HOME OPINI OPINI

  • Selasa, 9 April 2019
Keadilan yang Berperi Keburungan
Muhammad Nazri Janra

Keadilan yang Berperi Keburungan

Oleh: Muhammad Nazri Janra

Dalam soal memberikan pelajaran tentang kehidupan, alam dan lingkungan tidak pernah kekurangan contoh. Banyak persoalan hidup yang bisa dinisbahkan kepada kejadian-kejadian tertentu yang diperlihatkan oleh alam. Pun soal keadilan, alam merupakan tempat berguru terbaik yang tiada duanya.

Beberapa waktu yang lalu, telah diceritakan tentang sekelompok burung kecil yang saling bekerjasama untuk menghadapi marabahaya di lingkungannya yang makin terbuka. Sekarang, kita akan mencoba lebih mendalami peri kehidupan mereka yang lain, terutama yang terkait dengan perbiakannya.

Burung-burung kecil yang lemah posisinya dalam rantai makanan ini mempunyai sistem perbiakan yang cukup unik. Berbeda dengan burung-burung berukuran besar seperti elang atau bangau yang bertelur hanya dua atau tiga butir, kelompok burung ini mempunyai strategi yang sedikit lain. Saat berbiak, mereka justru yang paling banyak bertelur dan mempunyai anak dalam satu kali masa perbiakannya. Bisa dilihat contohnya pada burung pipit, gereja, sikatan, tepus dan semacamnya yang anakannya bisa mendekati belasan sekali bersarang.

Dua hal yang diduga mendasari peristiwa ‘beranak banyak’ ini adalah karena pertimbangan posisi mereka yang kurang menguntungkan dalam rantai makanan tadi, serta ukuran tubuhnya yang kecil. Faktor pertama dikarenakan oleh kenyataan bahwa mereka umumnya selalu menjadi hewan mangsa (atau korban) dari hewan lain yang lebih besar atau ganas. Hal ini akan selalu menjadi hal yang harus mereka terima sebagai bagian dari keseharian mereka tanpa bisa mengubah. Sehingga, dengan mempunyai jumlah anak yang banyak akan meningkatkan jumlah populasi mereka di alam dan dapat memastikan adanya sejumlah individu yang dapat bertahan hidup untuk terus melanjutkan keberlangsungan jenisnya.

Alasan yang kedua, disebabkan mempunyai ukuran tubuhnya yang kecil sehingga memungkinkan mereka untuk dapat lebih leluasa memanfaatkan sumber makanan yang tersedia bagi anak-anaknya. Ukuran tubuh yang kecil dengan makanan yang umumnya juga berukuran kecil (seperti serangga, ulat atau biji-bijian tersedia dengan melimpah di alam) dan mudah bagi induk burung untuk menyediakan makanan tersebut bagi anak-anaknya. Tentunya ini akan berbeda dengan anak burung elang yang berukuran besar, dimana kebutuhan makannya juga lebih besar sehingga kurang menguntungkan bagi induk elang untuk mempunyai anak dalam jumlah yang banyak.

Terlepas dari kedua strategi ini, yang menarik untuk diperhatikan adalah sistem manajemen yang dilakukan oleh induk burung berukuran kecil ini sehingga semua anak-anaknya dapat dibesarkan dengan baik. Perlu diingat bahwa burung kecil ini akan mulai meletakkan telur pertamanya saat sarang sudah hampir selesai dan mereka akan segera mulai mengerami telur tersebut berikut dengan telur-telur yang akan diletakkan kemudian. Masing-masing telur akan dikeluarkan dalam jeda waktu satu hari, sehingga antara anak bungsu dengan anak sulung bisa terpaut beberapa hari sampai beberapa minggu, tergantung dengan jumlah telur yang dihasilkan.

Berhubung masa keluarnya yang berbeda-beda, sementara pengeraman sendiri telah dimulai sejak dari telur pertama atau kedua dikeluarkan, maka tidak heran jika anak-anaknya pun juga menetas pada waktu yang berbeda-beda. Wajar saja jika anak yang pertama menetas akan lebih dahulu berkembang dan menjadi kuat dibandingkan dengan anak yang menetas belakangan. Dengan jumlah anak yang bisa mencapai belasan, persaingan untuk mendapatkan makanan akan sangat sengit sekali. Anakan yang lebih dahulu menetas dan lebih kuat, sepertinya akan mempunyai keuntungan dari segi fisik untuk mendapatkan makanan lebih banyak dari induknya dibandingkan dengan adik-adiknya.

Tetapi alam berlaku adil kepada anak-anak burung yang menetas belakangan tersebut.

Terdapat beberapa mekanisme yang membantu anak-anak burung yang lemah ini. Salah satu yang paling penting adalah adanya warna pada bagian dalam mulut anak-anak burung tersebut. Saat meminta makan, mereka biasanya membuka mulutnya lebar-lebar memperlihatkan bagian dalam mulutnya yang berwarna cerah (putih susu, merah, kuning atau jingga). Warna-warna ini mendorong induk untuk terus mencari makan, sehingga selama mulut-mulut ini terbuka, induk tidak akan henti mencarikan sesuatu untuk menyuapinya.

Warna di dalam mulut anak-anak burung ini akan memudar seiring dengan pertambahan umurnya, sehingga anak yang duluan menetas dan lebih kuat dari adik-adiknya akan mempunyai bagian dalam mulut yang lebih pudar. Dengan sendirinya, induk akan lebih memperhatikan makanan untuk anak-anaknya yang lebih muda yang mulutnya berwarna lebih cerah.

Mekanisme ini mengatur proporsi makanan yang akan diberikan kepada masing-masing anak burung yang berbeda usia. Pada akhirnya, masing-masing anak-anak burung tersebut di ujung masa perbiakan akan mempunyai ukuran tubuh yang sama dan siap untuk meninggalkan sarang dalam waktu yang juga sama.

Kembali ke cerita tentang kehidupan manusia.

Kenapa terkadang manusia begitu sulit melakukan keadilan kepada orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya? Keberagaman dan kemajemukan sering dijadikan alasan untuk ketimpangan dalam perlakuan tersebut. Perbedaan status, pangkat dan jabatan menyebabkan terjadinya kecenderungan untuk pilih-pilih saat pemenuhan hajat hidup sekelompok masyarakat. Pihak yang mempunyai harta kekayaan atau pangkat tertentu adalah yang mendapatkan perhatian yang berlebih dalam kondisi seperti ini dibandingkan dengan orang yang miskin dan tak berpunya dari para pemangku kebijakan. 

Seorang yang diberikan tanggung jawab untuk pemenuhan kebutuhan orang banyak, harus mencontoh kepada induk burung kecil beranak banyak tadi. Tidak peduli berapa banyak anaknya, berapa jauh perbedaan menetas antar masing-masing anak, tetapi induk burung berhasil memenuhi kebutuhan semua anaknya secara merata sampai mereka semua mampu mandiri menjadi burung yang dapat terbang bebas mandiri. Manusia, dengan kemampuan berpikir, bernalar dan bernaluri yang lebih dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya, tentunya mampu berbuat sama bahkan lebih dalam hal-hal yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan orang banyak.

Yang paling penting bagi kita, mau dan tidak malu untuk belajar selalu kepada alam dalam hidup ini!


Tag :opiniMuhammadNazriJanra