HOME OPINI OPINI

  • Sabtu, 26 Februari 2022
Suara Toa
All Amin

Oleh: All Amin

Air dalam cerek yang terjerang di tungku telah menggelegak. Langsung dituangkan ke cangkir yang sudah berisi bubuk kopi. Seketika harum aroma kopi memenuhi ruangan dangau kecil itu.

Mak Opin kembali duduk ke dekat tungkunya. Setelah menyajikan kopi.

Ia tercenung. Matanya memandang ke arah lembaran kertas putih yang dibawa oleh Malin Tibri. Sesekali Mak Opin tampak mengerutkan dahi. Seperti memikirkan sesuatu, sembari memperbaiki letak sugi di bibirnya.

Malin Tibri yang datang bertandang petang itu, membawa kabar yang kurang mengenakkan.

Pun begitu Pak Osu--suami Mak Opin. Seksama menyimak cerita Malin Tibri. Sambil menuntaskan gulungan tembakau dengan daun nipah. Supaya segera bisa disulut. Lisong untuk mengawani kopi.

Sepasang anak mereka; Asmar dan Misah pun duduk di disitu. Kedua anak menjelang remaja itu turut mendengarkan apa yang sedang diperbincangkan.

Dangau Mak Opin letaknya di pinggiran kampung. Di sebuah Jorong kecil di kaki Gunung Talang. Dikelilingi persawahan. Lengang. Jauh dari kemodrenan. Tapi, alamnya sungguh indah.

Duduk di dangau Mak Opin, lalu memandang ke luar melalui tingkap yang terbuka, terpampang pemandangan yang menakjubkan.

Lereng persawahan terasering. Berpadu hijaunya alam pedesaan. Menyejukkan mata.

Bila memandang ke kiri, dekat menjulang Gunung Talang. Berdiri gagah. Seolah mendinding sampai ke langit. Serupa memandang Gunung Merapi dari balkon Royal Ambarrukmo. Menengadah ke arah Gunung Agung dari Pura Besakih.

Masih dari jendela itu. Bila melihat ke kanan, lepas jauh jangkauan pandangan mata. Nun di ujung sana terlihat jelas Kota Solok dan Danau Singkarak.

Kiraan serupa melihat Kota Padang dari panorama Sitinjau Laut. Melihat Kuta dari Patung GWK. Seperti melihat Seoul dari Namsam Tower. 

Yang lebih mengesankan, ketika malam terang, berkemah atau menggelar tikar di bawah barisan batang cengkeh di halaman dangau Mak Opin. Tidur di alam terbuka yang asri. Ditemani suara jangkrik dan bunyi genta dari leher kerbau yang mengunyah sepanjang malam.

Benar-benar suasana kampung nan menenangkan.

Aktivitas keseharian Mak Opin lazimnya orang yang tinggal di kampung. Bersawah.

Suara kaset mengaji yang diputar setengah jam menjelang azan Subuh menjadi alarm. Untuk membangunkan tidur. Supaya bisa mendahului ayam jago. Yang berkokok ketika fajar mulai merekah.

Mereka bergantian ke air. Sebutan untuk pancuran kecil di samping dangau. Pancuran berdinding tanaman perdu itulah yang menjadi tempat mandi dan mencuci. Tak ada sumur di dangau Mak Opin.

Suara mengaji itu berasal dari toa surau yang bersebelahan dengan SD Inpres. Berjarak sekitar setengah kilo dari dangau Mak Opin. Jalan arah ke balai kampung. 

Bila hendak pergi salat ke surau itu dari dangau Mak Opin, berangkatnya enak, bisa setengah berlari. Pas pulang, kadang mesti sambil memegang lutut. Jalannya mendaki. 

Kemiringannya serupa tanjakan Nagrek. Mirip Alas Roban. Tapi tak beraspal. Jalan tanah dan berbatu.

Bagi Asmar dan Misah itulah area keseharian mereka. Pagi berangkat ke sekolah. Petangnya mengaji ke surau. Halaman sekolahan menyatu dengan halaman surau. Spot area bermainnya anak-anak di kampung itu.

Peran suara toa itu di kampung Mak Opin sangat besar. Kak Alih penjaga sekolah yang sekaligus pengurus surau itu selalu memutar kaset mengaji. Setengah jam menjelang masuk waktu salat. Kecuali azan Isya. 

Kalau siang suara toa itu sebagai pedoman untuk penduduk kampung yang sedang bekerja di sawah.

Pak Osu yang sedang membajak akan berhenti bila mendengar suara mengaji menjelang Zuhur. Waktunya rehat dan makan siang.

Menjelang Asar pun sama. Suara mengaji yang menghentikan pekerjaan hari itu. Waktunya siap-siap pulang. 

Pak Osu tak punya Tag Hauer atau telepon pintar. Jadi ia hanya mengandalkan suara toa dari surau itu. Sebagai pedoman waktu.

Umur toa surau itu belum lama. Baru sepuluh tahunan. Dipasang bertepatan dengan sampainya tiang listrik ke dekat SD Inpres itu.

Perangkat toa itu sumbangan dari Umar Suduik. Anak tertua Mak Opin yang sukses di rantau. Berdagang barang-barang elektroknik di Bengkulu.

Corong toa itu ada dua. Satu diarahkan ke timur. Satu ke barat.

Kepada Anto Kabel--teknisi yang memasangnya, dipesankan oleh penduduk agar suara toa itu distel lantang. Supaya terdengar sampai jauh.

Sejak toa itu ada, hampir semua kegiatan kampung diumumkan dari situ; posyandu, berita kematian, kunjungan pejabat, sosialisasi politisi, pertandingan layangan, acara berburu, layar tancap, jadwal mobil toke padi, segala rupalah.

Bagi anak-anak serupa Asmar dan Misah beda lagi, kaset mengaji menjelang Magrib itu menjadi peluit panjang untuk mengakhiri segala permainan mereka.

Begitu mulai terdengar suara mengaji, mereka bubar otomatis. Mereka punya waktu setengah jam untuk berlari pulang, dan harus sudah kembali ke surau menjelang salat Magrib. Sebab, kalau terlambat mereka akan berhadapan dengan Angku Garin dengan tongkat rotannya yang sebesar tangkai sapu. Melotot di pintu sarau. Merazia anak-anak yang terlambat.

Pada bulan Ramadan anak-anak boleh bertadarus sampai jam 10 malam pakai toa itu. Dan tadarusan yang terdengar sampai jauh itu menjadi ciri khas bulan puasa. Suasana yang mengesankan.

Malin Tibri membawa lembaran kertas. Katanya itu fotokopi Surat Perintah dari Pak Mantri. Ia menceritakan isi surat itu ke Mak Opin dan Pak Osu. 

Bahwa suara toa di surau tak boleh lagi dilantangkan.

Dibatasi hanya untuk sekitaran surau. 

Suara toa tak akan terdengar lagi sampai ke dangau Mak Opin. Begitu penjelasan Malin Tibri.

Bagi Mak Opin suara toa itu sangat berarti. Selain pengingat waktu. Setiap kali mendengar suara toa itu, Mak Opin terbayang putra sulungnya yang pulang cuma setahun sekali; Umar Suduik. Penawar rindu.

Mata Mak Opin nanar. Ia diam tak berkomentar. Tembakau sugi di bibirnya hampir jatuh. Ia hanya memandangi kertas itu dari jauh. Tak ia sentuh sama sekali. Mak Opin tak pandai membaca.*


Tag :#opini