HOME OPINI FEATURE

  • Senin, 22 Februari 2021
Ayo Bangkit
Cover Buku High School Dont Let Me Down

Ayo Bangkit

Oleh Rivo Septian


Resensi Buku
Judul Buku : High School, Don't Let Me Down (Jangan Kecewakan Aku)
Penulis : Lilla Rama Dona, M. Pd
Penerbit : Media Guru
Tahun Terbit : 2020
Jenis Buku : Antologi Cerpen
Harga Buku : Rp. 60.000,-


Papa dan Mama Reyhan nyaris bercerai. Kedua orang tuanya sibuk dengan dunia masing-masing. Merasa kurang dapat perhatian, Reyhan mencari kekosongan hatinya lewat sikap-sikap yang sulit diterima oleh guru-guru di sekolahnya. Sering absen dan membolos adalah beberapa pilihan Reyhan yang membuat ia semakin jauh terjebak dalam masalah hidupnya. Beruntung Reyhan memiliki guru sebijak Bu Hanna. Berkat  langkah-langkah yang diambilnya, Bu Hanna berhasil membuktikan diri sebagai guru yang bisa memberi "solving problem" sekaligus menjadi "konselor" yang baik bagi siswanya.

Buku berjudul High School, Don't Let Me Down (Jangan Kecewakan Aku) merupakan Antologi cerpen bilingual yang ditulis dalam dua bahasa yaitu Inggris dan Indonesia. Latar belakang penulis Lilla Rama Dona sebagai Guru Bahasa Inggris kiranya menjadi sebab kenapa buku ini ditulis secara bilingual. Hal tersebut menunjukkan keinginan yang kuat dalam diri penulis untuk menggariskan eksistensinya serta frame literaturnya lewat khasanah Bahasa Inggris. Tentunya, dari hal tersebut diharapkan para pembaca khususnya siswa tidak lagi memandang Bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Mungkin saja akan bergerak menjadi Second Language seperti halnya yang berlaku di beberapa negara tetangga kita seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Buku Antologi cerpen Don't Let Me Down terdiri dari lima judul, yaitu Please Love Me ( Kumohon Cintai Aku), Salsa's Smile (Senyuman Salsa), Allow Us Together (Izinkan Kami Bersama), The Other Side of Gilang (Sisi Lain Gilang), dan Don't Give Up Farel (Jangan Menyerah Farel). Secara umum cerpen ini merupakan kristalisasi dari permasalahan-permasalahan yang banyak dihadapi oleh para peserta didik di sekolah. Pada setiap ceritanya Dona seperti mentransferkan makna sikap anak muda ketika mereka menghadapi kendala-kendala dalam pendidikan mereka. Dengan kata lain, Antologi cerpen ini seperti studi kasus siswa yang disajikan dengan bahasa yang ringan dan dengan solusi yang menyentuh. Hebatnya, dalam menyajikan alur ceritanya penulis menempatkan guru sebagai sosok sentral. Guru tidak hanya sukses sebagai pengajar, namun yang lebih dari Itu guru adalah seorang pendidik. Penulis memandang guru sebagai makhluk yang komplek dalam menjalankan tugasnya sebagai abdi bangsa. Terlihat jelas di setiap cerita yang disajikan, semua masalah siswa end up with teacher's heart (berakhir dengan bahasa cinta sang guru). Penulis juga ingin menekankan makna bahwasanya untuk membentuk karakter siswa yang tidak gampang menyerah guru terlebih dahulu harus mencontohkan itu kepada siswanya. Betapa sebuah tulisan yang sarat dengan nilai filosofis.

Di sisi lain, penulis ingin memperkuat keyakinan bahwa pendidikan tidak hanya selesai di sekolah. Pendidikan anak bangsa adalah tanggung jawab seluruh unsur bangsa, terutama guru, siswa, dan yang tak kalah penting yaitunya orang tua. Perilaku sebagian orang tua siswa yang menyerahkan bulat-bulat masalah anaknya sekolah, lewat Antologi cerpen ini dibantah dengan tegas. Tak satupun masalah siswa yang bisa diselesaikan guru tanpa campur tangan orang tua, karena sesungguhnya disanalah akar permasalahannya. Penulis seakan-akan mengkritik sikap acuh tak acuh dan antipati para orang tua melalui kisah-kisah yang disajikan dengan bahasa yang sangat komunikatif. Yang lebih dahsyatnya lagi, penulis ingin menyentuh hati siswa bahwasanya mereka adalah makhluk yang spesial dan dicintai oleh banyak orang. Masa depan siswa yang cerah dan gemilang adalah impian bersama guru dan orang tua. Penulis dengan sangat jelas memaknai bahwa diantara ketiganya adalah segi tiga yang sisi-sisinya mempertemukan titik-titik yang pada awalnya berjauhan dan berdiri sendiri.

