HOME OPINI OPINI

  • Selasa, 2 April 2019
Jikok Balam Batalua Tigo, Nan Saikua Manjadi Sikok
Muhammad Nazri Janra

Jikok Balam Batalua Tigo, Nan Saikua Manjadi Sikok

Oleh Muhammad Nazri Janra

Sering bertemu dengan orang “parimbo” dan pemburu di lapangan, saya sering mendengar perumpamaan seperti yang disampaikan melalui judul tulisan ini. Setelah ditanyakan ke teman yang ahli dalam kesusastraan Minang, ternyata perumpamaan ini tidak begitu umum ada di dalam petatah petitih orang minang.

Bisa jadi, perumpamaan ini diturunkan dari pepatah “Anak bacando anak balam. Sikua jantan, sikua batino.”

Atau memang sesuatu yang tercipta langsung dari hasil pengamatan di alam, karena seperti yang sering saya sampaikan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, bagi orang Minang alam itu terkembang menjadi guru. Kehidupan liar yang ada di lingkungan sekitarnya sering diambil menjadi pelajaran hidup.

Saya tidak begitu ingat lagi apa arti dari perumpamaan yang sering saya dengar saat bertemu dengan para pemburu burung tersebut, terutama yang berburu burung balam (Streptopelia chinensis Scopoli, 1768). Yang jelas, setelah mempelajari ilmu tentang perburungan (ornithology) saat berkuliah dulu, saya tertarik untuk membahas perumpamaan tersebut secara ilmiah.

Pertama-pertama, kita harus menjelaskan dahulu mengenai burung balam yang menjadi inti dalam perumpamaan tersebut. Burung ini dikelompokkan satu rumpun dengan merpati, punai, balam jambi dan perkutut ke dalam bangsa merpati-merpatian (Columbidae). Semua jenis burung dalam bangsa ini adalah pemakan biji-bijian dan buah-buahan, serta di saat berbiak mempunyai jumlah telur antara satu sampai dua butir berwarna putih yang setelah dierami selama kurang lebih dua minggu biasanya menghasilkan individu anakan jantan dan betina.

Mungkin inilah yang mengilhami pepatah tentang anak balam yang sepasang di atas. Sangat-sangat jarang sekali kelompok burung ini bisa bertelur tiga butir dalam satu kali masa berbiaknya. Sehingga kalau ada ada bertemu sarang burung balam yang berisi tiga telur, tentu akan menjadi hal yang cukup janggal bagi orang yang mengetahui hal ikhwal burung ini.

Nah, di sinilah mungkin menariknya mengkaji perumpamaan dalam judul di atas. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, kurang lebih berbunyi,”Jika burung tekukur bertelur tiga butir, salah satunya akan menjadi burung sikok.”

Apa burung sikok yang disebut-sebut di dalam perumpamaan tersebut? Menurut para pemburu burung tadi, sikok ini mempunyai ciri bentuk seperti elang berukuran kecil, berparuh tajam.

Kandidat pertama untuk ditafsirkan sebagai sikok ini tentu saja yang paling dekat dengan kelompok elang, yaitu sejenis burung alap-alap. Terdapat dua jenis burung alap-alap berukuran kecil yang ada di Sumatera, keduanya bersifat pemangsa dengan paruh dan kuku yang sangat tajam. Burung alap-alap capung (Microhierax fringilarius  Drapiez, 1824) merupakan kandidat paling kuat, jika memang sikok tersebut adalah burung ini. Jenis ini yang paling kecil dalam kelompoknya dengan ukuran hampir sama dengan balam. Burung ini juga berkerabat dekat dengan rajawali atau burung garuda yang menjadi lambang negara kita.

