HOME ITECH PROVINSI SUMATERA BARAT
- Senin, 5 Oktober 2026
Taufik Effendi Kembangkan Nalareka Menjadi Ekosistem Pembacaan Pola
PADANG, (minangsatu) - Setelah sukses mengembangkan belasan aplikasi yang tergabung dalam ekosistem digital Nalareka, Taufik Effendi, akrab disapa TE, kini membawa nalareka.id ke gagasan yang lebih luas: ekosistem pembacaan pola.
“Semesta membaca pola, The Universe Reads Patterns” menjadi tagline baru yang diusung nalareka.id.
“Segala sesuatu itu ada pola. Kita saja yang perlu menganalisa dan mencarinya. Bila ketemu pola, maka mestinya kita bisa membuat kombinasi pemolaannya. Hasilnya adalah sesuatu yang baru,” ujar TE menjelaskan obsesinya dalam membangun berbagai aplikasi yang dipublikasikan dalam ekosistem miliknya tersebut.
Kepada Minangsatu, Senin (5/10), TE mengaku apa yang telah, sedang, dan akan terus dilakukannya itu boleh disebut sebagai “membangun AI dengan menggunakan AI.”
“Sekarang banyak sekali AI yang tersedia. Bila itu kita manfaatkan untuk membangun sesuatu yang baru, itu adalah terobosan. Alih-alih hanya sebagai user awam dari para AI itu,” ungkapnya sembari memperlihatkan belasan aplikasi yang telah dikembangkannya dengan bantuan berbagai teknologi AI.
Berawal dari Membaca Pola Batin
TE mengakui dirinya tidak memiliki latar belakang teknologi informasi yang memadai. Namun, menurutnya, keterbatasan tersebut tidak harus menjadi penghalang untuk menciptakan sesuatu.
“Kalau kita memikirkan gambaran besar dari sesuatu yang mau dibuat, lalu mencobanya dengan telaten, ternyata bisa juga,” ceritanya.
Gagasan pembacaan pola itu, kata TE, justru berawal dari sesuatu yang sangat personal: pola batin manusia.
“Awalnya saya membuat aplikasi untuk pemolaan batin. Ini penerapan dari tasawuf. Batin manusia itu punya pola. Bagaimana akal, hati dan nafsu saling pengaruh-mempengaruhi,” jelasnya.
Dari konsep tersebut, TE kemudian mengembangkan aplikasi yang mencoba “mencari” kondisi batin pengguna melalui serangkaian pertanyaan.
“Jika pengguna jujur dengan jawaban pertanyaan yang diajukan, maka ujungnya adalah pemahaman diri,” katanya.
Konsep itu kemudian berkembang. TE melihat bahwa pola bukan hanya terdapat dalam diri manusia, tetapi juga dalam perilaku, masyarakat, sejarah, pengetahuan, teknologi, hingga berbagai fenomena kehidupan.
Dari Pola Batin ke Pola Semesta
Perluasan gagasan tersebut membuat Nalareka memasuki fase baru. Jika sebelumnya ekosistem Nalareka lebih banyak diarahkan sebagai ruang untuk memahami diri dan menyelaraskan batin, kini gagasannya diperluas menjadi mesin untuk membaca pola.
“Kalau pola batin bisa kita baca, kenapa pola sejarah tidak? Kenapa pola sosial tidak? Kenapa pola pengetahuan, teknologi dan berbagai kejadian di sekitar kita tidak kita coba baca?” ujar TE.
Menurutnya, membaca pola bukan sekadar mencari kesamaan antara satu kejadian dengan kejadian lainnya. Yang lebih penting adalah menemukan hubungan, kecenderungan, perubahan, dan kemungkinan kombinasi dari berbagai pola tersebut.
“Ketika kita menemukan pola, kita bisa melihat kemungkinan pola berikutnya. Dari sana kita bisa membuat kombinasi baru. Jadi bukan sekadar membaca masa lalu, tetapi juga membuka kemungkinan terhadap sesuatu yang belum terjadi,” katanya.
Gagasan inilah yang kemudian menjadi dasar perubahan arah nalareka.id menjadi “Semesta Membaca Pola.”
Bukan Sekadar Kumpulan Aplikasi
TE mengatakan, belasan aplikasi yang telah dibangunnya tidak dimaksudkan sebagai aplikasi yang berdiri sendiri-sendiri.
