HOME OPINI FEATURE

  • Sabtu, 22 Januari 2022
Wawancara Dengan Sang Maestro Kaligrafi Islam, Syaiful Adnan
Rumah sekaligus galery, Jalan Ngasem No. 40 Yogyakarta yang berisikan puluhan karya-karya seni lukis kaligrafi sang maestro Syaiful Adnan.

Wawancara dengan Sang Maestro Kaligrafi Islam, Syaiful Adnan
Oleh Muharyadi
 

Perjalanan Lukisan Kaligrafi Disarati "pemberontakan" menemukan gaya-gaya baru
 

Mengamati dan menghayati seni lukis atau seni murni secara rinci dalam ranah Islam dan obyek karya serta tema yang diangkat pada suatu karya baik di studio atau ruang  pameran, tak mungkin dilihat sambil lalu tanpa melihat secara totalitas dalam teks dan konteks karya.

Hal itu pulalah yang kita temui saat mengunjungi sejumlah studio seni rupa "urang awak" di Yogyakarta, salah satunya saat memasuki ruang pajang karya seni lukis kaligrafi Islam di rumah Kaligrafi Islam, Jalan Ngasem No. 40 Yogyakarta yang berisikan puluhan karya-karya seni lukis kaligrafi sang maestro Syaiful Adnan baru-baru ini.

Di rumah seni lukis Kaligrafi Islam Syaiful Adnan ini pula publik lebih leluasa untuk mengapresiasi karya-karya sang maestro dengan beragam format dan ukuran secara leluasa. Betapa tidak bangunan rumah kaligrafi Islam itu berukuran sedang. Dahulunya merupakan rumah makan "Andalas" milik Syaiful Adnan yang kini beralih fungsi menjadi rumah kaligrafi yang ditata apik dan fleksibel dengan penempatan layout (tata letak) karya-karya sang maestro.

Sebagaimana telah sering kita tulis dalam berbagai kesempatan perihal seni lukis kaligrafi Islam, misalnya tak seperti dunia seni lukis modern, jumlah pelukis kaligrafi Islam dalam peta seni rupa di Indonesia yang tetap eksis berkarya dan berpameran dapat dihitung dengan jari. Satu diantaranya adalah Syaiful Adnan (65 th) pelukis urang awak yang kini bermukim dan berkarya di Yogyakarta sejak puluhan tahun silam.

Pakar Kaligrafi Islam Dr. K.H. Didin Sirajuddin AR, M.Ag yang diminta pendapatnya prihal Syaiful Adnan, menyebut, Syaiful Adnan sejak 1981 datang dengan gerbong "kaligrafi lukis- kontemporer".  Di awal 1980, meletus "perang terbuka" antara dua kubu. Para khattat menuduh pelukis merusak kanun kaedah khattiyah. Para pelukis, di dalamnya ada Syaiful Adnan, malah menjawab balik, bahwa "kaligrafi tidak hanya selesai pada huruf". Maka, harus diolah dalam rupa-rupa teknik di aneka media.

Didin Sirajuddin AR bahkan malah ikut bergabung ke pelukis, karena yakin mereka tidak sengaja merusak. Mereka hanya "berontak" ingin mencari yang baru. Perjalanan kaligrafi sendiri disarati "pemberontakan" menemukan gaya-gaya baru. Dari semula cuma satu jenis Nabatia mutakhir dengan 2 tipe yaitu tipe soft writing dan tipe hard writing. Di jaman awal Islam, hanya 70-an tahun sesudah itu di jaman Bani Abbas berkembang menjadi lebih dari 400 gaya dan nama seperti yg kita kenal: Naskhi, Sulus, Farisi, Diwani, Diwani Jali, Riq'ah, Raihani, Shini, Kufi, Andalusi, Usyribah, Lu'lu'i, Silwati, Yaquti, dll.

Terinspirasi oleh kehadiran para pelukis kaligrafi yang "mendobrak" ini, Didin Sirajuddin AR mencoba membuat sejarah tahap-tahap perkembangan Seni Kaligrafi Islam di Indonesia melalui 5 gelombang, yaitu: Angkatan Perintis, Angkatan Orang-orang Pesantren, Angkatan Pelukis Pendobrak, dan Angkatan Kader MTQ yang senantiasa diadakan di tanah air.

Seperti untuk maestro-maestro lain, Khat Pirousi (A.D. Pirous), Khat Akrami (Sayid Akram), dan Khat Amani (Amang Rahman). Selama ini saya berpendapat belum ada mazhab kaligrafi khas Indonesia. Yang ada barulah produk atau gaya-gaya individual seperti itu. Kekayaan Syaiful menonjol dalam keragaman tema pilihannya, seperti tauhid, zuhud, kebenaran dan kebatilan, perjuangan hidup, pesan persatuan dan perdamaian, tali persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah, akhlaq, sainstek, ketaqwaan, dzikir, sosial kemasyarakatan, amar-makruf dan nahi-munkar.

