HOME OPINI OPINI


  • Rabu, 9 Oktober 2019
Janji Biaso Mungkia Vs Janji Binaso Mungkia
Masrizal Rajo Basa (Pamong Budaya Sumatera Barat)

Janji Biaso Mungkia Vs Janji Binaso Mungkia

Oleh :

Masrizal Rajo Basa

(Pamong Budaya Sumatera Barat)

 

Pepatah Minang banyak memuat nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam kehidupan. Di dalam pepatah terdapat nasehat-nasehat, kearifan-kearifan, sifat, watak dan kepribadian. Oleh karena itu, tidak salah jika ada kesimpulan bahwa kepribadian orang Minang juga tercermin di dalam pepatah adat yang sudah baku dan disepakati adanya oleh para leluhur yang telah merancang dan merumuskannya.

Namun, pepatah adat Minang di era milenial ini tidaklah banyak diketahui dan dipahami lagi kata dan maknanya terutama oleh generasi muda sekarang. Bahkan tidak semua pemangku adat juga memahaminya secara rijit. Padahal merekalah ujung tombak pelaksana dan  pewarisan adat Minangkabau itu sendiri kepada generasi milenial sekarang dan nanti.

Dewasa ini, saya dan anda mungkin mendengar perbedaan pepatah Minang baik dari kata maupun maknanya. Salah satu contoh kata pepatah tersebut adalah “janji biaso mungkia” (janji biasa mungkir)dan  “janji binaso mungkia”(janji binasa mungkir).Kata “biaso” dan “binaso”pada pepatah di atas terlihat dipakai dalam menjelaskan kata janji.

Kata “biaso” dalam “Janji biaso Mungkia” secara sepintas bisa bermakna bahwa janji biasa mungkir. Jika yang berjanji adalah manusia, maka maknanya adalah janji manusia biasa mungkir. Jika diamati pepatah ini ada benarnya dengan alasan manusia itu secara alamiah  bersifat salah dan lupa. Berbeda dengan Tuhan  yang bersifat maha benar, maha mengetahui dan seterusnya.

Lalu bagaimana dengan janji yang terbiasa mungkir sampai berkali-kali? Apakah janji dengan sengaja dilupakan setelah di ikrarkan bisa dikatakan dalam kategori biasa?. Jawaban idealnya tentu tidak, karena saya, anda dan orang Minang pasti tidak setuju dilabeli dengan orang tidak tepat janji atau pembohong bukan?. Seperti pameo negatif orang luar etnik Minangkabau yang mengatakan “Padang Bengkok” dalam menjelaskan sifat orang Minang. Tentunya kita tidak setuju dan marah mendengarnya.

Nah, Apakah pepatah Minang “janji binaso mungkia” adalah bukti ketidaksukaan terhadap sifat pendusta itu.Ataukah merupakan peringatan dan ancaman atas adanya orang atau sekelompok orang yang biasa ingkar dengan janjinya berupa kebinasaan dalam hidupnya. Kalau iya, ini tentu perlu diapresiasi supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Bak kata pepatah “gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga”. Sifat segelintir orang yang buruk (ingkar janji) jangan sampai digeneralisir oleh orang atau suku bangsa lain dalam menilai kita sebagai orang Minang.

Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab agar persoaln ini menjadi jernih. Manakah yang benar dari kedua pepatah di atas?.  Manakah yang paling relevan saat ini untuk diwariskan dan diajarkan?.  Apakah kedua-duanya benar?. Bagaimana menjelaskan keduanya?. Namun yang pasti Pepatah di atas secara kata jelas berbeda dan terlihat bertolak belakang. Apatah lagi dengan makna yang terkandung di dalamnya tentu masih perlu dijelaskan oleh orang-orang yang betul-betul memahaminya.

Penjelasan dan penafsiran yang benar tentu diperlukan sehingga diperoleh pengetahuan yang benar. Jika tidak, tentu bisa menimbulkan salah tafsir dan pengertian bagi generasi penerus. Pemahaman yang salah terhadap pepatah adat yang ada tentunya akan menimbulkan perbuatan yang salah pula. Perbuatan yang salah jika dibiarkan, tentu akan merusak kepada individu dan masyarakat itu sendiri. Hal ini tentu sama-sama tidak diharapkan terjadi.

Pengetahuan yang benar akan pepatah adat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangatlah penting. Pengetahuan yang benar itu perlu diwariskan kepada generasi milenial. Merekalah yang akan membangkitkan kembali peradaban dan nilai-nilai luhur Minangkabau ke depan. Diperlukan pemikiran dan usaha yang keras antara pemerintah dan tokoh-tokoh adat, alim ulama dan cadiak pandai untuk mewujudkan hal ini. Sehingga keinginan menjadikan etnis Minangkabau kembali berperadaban tinggi tidak hanya sebuah mimpi dan romantisme masa lalu. Semoga !

 


Tag :#Opini #Masrizal