HOME RANCAK PROVINSI SUMATERA BARAT
- Selasa, 30 Juli 2024
Taty Westhoff, Diaspora Minang Di Belanda Menggugat Artis Yang Melecehkan Budaya Minangkabau
Taty Westhoff, Diaspora Minang di Belanda Menggugat Artis yang Melecehkan Budaya Minangkabau
Padang (Minangsatu) - Taty Westhoff, Diaspora Minang di Belanda menggugat artis yang melecehkan budaya Minangkabau lewat pakaian pengantin yang mengumbar aurat perempuan.
"Sebagai seorang perempuan Minang yang sudah 44 tahun berdomisili di luar negeri merasa risau dan terusik dengan melihat liputan seorang mempelai wanita yang memakai sunting Minang dengan gaun putih yang memperlihatkan auratnya. Astaghfirullah al adziem. Sungguh sangat melecehkan adat dan budaya Minang yang berdasarkan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah," ucap Taty.
Taty Westhoff, seorang pebisnis kuliner, aktifis sosial budaya dengan berulang kali mengucap istighfar karena pencemaran adat dan budaya Minangkabau yang meresahkannya.
Ia selama ini di rantau getol melestarikan adat budaya Minangkabau bersama orang Minangkabau lainnya di Belanda. Telah banyak kegiatan yang dilakukannya di Belanda, mulai dari seni, adat, budaya, pengajian, pendidikan, bahasa, simbol berpakaian dan adab perilaku hingga kuliner minang. Ia dengan bangga merawat budaya Minangkabau dengan filosofi ABSSBK di tengah-tengah gempuran budaya Eropa yang jauh dari agama.
Taty berharap orang-orang di Sumatera Barat, seperti Bundo Kanduang, LKAAM dan organisasi perempuan lainnya ikut menyuarakan agar ada norma yang bisa dipegang oleh anak muda terutama soal adab perilaku termasuk soal berpakaian di zaman yang penuh tantangan.
Senada dengan Taty Westhoff, Ida Basnurida, ketua Forum Siti Manggopoh (FSM) dan Wevy Ningrat, Ketua Gerak muslimat Indonesia (GMI) Sumbar juga menyampaikan kegusarannya tentang pelanggaran norma tersebut.
"Jika mereka mau berbuka-buka aurat, silahkan saja, tapi jangan menggunakan ornamen Minang apalagi suntiang bagi pengantin memiliki makna filosofi yang dalam. Itu melecehkan namanya. Kita harus menyadari soal perkosaan, LGBT dimulai dari melecehkan norma adat dan agama," jelasnya.
Hal demikian disampaikan saat Basnurida dan Wevy Ningrat bersama pengurus FSM dan GMI menghadap Harneli Bahar, selaku penasihat banyak organisasi wanita termasuk GMI dan FSM Selasa tgl 28 Juli di istana Gubernur.
Harneli Bahar juga merasa prihatin dengan kondisi sekarang yang hampir tak terkendali. "Empat rumah harus menjadi perhatian kita, rumah tangga, rumah sekolah, rumah ibadah dan rumah adat, mari kita mulai dari keluarga kita," tambah Harneli.
Editor : ranof
Tag :#Suntiang minang #Adat minang #Diaspora minang #Sumbar
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
GUBERNUR MAHYELDI : KOLABORASI SOLID LINTAS INSTANSI DI SUMBAR TERBUKTI KUAT DALAM PENANGANAN BENCANA
-
50 PESERTA LOMBA LAGU PERJUANGAN PBRTV SUMBAR LOLOS KE BABAK SEMIFINAL 14 JANUARI DI RRI
-
GUBERNUR MAHYELDI: HARI AMAL BHAKTI MOMENTUM PERKUAT KERUKUNAN DAN SINERGI PASCABENCANA
-
EVALUASI PWRI SUMBAR TAHUN 2025, SYAFRIZAL UCOK : KONSOLIDASI LANCAR DAN TUNTAS TAHUN 2026
-
GUBERNUR MAHYELDI SERAHKAN BANTUAN ALSINTAN UNTUK KELOMPOK TANI DI KABUPATEN SOLOK
-
“TEMBAK PATUIH”: MITOS EDUKATIF DALAM UNGKAPAN LARANGAN ULAKAN TAPAKIS
-
CHERRY CHILD FOUNDATION BERSAMA BERBAGAI KOMUNITAS SALURKAN BANTUAN KE WILAYAH TERDAMPAK BANJIR BANDANG DI PADANG
-
MENANAM POHON, MENUAI KESELAMATAN: KONSERVASI LAHAN KRITIS UNTUK KETAHANAN HIDUP KOMUNITAS.
-
MUSIBAH
-
KEMANA BUPATI TAPSEL