HOME VIRAL UNIK

  • Kamis, 21 Mei 2026

Tradisi Manggodok Di Nagari Sirukam Payung Sekaki

Tradisi Manggodok di Nagari Sirukam Payung Sekaki

Oleh: Nindia Ilhammy
(Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)


Masyarakat Minangkabau itu terkenal banget punya ikatan kekeluargaan yang kuat karena semua aturan hidup bersosialnya selalu merujuk ke filosofi luhur "Alam Takambang Jadi Guru", yang mengajarkan kita buat belajar dari lingkungan sekitar dalam bertindak dan bergaul sehari-hari. Bukti nyata dari penerapan nilai-nilai ini bisa kita lihat langsung dari kebiasaan hidup berdampingan yang rukun, kompak, dan saling bantu antarwarga, apalagi pas lagi mau mengadakan acara besar.

Di Nagari Sirukam, Kecamatan Payung Sekaki, Kabupaten Solok, ada satu kearifan lokal berupa ritual adat yang punya nilai sosial tinggi banget pas mau ngadain acara pernikahan, yang biasa disebut sama masyarakat setempat dengan nama Tradisi Manggodok.

Kalau diartikan secara bahasa, manggodok ini dilakukan saat niniak mamak sudah menentukan hari pernikahan, godok yaitu makanan khas sirukam yang bahannya dari , tepung beras, dan parutan kelapa yang dikasih gula tebu lalu digoreng.

Tapi, kalau kita bedah lebih dalam dari sisi sosiologi dan budaya, aktivitas manggodok di Nagari Sirukam ini maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar masak-masak biasa di dapur rumah. Acara ini adalah bagian penting dari rangkaian upacara pernikahan adat, yang jadi ruang kumpul komunal buat seluruh warga nagari buat gotong royong menyokong keluarga yang mau melepas anak kemenakan mereka ke pelaminan.

Lewat tradisi ini, masyarakat nggak cuma sekadar bikin kue buat hidangan pesta, tapi juga lagi merawat nilai-nilai penting kayak mempererat silaturahmi, menjaga solidaritas, dan keharmonisan hidup bersama lewat konsep pola awak samo awak.
Eksistensi Tradisi Manggodok sebagai agenda wajib menjelang hari pernikahan di Nagari Sirukam ini bisa tetap awet sampai sekarang karena bikinnya nggak pernah sendirian atau sembunyi-sembunyi, melainkan selalu melibatkan orang banyak yang datang dengan sukarela. Kegiatan ini biasanya diadakan beberapa hari sebelum hari akad nikah atau pesta pernikahan (baralek) dimulai, sekaligus jadi penanda resmi kalau di rumah calon pengantin bakal segera ada acara gede. Kehadiran tradisi ini penting banget buat meringankan beban keluarga yang punya hajat, sekaligus jadi momen seru-seruan buat keluarga besar dari kedua belah pihak.

Momen menjelang pernikahan ini dirayakan dengan manggodok bareng sebagai bentuk rasa syukur kolektif kepada Yang Maha Kuasa, sekaligus doa bersama supaya semua rangkaian acara sakral pernikahan anak daro dan marapulai nanti bisa berjalan lancar tanpa hambatan.

Prosesi manggodok selalu dimulai dengan persiapan sosial yang namanya mambari tahu, yaitu tradisi mengundang tetangga, kerabat dekat, dan karib bako secara lisan dari rumah ke rumah buat ikutan bantu-bantu. Menariknya, koordinasi ini tidak hanya melibatkan kaum ibu, tetapi juga bapak-bapak yang bertugas menyiapkan kayu bakar dalam jumlah besar serta memasang tenda atau "sarawa" di halaman rumah jauh-jauh hari sebelum hari H.

Pas hari H yang sudah disepakati bersama, kaum perempuan mulai dari bundo kanduang sampai remaja putri bakal kumpul di rumah calon pengantin sambil bawa bahan-bahan masak atau sekadar menyumbang tenaga seikhlasnya. Begitu proses menyiapkan adonan, mengaduk adonan, sampai menyalakan tungku api buat menggoreng godok di wajan tembaga gede (kancah) dimulai, di sinilah interaksi sosial yang seru terjadi.

Proses memasak yang butuh waktu berjam-jam di tengah kepulan asap kayu bakar ini dipakai warga buat ngobrol santai, curhat, ngasih nasihat hidup buat calon pengantin, sampai membahas persiapan teknis buat hari pernikahan nanti. Riuh rendah suara tawa emak-emak yang saling melempar candaan khas daerah membuat rasa lelah akibat mengaduk adonan yang berat menjadi tidak terasa sama sekali. Suasana sibuk di dapur darurat ini justru memancarkan energi positif yang luar biasa, di mana aroma manis pisang yang digoreng berbaur dengan hangatnya rasa kebersamaan yang tulus.