Yang tak kalah penting, lewat kisah-kisah dalam buku ini penulis mengajak pembaca untuk lebih memaknai sikap bersyukur. Ketika seorang peserta didik mengeluhkan latar belakang keluarganya dengan segala kekurangannya, di saat yang sama lebih banyak manusia yang hidupnya jauh tidak beruntung. Memulai sikap syukur dari hal yang terkecil adalah pesan kuat dari kisah dalam buku ini. Ketika sikap syukur sudah bisa diwujudkan maka akan timbul jiwa yang lapang yang akan membawa pada hati yang bersih serta fikiran yang jernih. Lebih mau menerima kekurangan diri dan berusaha mencari potensi diri adalah cara tepat keluar dari keadaan menyerah. Penulis tidak hanya sukses membangkitkan semangat para peserta didik, guru, dan orang tua, namun secara luas penulis mengajak kita semua untuk bangkit. Menyerah bukanlah jalan keluar dan bangkit adalah hak semua orang yang ingin maju dan berkembang.
Semangat pantang menyerah tak akan muncul tanpa adanya kesepahaman akan hak dan tanggung jawab masing-masing. Kalimat "Don't Let Me Down" akan bertransformasi menjadi bahasa yang lebih positif, yaitu "Ayo bangkit". Bangkit tidak hanya menjadi milk peserta didik, Guru dan orang tuapun harus bangkit terlebih dahulu. Sikap-sikap optimisme harus mewarnai setiap kebijakan guru dan orang tua.

Penulis sukses menitipkan energinya sebagai seorang guru dalam setiap untaian kisah dalam cerpen ini. Antologi cerpen Don't Let Me Down layak menjadi referensi dalam pemecahan masalah-masalah siswa di sekolah. Dengan tebal 175 halaman yang terdiri atas 2 bagian, buku ini termasuk Antologi cerpen yang dapat dilahap dalam waktu yang singkat. Kisah-kisah yang bersentuhan langsung dengan dinamika permasalah peserta didik, membuat siswa akan larut dalam suasana cerita. Buku ini layak menjadi pegangan seluruh peserta didik, selain kesesuaian cerita, harganya yang relatif murah tak akan menyurutkan pembaca untuk mengkoleksi buku ini.

Disebabkan buku ini ditulis secara bilingual, penulis berusaha menyajikan bahasa inggris sesederhana mungkin sehingga gampang dicerna dan sesuai dengan cerita bagian berbahasa Indonesia. Sehingganya nilai kesusateraan bagian berbahasa Indonesia melebihi nilai yang hinggap pada bagian cerita berbahasa asing. Hal ini bisa dimaklumi, karena barangkali penulis bermaksud menyajikan bahasa inggris dalam wajah yang simpel dan mudah dipahami, sehingganya pilihan bahasa bersayap (extended language) dikhawatirkan akan memberikan challenge yang lebih kepada pembaca, khususnya para pemula dalam belajar bahasa Inggris.

Sementara itu, Pilihan warna dominan coklat dan redup pada cover semakin mewakili judul yang menyiratkan sikap nyaris putus asa. Secara tidak langsung cover buku memperlihatkan tanda-tanda kisah yang rumit.Barangkali pemilihan warna - warna cerah dan lebih semangat akan semakin menguatkan ambisi penulis untuk mengajak sikap pantang menyerah dan optimis dalam setiap masalah yang mungkin saja sedang atau akan dihadapi oleh peserta didik.

Secara keseluruhan, buku ini layak diapresiasi. Cerita yang realistis dengan penuh nilai-nilai kepedulian sangat layak jadi bacaan wajib di lingkungan pendidikan. Buku ini memberi kepuasan kepada pembaca yang haus akan motivasi hidup.


Tag :#DontLetMeDown #ResensiBuku #AyoBangkit