HOME OPINI OPINI


  • Minggu, 9 Juni 2019
Bakcang dan Lamang, Perkuat Integrasi Bangsa Melalui Akulturasi Budaya
Festival Bakcang dan Lamang Baluo

Bakcang dan Lamang, Perkuat Integrasi Bangsa Melalui Akulturasi Budaya

Oleh Masrizal Rajo Basa

Ada pemandangan berbeda di kota Padang saat lebaran kali ini. Disaat warga kota Padang yang mayoritas Muslim merayakan Idul Fitri, warga Tionghoa atau etnis Cina Juga merayakan hari Istimewa yaitu hari makan Bakcang selang satu hari setelahnya.

Seakan tidak mau menyia-nyiakan momen yang jarang terjadi ini, Pemerintah kota Padang dan kelompok etnis Tionghoa mengadakan kegiatan bersama yaitu "Festival Bakcang dan Lamang Baluo".

Tidak tanggung-tanggung kegiatan ini menggelar 10 ribu bakcang dan lamang baluo disepanjang jalan batang harau yang dijejer di atas gerobak sepanjang 10 meter. 
Gerobak bakcang dihiasi dengan kepala naga dan gerobak lamang baluo dihiasi dengan kepala kerbau.

Festival ini spontan masuk kedalam rekor Muri karena merupakan pertama kali diadakan di Indonesia dalam jumlah yang banyak dan dilakukan oleh dua etnis yang memiliki kultur yang berbeda.

Kegiatan Festival yang dilakukan baru baru ini dapat dikatakan sebagai wujud dari akulturasi budaya antara etnis Minang dan etnis Tionghoa. 

Melalui festival makanan tradisional bakcang dan lamang baluo ini dapat dilihat adanya persamaan didalam perbedaan. Etnis Minang dan Tionghoa saling bersatu padu dalam menampilkan budayanya baik kuliner maupun atraksi seni yang ditampilkan pada kegiatan tersebut.

Jika dilihat dari pembuatannya, Bakcang dan lamang ini hampir sama sama terbuat dari beras pulut putih atau ketan yang dibuat dengan cara dimasak atau dibakar. Bakcang terkadang didalamnya diisi dengan daging, sayuran, telur dan lain lain, sedangkan lamang baluo terbuat dari ketan putih yang didalamnya diisi gula aren (luo) yang dicampur dengan parutan kelapa.

Secara historisnya, walau berbeda tetapi sama, kedua makanan tradisional ini sama-sama mengingatkan kepada tokoh yang berjasa dimasa lampau. Ia adalah Qu Yuan (340 SM–278 SM) dari Cina dan Syekh Burhanudin (1646-1704) dari Minang.

Tradisi makan bakcang dilakukan untuk mengenang perjuangan Qu Yuan dalam melindungi negara Chu dari agresi negara Qin. Di akhir hayatnya Qu Yuan melakukan bunuh diri sebagai aksi protes kepada banyak pejabat negara yang korup. Ia bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya ke sungai. Warga Cina banyak memberikan simpati atas sikapnya. Untuk mengenang jasanya itu, seluruh etnis Cina di berbagai belahan dunia memperingatinya dengan makan bakcang. 

Ritual ini sebagai simbol nasi atau beras yang diserakkan secara massal oleh warga kedalam sungai pada masa lampau untuk memberi makan ikan disungai agar jasad Qu Yuan tidak dimakan oleh ikan.

Sedangkan tradisi makan lamang atau malamang pertama kali dilakukan oleh seorang tokoh yang menyiarkan ajaran Islam di Minangkabau, yaitu Syekh Burhanuddin. Ketika itu ia mendakwahkan ajaran Islam serta bersilaturrahmi ke rumah penduduk. Dari kunjungannya, masyarakat sering memberikan makanan yang masih diragukan kehalalannya. Dia pun menyarankan kepada masyarakat yang dikunjungi agar mencari bambu, kemudian mengalasnya dengan daun pisang muda. Setelah itu dimasukan beras ketan putih dan santan, kemudian dipanggang di atas tungku menggunakan kayu bakar. Syekh Burhanuddin pun menyarankan kepada setiap masyarakat agar menyajikan makanan lamang ini menjadi simbol makanan yang dihidangkan dalam silaturahim (wikipedia).

Festival Bakcang dan Lamang Baluo sebagai wujud konkrit akulturasi budaya etnis Minang dan Tionghoa (Cina) ini patut dan layak diapresiasi karena bisa menyatukan dua kebudayaan yang berbeda tanpa menghilangkan budaya asli mereka masing-masing.

Satu hal yang menarik adalah bakcang yang biasanya diisi dengan daging babi, pada festival kali ini diganti dengan daging ayam sehingga halal dikonsumsi oleh semua warga kota Padang yang mayoritas beragama Islam.

Tidak berlebihan kiranya jika dikatakan kegiatan ini semakin mempererat persatuan dan kesatuan diantara etnis Minang dan Cina yang sudah terjalin sejak lama. 
Bakcang dan Lamang Baluo seolah-olah menjadi atraksi simbolik sebagai teladan bagi daerah lain dalam memperkuat integrasi bangsa.

Semoga kedepan bangsa ini semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan ras, suku, warna kulit, bahasa, agama, dan perbedaan lainnya. Sehingga pada akhirnya kita sebagai anak bangsa selalu melihat persamaan dalam realitas budaya yang komplek. Akhirnya semua kita sepakat bahwa "Kita tak serupa, akan tetapi sama".

(Masrizal Rajo Basa, Pamong Budaya Provinsi Sumatera Barat)


Tag :Padang #festival bakcang