Dalam struktur sosial masyarakat adat Minangkabau, silaturahmi itu fondasi paling utama yang mengikat setiap orang dalam sistem kekerabatan tungku tigo sajarangan supaya tetap seimbang.

Tradisi Manggodok menjelang pernikahan di Nagari Sirukam ini sukses jadi wadah peleburan status sosial yang ampuh banget di tingkat kampung. Di sini, nggak ada lagi batasan atau sekat kaku soal siapa yang kaya, siapa yang miskin, apa jabatannya, atau apa lulusan sekolahnya, karena semua orang punya posisi dan peran yang sama buat menyukseskan acara pernikahan tetangga mereka. Suasana santai dan akrab yang terbangun selama bikin kue bikin orang-orang jadi lebih terbuka, makanya komunikasi yang terjalin pun terasa jauh lebih hangat, jujur, dan penuh rasa kekeluargaan. Selain mempererat hubungan antar-tetangga, manggodok juga jadi jembatan komunikasi antar-generasi di Nagari Sirukam.

Lewat kegiatan bareng ini, transfer nilai-nilai luhur, pengetahuan lokal, dan etika pernikahan adat mengalir gitu aja dari generasi tua ke generasi muda yang mau berumah tangga. Sambil tangan sibuk mengaduk adonan tepung dan adonan luo (isian dari godok), para orang tua biasanya menyelipkan petuah hidup lewat petatah-petitih Minang, mengajarkan tata krama berkomunikasi lewat prinsip "kato nan ampek" yakni "kato mandaki, kato manurun, kato mandata, dan kato malereang sekaligus ngasih wejangan nyata soal cara menjaga komitmen dan tanggung jawab setelah resmi menikah.

Makanya, tradisi manggodok menjelang pernikahan ini otomatis berubah jadi ruang belajar informal yang asyik buat menjaga kelestarian tatanan keluarga adat biar nggak hilang ditelan zaman.

Di sisi lain, tradisi kumpul-kumpul ini juga punya peran penting sebagai tempat damai buat menyelesaikan gesekan sosial di tengah masyarakat nagari. Ketegangan, salah paham kecil, atau adu ego antar-tetangga yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari bisa langsung mencair begitu saja di sela-sela serunya aktivitas manggodok ini. Atmosfer kebersamaan yang penuh tawa canda, candaan khas daerah, wangi kue yang lagi digoreng buat menyambut tamu pernikahan, dan puncaknya acara makan bareng, secara psikologis bisa meredam emosi dan melunakkan hati orang yang lagi musuhan.

Ruang komunal yang santai di rumah calon pengantin kayak gini sering banget jadi tempat bertemunya orang-orang yang sempat menjauh, di mana mereka bisa saling memaafkan secara natural tanpa perlu lewat jalur formal yang kaku dan bikin tegang. Kalau kita lihat dari kacamata sosiologi soal solidaritas sosial, Tradisi Manggodok di Nagari Sirukam ini adalah cerminan nyata dari solidaritas mekanis yang masih murni banget.

Solidaritas ini lahir dari kesadaran bersama masyarakat yang merasa senasib sepenanggungan dan punya komitmen moral buat saling menjaga. Nilai gotong royong yang ada di peribahasa adat "saciok bak ayam, sadanciang bak basi" kelihatan jelas banget pas warga rela menyumbangkan tenaga, waktu, pikiran, sampai bahan makanan demi kesuksesan pesta pernikahan kerabat mereka tanpa mengharapkan bayaran uang sama sekali. Mereka bergerak murni karena panggilan hati, rasa peduli, dan tanggung jawab moral buat menjaga keharmonisan hidup di nagari.

Prinsip solidaritas yang kuat ini makin kelihatan dari pola bagi-bagi kue setelah proses manggodok selesai. Kue godok yang sudah matang nggak cuma disimpan buat suguhan tamu resmi pas hari H pernikahan aja, tapi langsung dibagi-bagikan rata ke semua tetangga di sekitar rumah, termasuk ke warga yang kebetulan nggak bisa datang bantu karena ada kesibukan lain. Perilaku sosial yang suka berbagi ini sukses memupuk rasa empati yang mendalam di hati masyarakat, di mana urusan dan beban ngadain pesta pernikahan satu keluarga otomatis dianggap jadi urusan bersama juga.

Kehadiran fisik langsung dalam tradisi menjelang pernikahan ini seolah memaksa masyarakat Sirukam buat naruh dulu hp mereka, melupakan sejenak urusan dunia maya, dan meredam ego masing-masing demi menumbuhkan lagi kepekaan sosial terhadap realitas kehidupan tetangga sebelah rumah.

Hubungan emosional yang sempat renggang akibat kesibukan di dunia digital seakan tersambung kembali lewat sepiring kue godok hangat yang diantarkan langsung ke beranda rumah tetangga.