Variasi tema ini seperti usaha kejar-kejaran dengan tema-tema Alquran yg sesungguhnya banyak, variatif, dan tidak bisa dikejar. Apabila khat Kufi Barat Andalusi lahir dari pemberontakan terhadap Kufi Timur, maka sesungguhnya khat 'Syaifuli' yang seragam satu bentuk tapi tematis hasil pemberontakan terhadap Kufi Barat. Cirinya : goresan-goresan lengkung menukik melabrak huruf-huruf di bawahnya. Kesan "tanduk minang yang menyeruduk" memperkukuh eksistensi mazhab Syaifuli made in pelukis kelahiran Minangkabau. Namun demikian pelukis kaligrafi Islam di Indonesia jumlahnya sangat terbatas dibanding pelukis secara umum. Kecuali AD Pirous, kini dosen seni rupa paling senior di ITB Bandung, pelukis kaligrafi Islam lainnya yang karya-karyanya berada pada papan atas kaligrafi Islam tanah air tercatat nama Prof. Dr. Ahmad Sadali, Fadjar Siddik, Amang Rahmang dan Amri Yahya, yang kini telah tiada.

Kelangkaan pelukis kaligrafi Islam di tanah air itu, membuat nama Syaiful Adnan tercatat sebagai salah satu pelukis yang masih tetap eksis dan bertahan menekuni kepelukisan kaligrafi Islam di tanah air bahkan ke sejumlah negara dan belahan dunia berpenduduk muslim. Keterbatasan jumlah pelukis kaligrafi Islam di tanah air, tidak lantas membuat pelukis Syaiful Adnan berhenti berkarya dan pameran. Banyak iven nasional bahkan internasional diikutinyai guna menampilkan lukisan hasil penjelajahan kreativitasnya dalam seni lukis kaligrafi Islam.

Menurut Syaiful Adnan kelahiran Saningbakar Solok, 5 Juli 1957 itu ; dalam pertumbuhan dan perkembangan seni lukis modern di tanah air, seni lukis kaligrafi Islam diakui tidak sedahsyat seni lukis secara umum. Karena selain pelukisnya harus memahami dunia seni lukis baik secara fisik, non fisik juga harus di backup penguasaan isi Al-Quran serta makna-makna yang terkandung di dalamnya kemudian mampu menulis khat seperti gaya Thuluth, Naski, Muhaqqaq, Raihani, Riqai, Taqwi atau Magribi yang masing-masingnya memiliki karakter.

Menurut Syaiful melukis bagi dirinya lebih didasari kesadaran kulturalnya dengan menempatkan kaligrafi sebagai pilihan guna merepresentasikan memori pribadi dan memori kolektif yang menyenangi dan mendalami kaligrafi sebagai pilihan kerja lukis melukis dalam bahasa rupa ranah estetis artistik. Semua itu didasari pemahaman kuat terhadap aspek-aspek elementer berupa garis, warna, bidang, ruang, komposisi dan lainnya dengan mengolah ayat-ayat suci Al-Quran menjadi tampilan baru karya seni lukis.

Karyanya mengetengahkan ayat-ayat suci Al-Quran sebagai tema sentral sebagai bentuk representasi atas tauhidiah (keyakinan tentang keesaan Allah) dan zikir sebagai konsekuensi dari tauhid. "Hal yang terpenting, lukisan-lukisan juga merupakan ekspresi zikir visual, membaca dan mewujudkan terus menerus tentang ayat-ayat Allah," ujar Syaiful Adnan.

Dikoleksi Kepala-kepala Negara Dunia

Selama kariernya sebagai pelukis, Syaiful Adnan yang semasa di SSRI/SMSR (SMKN 4) Padang kemudian beberapa semester di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta termasuk salah satu pelukis cukup kuat dalam pengayaan kecendrungan realis dan naturalis. Peralihan ke kaligrafi Islam sebagai profesi kerja lukis-melukis mulai ia dalami jelang menyelesaikan kuliahnya di Kota Gudeg itu, persisnya ketika Syaiful mengikuti pameran perdana kaligrafi Islam pada MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) Nasional di Semarang, Jawa Tengah tahun 1979 silam. Sejak itu pula nama dan karya-karya Syaiful Adnan terus meroket di tanah air bahkan ke sejumlah negara berpenduduk muslim lainnya.