Akan tetapi, baik burung yang dewasa atau yang masih kecil bersifat karnivora atau pemakan daging. Bayi burung yang baru menetas dari telurnya pun tidak lama akan segera diberikan potongan daging hewan mangsa oleh induknya. Sehingga agak cukup aneh juga, jika salah satu telur dari tiga telur burung balam tadi menetas menjadi sikok/alap-alap, kemudian dibesarkan oleh induk balam yang notabene adalah pemakan biji-bijian tadi. Sehingga kurang cocok rasanya jika alap-alap ini sampai bertelur di sarang balam untuk kemudian anaknya dibesarkan oleh yang punya sarang.

Jika bukan alap-alap capung tadi, lalu jenis apalagi yang mungkin menjadi sikok ini?

Ada jenis burung bentet, dari bangsa Laniidae, yang mempunyai ciri seperti sikok yang digambarkan tadi. Burung ini jauh lebih kecil dari alap-alap, bahkan juga sedikit lebih kecil dari balam. Paruh dan kukunya juga tajam, walaupun burung ini bukan kerabat dekat alap-alap. Tetapi beberapa penelitian menjelaskan bahwa burung ini juga bisa memangsa burung-burung lain yang berukuran lebih kecil dari mereka, mirip dengan perilaku alap-alap.

Selain mirip dengan alap-alap, burung ini juga tidak pernah teramati menitipkan telurnya di sarang burung lain, apalagi pada sarang burung balam. Burung ini mampu membesarkan anakannya yang biasanya berjumlah 3-4 ekor dalam satu kali berbiak. Hal lain yang menguatkan bahwa bentet bukanlah sikok adalah sebagian besar jenis burung bentet yang ada di kawasan Sumatera adalah jenis pengunjung musim dingin. Maksudnya, mereka hanya datang ke daerah kita, ketika di daerah asalnya sedang dilanda musim salju. Ya, mereka ini aslinya berasal dari negara empat musim, berbiak di sana sampai ketika musim dingin yang membeku memaksa mereka untuk mengungsi sementara ke daerah kita yang hangat sepanjang tahun. Ketika daerah asal mereka telah masuk ke musim panas, mereka pun kembali ke sana untuk melanjutkan kehidupannya dan juga berbiak.

Jika bentet pun bukan sikok, apalagi?

Ada satu jenis burung yang sepertinya cocok untuk menjadi sikok ini. Jenis ini tergolong ke dalam keluarga Cuculidae dengan perawakan yang kurang lebih sama besar dengan balam. Faktor yang cukup meyakinkan adalah sifat mereka yang suka menitipkan telurnya di sarang burung lain untuk dibesarkan oleh empunya sarang. Sifat ini di dalam ilmu perburungan dikenal dengan istilah “brood parasitism” atau parasit sarang. Jenis ini juga mempunyai warna bulu yang sama dengan alap-alap, yang diduga bertujuan untuk menakut-nakuti burung lain, terutama ketika mereka akan menitipkan telurnya. Makanan mereka hanya serangga dan ulat, bukan daging seperti alap-alap yang mereka tiru bulunya. Ditambah lagi jenis ini memang menghuni kawasan Sumatera dan sering teramati melakukan praktek parasit sarang ini, sehingga kemungkinan besar memang jenis burung inilah yang dimaksud sebagai sikok tadi.

Jika identitas sang sikok tadi sudah jelas, mungkin kita bisa mulai menerka makna perumpamaan tadi. Mungkin fenomena yang diamati para pemburu burung tadi dimaksudkan untuk menggambarkan sifat seorang anak yang berbeda sangat dari saudara-saudaranya yang lain. Seperti anak sikok yang berbeda sangat dengan dua anak balam yang satu sarang dengannya.

Atau memang itu hanya sekedar peristiwa alam yang kebetulan teramati oleh orang Minang dan terasa sangat berkesan, sehingga diabadikan sebagai sebuah perumpamaan semata?

Wallahu’alam…….

 

(Muhammad Nazri Janra; Dosen Jurusan Biologi, Fakultas MIPA Universitas Andalas)


Tag :opiniMuhammadNazriJanra