HOME SOSIAL BUDAYA NASIONAL

  • Kamis, 2 September 2021
Tantangan Era Digital Memerangi Hoaks, Disinformasi Dan Malinformasi
Penangggungajawab kumparan.com, Arifin Asydhad, dalam webinar Safari Jurnalistik PWI dan Astra Internasional, di Jakarta, Kamis (2/9/2021).

Jakarta (Minangsatu) - Platform digital Indonesia turut bertanggungjawab menjaga ruang digital dari konten negative dan menegah beredarnya hoaks, kabar bohong yang memanfaatkan literasi digital. Hal itu diungkapkan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kemenkominfo, Usman Kansong, pada Webinar Safari Jurnalistik, Batch 2, kerjasama PWI dan Astra Internasional. Webinar yang diikuti lebih dari 300 wartawan seluruh Indonesia itu, berlangsung sedara daring, Kamis (2/9/2021), dari lantai 4 Sekretariat Dewan Pers, Jakarta. Safari Jurnalistik ini adalah batch kedua di tahun 2021 setelah sebelumnya dilaksanakan Agustus lalu.

Usman Kansong, menjelaskan platform digital sekarang menghadapi tantangan yang tidak ringan. “Saya kira tantangan kita era digital adalah bagaimana memerangi hoaks, disinformasi, dan malinformasi yang tentu saja ini harus kita perhatikan melalui berbagai program dan langkah.

Pada sisi lain, Usman Kansong yang mewakili Kementerian Komunikasi dan Informatika mengingatkan pentingnya beralih ke TV digital. Menurutnya masih banyak masyarakat yang belum memahami perubahan teknologi siaran televisi terestrial dari analog ke digital, yang secara bertahap akan dimulai tahun depan. Masih ada masyarakat yang mengira siaran televisi terestrial digital adalah sama dengan siaran televisi kabel atau layanan streaming. "Siaran televisi digital ini bukan streaming lewat gawai, bukan televisi berlangganan, bukan TV box yang harus terhubung ke internet. Siaran televisi digital ini tetap terestrial, free to air, tapi menggunakan sistem digital," kata Usman. "Jadi free to air (gratis), tidak perlu biaya langganan, berbeda dengan televisi kabel atau televisi berbayar," jelas Usman Kansong.

Migrasi siaran televisi terestrial dari analog ke digital, menurut Usman adalah sebuah keharusan, seperti perkembangan jaringan dari 4G ke 5G. Pemerintah beberapa waktu lalu mengumumkan perubahan jadwal penghentian siaran televisi terestrial analog, atau analog switch off, tahap pertama dari semula 17 Agustus 2021 menjadi 30 April 2022.

Webinar yang mengangkat tema Masa Depan Media Pascadigitalisasi Televisi dan Era 5G dengan sub topik Kiat Membesarkan Portal Berkelas Juara, menghadirkan keynote speaker Dirjen Informasi dan Kebijakan Publik, Kominfo RI Usman Kansong, narasumber Ketua Umum PWI Pusat, Atal S. Depari, Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat yang juga Pemred sariagri.id, Nurjaman Mochtar dan Penanggung Jawab kumparan.com, Arifin Asydhad dengan moderator Ahmed Kurnia Soeriawidjaja selaku Direktur Safari Jurnalistik PWI Pusat.

Sementara pembicara lainnya, Nurjaman, mengatakan saat ini platform media digital berkembang sangat pesat seiring berkembangnya teknologi, sehingga mengharuskan media tampil kreatif dan inovatif. “Salah satu kunci untuk tetap bertahan adalah beradaptasi dengan mengikuti kemajuan dunia digital. Apalagi saat ini era teknologi 5G telah mulai diaplikasikan,” ujar Nurjaman. Ibaratnya, seperti nyamuk yang merupakan makhluk purba tapi dia mampu hidup bertahan sampai sekarang karena dia mampu beradaptasi.

Sebelumnya, Ketua Umum PWI Pusat, Atal S Depari, saat menyampaikan welcome speech menjelaskan bahwa kegiatan Safari Jurnalistik batch 2 ini merupakan agenda rutin PWI untuk menambah wawasan wartawan mengenai jurnalistik, terutama terkait tantangan yang harus dihadapi media di era 5G dan beralihnya televisi dari analog ke digital. "Jadi, safari jurnalistik ini perlu untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan wartawan, sebab narasumber yang hadir ini orang-orang hebat ada Pak Nurjaman dan Pak Arsyad yang melahirkan portal berita juara," Jelasnya.

Sementara itu, Pemred kumparan.com, Arifin Asydhad, menyampaikan bagaimana cara Kumparan dapat bertahan dan menjadi salah satu portal berita juara. Menurutnya jika ingin membangun media yang besar, maka sejak awal harus konsisten mengatur langkah dan strategi untuk menjadi besar. “Konsisten dengan visi & misi media Anda. Kualitas dan kredibilitas konten tidak boleh dinegosiasikan, harus tetap tinggi,” jelasnya.

Selain itu menurut Arifin, pageview bukanlah segalanya, Jangan menjadi media yang mengejar klikbai yang mengakibatkan media menjadi pencuri konten dan mengutip media sosial hal tersebut secara tidak langsung akan menurunkan kualitas media sekaligus kualitas jurnalisme Indonesia. “Jangan hanya mau cepat tapi tidak akurat. Lebih baik redaksi mengutamakan akurasi kemudian kecepatan,” tambah Arifin.

Pada bagian lain, Head of Corporate Communication PT Astra International, Boy Kelana Soebroto, menyambut baik kerja sama dengan Sekolah Jurnalis PWI. Menurutnya Safari Jurnalistik ini bentuk dukungan dan komitmen PT Astra Internasional untuk ikut meningkatkan wawasan dan profesionalisme wartawan Indonesia.

Safari Jurnalistik ini merupakan program reguler PWI Pusat yang difokuskan pada pengenalan perkembangan jurnalistik, baik regulasi maupun teknologi. Pihaknya pun berharap kerjasama seperti ini dapat terus berlangsung termasuk kerjasama bidang pendidikan dimana PT. Astra Internasional membuka beasiswa bagi mahasiswa untuk berkuliah di kampus yang telah mereka dirikan yaitu, Politeknik Manufatktur Astra.


Wartawan : Rilis/Pwi-Pusat
Editor : ranof

Tag :#Era digital#Sarjur#PWI#Astra Internasional#Kemenkominfo#Kumparan#Jakarta#Sumbar#