Menurutnya, berbagai aplikasi tersebut merupakan bagian dari satu ekosistem yang sedang dibangun secara bertahap.
Ada aplikasi yang mengeksplorasi batin dan kesadaran, ada yang membaca pola sejarah, ada yang mengolah informasi dan realitas sosial, ada pula yang dikembangkan untuk permainan, literasi, musik, cerita, olahraga hingga berbagai eksperimen digital lainnya.
“Yang saya bangun sebenarnya bukan sekadar banyak aplikasi. Saya sedang mencoba membuat ekosistem. Masing-masing punya fungsi dan cara membaca pola yang berbeda, tetapi semuanya bisa saling berhubungan,” ujarnya.
“Membangun AI dengan AI”
Yang menarik, seluruh eksperimen tersebut sebagian besar dikembangkan TE dengan memanfaatkan AI sebagai partner kerja.
Ia menyebut pendekatan itu sebagai “membangun AI dengan menggunakan AI.”
“AI jangan hanya kita gunakan untuk bertanya, membuat tulisan, membuat gambar atau mencari informasi. Kita bisa menggunakan AI untuk membantu membangun mesin baru,” katanya.
Menurut TE, perkembangan AI saat ini justru membuka kesempatan bagi orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki kemampuan teknis mendalam untuk ikut menciptakan produk digital.
“Dulu untuk membuat aplikasi kita harus menguasai pemrograman secara mendalam. Sekarang AI bisa membantu menerjemahkan gagasan menjadi sesuatu yang bisa diuji. Tentu tetap harus dipahami, diuji dan diperbaiki. Tapi pintunya sudah terbuka,” katanya.
Ia sendiri mengaku masih terus belajar dalam proses tersebut.
“Saya bukan programmer. Saya lebih banyak memikirkan konsep, pola dan gambaran besarnya. AI membantu menerjemahkan gagasan itu menjadi aplikasi.”
Dari Pengguna Menjadi Pencipta
Bagi TE, perubahan terbesar bukan terletak pada teknologinya, tetapi pada cara manusia memandang AI.
Ia tidak ingin berhenti sebagai pengguna berbagai platform AI yang tersedia.
“Kalau kita hanya menggunakan AI untuk bertanya, kita tetap menjadi user. Tapi kalau AI kita gunakan untuk membangun sesuatu yang baru, posisi kita berubah menjadi creator,” ujarnya.
Karena itu, ia memilih terus bereksperimen dengan berbagai gagasan meskipun sebagian masih berada pada tahap pengembangan.
“Tidak semuanya harus langsung sempurna. Yang penting idenya diuji. Kalau gagal, kita tahu di mana polanya tidak bekerja. Kalau berhasil, kita kembangkan lagi,” katanya.
Membaca Pola untuk Menciptakan Sesuatu yang Baru
TE menyebut fase baru Nalareka bukan berarti meninggalkan gagasan awal tentang manusia dan kesadaran. Sebaliknya, pembacaan pola justru menjadi payung yang lebih besar.
Dari membaca pola diri, berkembang menjadi membaca pola sosial, sejarah, pengetahuan, teknologi dan semesta kehidupan.
“Pada akhirnya semua ini kembali kepada satu pertanyaan: pola apa yang sedang terjadi, mengapa pola itu muncul, bagaimana pola itu berubah, dan apa yang mungkin lahir dari kombinasi pola tersebut?” katanya.
Ia menyadari gagasan tersebut masih sangat panjang untuk dikembangkan. Namun, menurutnya, justru di situlah menariknya sebuah eksperimen.
“Nalareka masih terus dibangun. Kita tidak tahu akan sampai di mana. Tapi obsesinya jelas: membaca pola, memahami hubungan antarpola, lalu menemukan kemungkinan baru dari sana.”
Dengan tagline baru “Semesta Membaca Pola, The Universe Reads Patterns”, Nalareka kini tidak lagi sekadar diposisikan sebagai kumpulan aplikasi digital, melainkan sebagai sebuah eksperimen panjang untuk menjadikan teknologi sebagai alat membaca realitas.
Dan bagi TE, eksperimen itu baru saja dimulai.
Editor : boing
Tag :Nalareka, Aplikasi, ekosistem digital Nalareka, TE, Taufik Effendi, nalareka.id
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com