Selain itu, filosofi dari bahan-bahan bikin godok ternyata punya pelajaran hidup yang dalam banget buat calon pengantin yang mau menikah.Komponen penyusun kue godok kayak gula tebu yang sudah di lelehkan, tepung beras yang putih kering, sama parutan kelapa yang kasar kalau didiamkan sendiri-sendiri kan nggak ada gunanya dan nggak enak dimakan.

Tapi, pas semua bahan yang beda karakter dan sifat itu dicampur jadi satu adonan dengan takaran yang pas, lalu digoreng bareng di wajan berisi minyak panas, mereka bakal menyatu dengan sempurna dan jadi cemilan baru yang rasanya manis, gurih, dan enak banget. Fenomena ini jadi metafora yang pas buat calon pengantin, mengajarkan kalau perbedaan sifat, watak, dan latar belakang antara suami dan istri nanti, kalau disatukan pakai musyawarah, toleransi, dan komitmen bersama, pasti bakal melahirkan kehidupan keluarga baru yang harmonis, kokoh, dan penuh kebahagiaan.

Rasa manis dari kue godok melambangkan harapan akan kebahagiaan, sementara proses menggoreng di minyak panas menjadi pengingat bahwa ujian rumah tangga harus dihadapi bersama dengan kepala dingin.

Tapi biar bagaimanapun, walaupun punya banyak nilai filosofis dan sosial yang keren buat ketahanan masyarakat, Tradisi Manggodok menjelang pernikahan di Nagari Sirukam Payung Sekaki sekarang lagi menghadapi tantangan yang lumayan berat gara-gara arus modernisasi dan tren serba praktis.

Gaya hidup zaman sekarang yang pengennya serba cepat dan instan bikin sebagian keluarga modern lebih memilih pakai jasa catering atau wedding organizer yang terima beres, karena mereka menganggap proses manggodok konvensional itu terlalu buang waktu, ribet, dan bikin capek lingkungan sekitar. Ditambah lagi, sekarang banyak anak muda Nagari Sirukam yang pergi merantau buat kuliah atau kerja di kota-kota besar, yang bikin jumlah anak muda yang ikutan bantu-bantu persiapan pernikahan tradisional makin berkurang dari tahun ke tahun. Perubahan pola pikir ini jika dibiarkan tentu dapat mengikis perlahan identitas kultural yang sudah dibangun sejak ratusan tahun lalu oleh para leluhur.

Biar nilai-nilai kebersamaan ini nggak hilang, butuh banget kerja sama yang kompak antara pemangku adat, pemerintah nagari, dan semua warga buat menjaga tradisi pra-nikah ini. Tokoh adat kayak ninik mamak bareng Kerapatan Adat Nagari (KAN) punya tanggung jawab buat mengimbau masyarakat supaya tetap mempertahankan tradisi manggodok sebagai aturan sosial tak tertulis sebelum bikin pesta pernikahan di Sirukam.

Selain itu, anak-anak muda atau parik paga nagari juga harus kreatif memanfaatkan media sosial buat mendokumentasikan prosesi dan menyebarkan nilai seru di balik tradisi manggodok pra-pernikahan ini, biar generasi milenial dan Gen Z yang melek digital bisa paham, tertarik, dan bangga sama warisan asli leluhur mereka sendiri. Pengemasan konten yang menarik di platform digital bisa menjadi alat kampanye budaya yang sangat efektif untuk menarik perhatian generasi muda yang mulai berjarak dengan adatnya.

Kesimpulannya, Tradisi Manggodok menjelang pernikahan di Nagari Sirukam, Kecamatan Payung Sekaki, itu bukan sekadar urusan emak-emak masak di dapur dan manggolong godok sebelum pesta. Lebih dari itu, manggodok adalah sebuah pranata sosial dan institusi budaya pra-nikah yang fungsinya vital banget sebagai media buat mempererat silaturahmi sekaligus mesin utama buat melahirkan dan menjaga solidaritas sosial di tingkat akar rumput.

Lewat tawa canda, petuah bijak para tetua, dan obrolan hangat yang mengalir seru di sela kepulan asap kayu bakar tungku rumah calon pengantin, tradisi ini terbukti sukses merawat nilai gotong royong dan menjaga keharmonisan antar-warga, biar filosofi luhur Minangkabau nggak cuma jadi pajangan tapi tetap hidup nyata.

Menjaga tradisi manggodok menjelang pengantin menikah tetap lestari di Nagari Sirukam artinya kita semua ikutan menjaga urat nadi kebersamaan, mendukung kesiapan keluarga baru, dan merawat kepedulian sosial biar nggak lekang oleh panasnya modernisasi dan nggak lapuk oleh hujan perubahan zaman di era global ini. Dengan mempertahankan kearifan lokal ini, Nagari Sirukam tidak hanya sekadar melestarikan sebuah resep makanan tradisional, melainkan sedang membentengi jiwa masyarakatnya dari ancaman individualisme yang kian menggerogoti kehidupan modern.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Tradisi Manggodok, Nagari Sirukam, Payung Sekaki

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com