HOME OPINI OPINI

  • Jumat, 12 Juni 2020
Belajar Dari Covid-19, Peran Guru Tidak Terganti Teknologi
Yenny Septi

Belajar dari Covid-19, Peran Guru Tidak Terganti Teknologi

Oleh Yenny Septi dan Demina

 

Ada sebuah pelajaran yang dipetik dari dunia pendidikan di tengah pandemi Covid-19, yakni kegiatan belajar tatap muka dengan guru terbukti lebih efektif ketimbang secara daring (online).

Pakar pendidikan Universitas Brawijaya (UB) Aulia Luqman Aziz, berpendapat bahwa "Selamanya profesi guru tidak akan tergantikan oleh teknologi". Apa yang disebutkan pakar itu, bila dilihat kenyataan di lapangan, pembelajaran penuh secara daring, akhir-akhir ini banyak menimbulkan keluhan dari peserta didik maupun orangtua.

Apalagi kalau dilihat dari berbagai aspek, pelaksanaan proses pembelajaran barangkali tidak hanya di Kabupaten Sijunjung, di Indonesia, bahkan mungkin juga di negara maju, bagaimanapun, pembelajaran terbaik adalah bertatap muka dan berinteraksi dengan guru serta bersama teman-teman sejawat. Melalui proses belajar mengajar secara tatap muka, siswa mendapatkan nilai-nilai yang tak bisa didapatkan melalui pembelajaran daring.

Nilai-nilai tersebut antara lain proses pendewasaan sosial, budaya, etika, dan moral. Semua itu hanya bisa didapatkan dengan interaksi sosial di suatu area pendidikan (sekolah bersama guru). Sehingga proses pembelajaran yang dimulai dari awal pembelajaran sampai kepada evaluasi dan tindak lanjut, bisa langsung di awasi dan dikontrol oleh guru. Selama pembelajaran daring, semua itu sangat jauh dengan apa yang diharapkan.

Perubahan sosial yang tiba-tiba terjadi sebagai akibat merebaknya penyebaran Covid-19. Apalagi sejak dikeluarkannya Surat Edaran Gubernur Sumbar, nomor 360-365-2020, tanggal 27 Mei 2020, perihal Perpanjangan Kedua Status Tanggap Darurat Bencana Wabah Corona Virus Desease 19 (Covid-19) di Wilayah Sumatera Barat, serta dikuatkan lagi dengan Surat Edaran Bupati Sijunjung, nomor 421/1737/DIKBUD-2020, tentang Pembatalan Instruksi Bupati tentang Tindak Lanjut Proses Belajar Mengajar, tertanggal 7 Juni 2020, memunculkan  kegagapan dalam proses penyesuaian kegiatan belajar mengajar.

Sistem pembelajaran dilaksanakan melalui perangkat personal computer (PC) atau laptop  yang terhubung dengan koneksi jaringan internet, atau melalui HP anroid yang tersambung memanfaatkan jaringan telkomsel. Bagi peserta didik yang dapat terpenuhi kebutuhan seperti yang dimaksud di atas, dapat melakukan pembelajaran  melalui WhatsApp (WA), telegram, instagram, aplikasi zoom ataupun media lainnya.

Kegiatan PBM seperti ini tentu bukanlah hal yang dapat menjawab pemenuhan kebutuhan semua peserta didik. Persoalan akan muncul, dikarenakan setiap jenjang, mulai dari guru, siswa, orang tua, termasuk sarana pendukung, belum siap menghadapi suatu hal yang langka bagi peserta didik, orang tua dan pendidik sendiri, apalagi problematika dunia pendidikan masih komplek.

Karena itulah, bagaimanapun hebatnya pemangku kebijakan, sampai kepada pendidik sebagai ujung tombak pelaksanaan proses pembelajaran, tidak mungkin mencapai pembelajaran ideal di masa pandemi seperti sekarang ini. Proses pembelajaran bisa berjalan dan tujuan pendidikan bisa tercapai ketika siswa mengerjakan instruksi yang diberikan peserta didik dengan bimbingan pendidik (guru) secara utuh dan kontrol dari masyarakat (orang tua)

Barangkali tidaklah suatu hal yang mengada ada, bahwa pencapaian dari suatu proses pembelajaran, belum tentu maksimal ketika para pendidik di semau jenjang tidak berhadapan langsung, apakah dengan guru (TK, SD, SLTP dan SLTA) atau dosen untuk Perguruan Tinggi (PT). Malahan saat langsung bertatap muka, masih ada sebagian anak didik dan mahasiswa mengalami kesulitan mencerna dan menyelsaikan materi yang ia terima dari guru ataupun dosen sekalipun.

Orang bijak berkata, dan disesuaikan dengan yang diibarakan pepatah di Minangkabau (Sumbar), proses pendidikan itu bisa berjalan efektif  diibaratkan seperti " tungku tigo sajarangan tali tigo sapilin" atau lambang Tri Sula. Ada kesejalan tiga unsur yang tak dapat dipisahkan antara pendidik, peran masyarakat (orang tua) dan pro aktif dari peserta didik.

(Yenny Septi, Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Batusangkar dan Demina Dosen Pasca Sarjana IAIN Batusangkar)


Tag :#peranGuru #covid19