HOME OPINI OPINI

  • Kamis, 4 Juni 2020
Ikhlas Menerima Walau Terasa Pahit
Yurniati Moenir

Ikhlas Menerima, Walau Terasa Pahit

Oleh Yurniati Moenir


Penantian panjang yang sudah dilalui dengan penuh harapan, sembilan tahun lamanya, tiba-tiba tertunda. Allah berkehendak lain. Allah Maha Mengetahui yang terbaik  untuk umatnya. Allah Maha Bijaksana. Allah Maha Memelihara  ciptaan-Nya. Kita manusia yang sangat lemah dan tidak punya ilmu untuk mengetahui rahasia yang ditakdirkan Allah. Tapi kita yakin bahwa apa yang ditakdirkan Allah pasti yang terbaik untuk umat-Nya.

Mendengarkan pengumuman yang disampaikan Menteri Agama, hari Selasa, 2 Mei itu, pasti membuat para calon jamaah haji merasa sedih dan kecewa. Itu hal yang wajar dan manusiawi, sebab sebagai manusia sifat kecewa dan sedih ketika kehilangan sesuatu yang sangat diharapkan itu sangat bisa diterima logika.

Betapa tidak, sembilan tahun lamanya menanti panggilan Allah, dilalui dengan penuh harapan. Persiapan demi persiapan, mulai dari manasik haji, menyiapkan fisik dengan rutin berolahraga, menyiapkan bekal yang akan dibawa, bahkan suntik miningitispun sudah dilaksanakan calon jemaah haji, tinggal menunggu waktu keberangkatan saja . Tapi Allah belum mengizinkan kita untuk menjadi tamunya pada tahun ini. Kita tidak tahu rahasia Allah dibalik takdir ini. Yang jelas kita harus ikhlas menerima, walau terasa pahit. Kita harus berprasangka baik pada -Nya, bahwa semua yang ditakdirkan Allah itu, pasti yang terbaik untuk kita umat-Nya. Insyaallaah niat kita untuk berhaji sudah sampai.

Kita bisa ambil hikmahnya di balik penundaan keberangkatan haji ini. Dengan ditundanya keberangkatan haji tahun ini, kita bisa menambah ilmu agama kita tentang pelaksanaan ibadah haji, setidaknya memperdalam pemahaman yang sudah kita dapat dalam manasik selama ini. Kita bisa menambah hafalan doa-doa yang akan dibaca di setiap rangkaian rukun dan wajib haji. Malahan kita mungkin bisa menambah hafalan Al-Quran. Banyak yang bisa dilakukan dalam waktu satu tahun itu dengan hal-hal yang berhubungan dengan pekaksanaan haji.

Waktu satu tahun itu tidak lama Saudaraku sesama calon jamaah haji, asal kita isi dengan sesuatu yang bermamfaat. Mari kita hilangkan rasa kecewa kita. Kita hilangkan rasa sedih kita. Kita ikhlaskan dan redhakan hati menerima ketentuan Allah ini. Mari sama-sama kita tengadahkan tangan berdoa kehadirat Allah Subhanahuwataala.

"Yaa Raabi, Yaa Rahiim, Yaa Jabbaar, Yaa mujiib, tahun ini kami tidak bisa menjadi
 tamu-Mu, walau kami sudah siap , tapi Engkau sayang pada kami, Engkau tunda
 keberangkatan kami ke tanah suci, kami tidak tahu rahasia dibalik penundaan itu.
Engkaulah Yang Maha Mengetahui. Oleh sebab itu, Yaa Rabb, kuatkan iman kami, ikhlas dan redhakan hati kami menerima takdir-Mu ini Yaa Raab. Kami akan setia dan penuh harap menunggu panggilan-Mu di tahun depan Yaa Rabb."

"Yaa Shamaad, Yang Maha memberi, berilah kami kesehatan yang cukup, berilah kami umur yang berkah, sehingga kami bisa memenuhi panggilan-Mu menunaikan ibadah haji tahun 1442 H/ 2021 H. Jauhkan segala rintangan dan halangan untuk keberangkatan kami Yaa Rabbi di tahun itu.

Aamiin,Yaa Rabbal 'alamiin!

Maaf, tulisan ini bukan untuk menggurui bapak/ibuk calon jamaah haji yang tertunda, tapi sekedar berbagi rasa dan menenangkan pikiran kita yang sempat bergejolak menahan isak.

(Rumah Tua, Karatau,  Banuhampu, Bukitinggi
4 Mei 2020)


Tag :#ikhlasMenerima #penundaanHaji2020