Ketika ditanya apa yang melatarbelakanginya menekuni seni kaligrafi Islam sebagai pilihan kerja lukis-melukis, menurut Syaiful melukis baginya tidak semata menggeluti masalah estetetik dan artistik, melainkan juga memiliki perspektif lain. Lukisan, memberikan sesuatu pesan yang menjadi motivasi kepada penikmat sekaligus meneruskan adat kebiasaan untuk menciptakan dan memahamkan makna kehidupan masyarakat dalam bentuk imajinatif yang memuat persoalan ”estetis”, ”artistik” hingga ke persoalan ”etis”. Dari sini, kata Syaiful lagi terdapat 3 (tiga) faktor yang melatarbelakangi saya melukis kaligrafi Islam yakni meliputi ;

(1) Aspek bentuk lukisan kaligrafi Islam yang memiliki konotasi tersurat (psiko plastis) karena kaligrafi Islam memiliki potensi artistik yang tinggi dan memiliki banyak kemungkinan dengan fleksibilitas variasi dan nuansa yang di dalamnya berisi karakter lembut, luwes, tenang bahkan terkadang berkesan lugas, tajam dan menyentak, namun karakter tersebut tetap berada dalam kesatuan dan keharmonisan seperti karakter Islam.

(2) Aspek tersirat (ideo plastis) baik secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan kaligrafi dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW seperti tersirat dalam wahyu pertama Surat Al-Alaq (3-5) yang artinya ; ”Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah” dengan mengajar apa yang tidak diketahui manusia melalui perantara kalam seperti tercermin pada Surat Al-Qalam 1, ”Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”.

(3)  Melukis kaligrafi Islam merupakan penyampaian ”dakwah” Islamiyah dengan menyentuh kalbu manusia sesuai fitrahnya supaya menjalani kehidupan menurut petunjuk ilahi. Rasulullah SAW juga bersabda ; ”Sesungguhnya Allah Maha Indah, Allah suka keindahan, Allah maha baik”.  "Namun ketiganya dalam karya-karya yang saya wujudkan bukan semata-mata menghadirkan lafal Al-Quran yang mudah dibaca atau sekedar tulisan kaligrafi Arab sebatas tulisan belaka, melainkan suatu penyatuan unsur-unsur psiko palstis dan ideo plastis sebagai cita pembahasan bentuk kaligrafi dijiwai oleh firman-firman ilahi," ujar Syaiful menguraikan.

Melalui karya-karyanya Syaiful Adnan sejak tahun 1978 hingga kini telah puluhan kali berpameran di dalam maupun luar negeri dalam iven-iven besar regional, nasional bahkan internasional seperti di Jeddah dan Riyaad (Arab Saudi), Jepang, Hong Kong, Singapura, Thailand, Brunei Darusalam, Malaysia dan lainnya. Diantara karya-karya masterpiece yang dihasilkannya terdapat sejumlah kepala negara yang menjadikan lukisannya sebagai koleksi, baik koleksi negara maupun pribadi, diantaranya Dr. Mahatir Muhamad dan Museum Negara Malaysia, Presiden Republik Islam Pakistan, Zia Ul Haq, Sultan Halsanah Bolkiah (Brunei Darusallam) serta sejumlah orang penting dunia seperti Dr. Karel A Steenbrink (AS), Mr. Dieter Amsler (Canada). Di dalam negeri kolektor karya Syaiful Adnan tercatat antara lain Istana Negara RI, H. Adam Malik (alm), Ny. Jend. AH. Nasution, Ir. Azwar Anas, H. Alamsyah Ratu Prawiranegara, Dewi Montik Pramana serta banyak lagi.

Tidak Terhipnotis Budaya Sekuler

Yang menarik pula ditengah-tengah bertaburan persoalan finansial karya-karya seni rupa saat ini baik di Indonesia maupun di sejumlah negara yang memiliki kecendrungan mengoleksi karya-karya dari Indonesia, justru Syaiful Adnan ternyata tidak terhipnotis budaya sekuler.

"Menurut pandangan saya," sambung Syaiful lagi, "menekuni seni lukis kaligrafi Islam tidak sepatutnya didasari tujuan duniawi, baik untuk ketenaran, meraup materi maupun alasan lainnya." Yang penting bagaimana kemampuan berolah seni lukis kaligrafi membuat seseorang makin dekat dengan Allah SWT dan Rasulnya kemudian mampu mengolah lukisan kaligrafi Islam menjadi sajadah panjang yang menuntun penikmatnya ke dalam keesaan Allah SWT dengan segala bentuk ciptaan-Nya di muka bumi ini. "Jika kemudian ada rezeki dari profesi melukis kaligrafi Islam dengan mengoleksinya sebagai bentuk apresiasi, itu semua datangnya dari Allah SWT," ujar Syaiful Adnan, mengakhiri pembicaraan.


Tag :#pelukis #kaligtafiislam #syaifuladnan #yogyakarta #sumbar