada kehidupan yang sekarang dan masa depan. 
Mereka sangat mengerti, betapa sulitnya mereka untuk menyesuaikan diri dengan dunia sekitar ketika mereka memegang cara-cara hidup yang lama. Tidak saja merasa kurang nyaman, namun secara sosial mereka juga kesulitan untuk membangun koneksi dengan orang lain. Dan hal itu dapat menimbulkan pengalaman teralienasi yang dapat meruapkan rasa sepi luar biasa bagi mereka. 
Lalu, untuk mengarungi hari esok, orang juga harus menyiapkan diri dengan mempelajari pengetahuan dan ketrampilan-ketrampilan yang dituntut oleh masa depan. Misalnya, orang harus belajar bahasa, komputer, dan yang lainnya. Termasuk cara-cara hidup baru yang menjadi tuntutan sosial masyarakat zaman sekarang dan nanti.
Karena situasi yang demikian, tentu, orang harus mempertimbangkan tradisi sekaligus arus globalisasi, untuk mengarungi hidup hari ini. Dalam beberapa hal, orang perlu untuk meninggalkan cara hidup lama yang sudah usang, dan menggantinya dengan cara hidup baru. Karena bagaimana pun, zaman telah berubah. Orang harus menyesuaikan diri agar dapat terus bertahan hidup. Sementara cara-cara yang lalu, memang kadang sudah tidak dapat dipakai lagi untuk hidup di hari ini. Apalagi untuk esok hari.
Namun, di sisi lain, banyak juga dari unsur-unsur tradisi yang harus terus dipegang dan dipertahankan. Sistem nilai dan norma yang diwariskan nenek moyang dan orang tua kita dari generasi ke generasi pada dasarnya adalah rumus hidup yang sudah diuji berulang kali. Ia mengandung kebenaran yang mendalam, sehingga terus dipegang dan dilestarikan. 
Mereka melihat bahwa di antara perubahan-perubahan yang terjadi, ada hal-hal yang hakiki dan sejati yang senantiasa ada dan sama dari zaman ke zaman. Dan berdasarkan pembacaan itu, orang-orang terdahulu mencoba membuat rumus atau pola untuk bertahan hukum hidup. Lalu,  mereka memwariskanya pada anak cucu agar mereka dapat sukses dan selama dalam menjalani hidup.      
Mengarungi hidup hari ini, harus seperti orang melangkahkan kaki. Kaki yang satu berpijak pada adat dan tradisi, sementara kaki yang lainnya harus mengayun mengikuti gerak zaman yang terus berganti. Tentu, tidak mudah untuk menata irama ayunan yang pas antara keduanya, agar hidup tidak terseok-seok atau jatuh sempoyongan. Namun, dengan kesediaan kita untuk terus belajar dan menempa diri, hidup selaras yang demikian sangat mungkin terjadi.   

(Sartana, Dosen Psikologi Sosial Unand)


Tag :opiniSartana