HOME VIRAL UNIK

  • Kamis, 23 April 2026

Sejarah Dan Fakta Tari Piring: Jejak Ritual Petani Solok Hingga Atraksi Kaca Di Atas Panggung

Sejarah dan Fakta Tari Piring: Jejak Ritual Petani Solok Hingga Atraksi Kaca di Atas Panggung

Oleh: Andika Putra Wardana


Tari piring kini lebih sering kita temui di acara penyambutan pejabat, perhelatan pernikahan, atau festival seni di Taman Budaya Sumatera Barat. Namun, tarian ini punya rekam jejak yang jauh lebih tua dari sekadar seni hiburan. Merujuk pada catatan sejarah kebudayaan Minangkabau, kesenian ini lahir pertama kali di Kabupaten Solok.

Ratusan tahun lalu, tarian ini merupakan bagian dari ritual agraris. Para petani masa itu menggunakan piring-piring keramik yang diisi hasil panen segar, lalu membawanya menari sebagai wujud persembahan dan rasa syukur kepada dewa atas hasil bumi yang melimpah.

Fase peralihan tarian ini terjadi ketika ajaran Islam mulai masuk dan membumi di Sumatera Barat pada rentang abad ke-16. Tradisi membawa sesajen perlahan ditinggalkan karena bertentangan dengan syariat. Fungsi tari piring pun berubah total dari ritual pemujaan menjadi kesenian hiburan rakyat usai panen raya, di mana piring yang digunakan tak lagi berisi makanan.

Buku Ensiklopedi Tari Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mencatat ada lebih dari 20 gerakan dasar dalam tarian ini. Semuanya mendokumentasikan rutinitas petani secara presisi, mulai dari gerak menyemai benih, menyiangi rumput, hingga menuai padi di sawah.

Revolusi Koreografi di Dekade 60-an

Tari piring dengan tempo cepat dan gerakan akrobatik yang kita tonton hari ini berutang besar pada sosok koreografer legendaris asal Padang Panjang, Huriah Adam. Pada era 1960-an, Huriah merombak wajah tari piring klasik yang lambat menjadi lebih bertenaga.

Arsip dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang merekam bahwa Huriah-lah tokoh yang secara pakem memasukkan unsur silek (silat tradisional) ke dalam koreografi. Kuda-kuda silat yang rendah dan langkah taktis inilah yang memungkinkan penari era modern bisa melompat, berputar 360 derajat, dan berayun tajam tanpa menjatuhkan piring dari telapak tangannya.

Identitas tarian ini juga sangat bergantung pada dentingan ritmis puluhan ketukan per menit yang terus mengiringi penari. Suara nyaring ini tidak dihasilkan dari piring yang saling beradu, melainkan dari dua buah cincin khusus di jari telunjuk atau jari tengah penari. Dalam jurnal-jurnal etnomusikologi, cincin ini dulunya dibuat dari cangkang buah kemiri yang dilubangi, sebelum akhirnya bergeser menggunakan logam kuningan.

Ketukan cincin ini tidak boleh sembarangan, ia harus sinkron membelah tempo musik talempong pacik dan gandang tabuik yang perlahan naik dari lambat menjadi sangat cepat di akhir pementasan.

Logika Fisika Atraksi Pecahan Kaca

Sesi pemecahan piring di penghujung acara kerap menjadi pemandangan yang mendebarkan. Penari membanting piring ke lantai panggung, lalu menari persis di atas hamparan pecahan kaca tajam tanpa alas kaki. Penonton awam sering mengaitkan atraksi ini dengan ilmu kebal.

Kenyataannya, atraksi ini sepenuhnya bersandar pada logika fisika dan anatomi. Penari profesional di berbagai sanggar dilatih bertahun-tahun untuk menguasai teknik distribusi berat badan. Mereka tahu cara menapakkan telapak kaki secara merata agar tekanan ujung kaca terbagi dan tidak menembus kulit.

Kondisi fisik penari juga punya andil besar. Rutinitas latihan bertelanjang kaki setiap hari membuat lapisan epidermis di telapak kaki para penari menebal secara alami. Ketebalan kulit inilah tameng utamanya. Ketangguhan estetika dan sejarah panjang ini pula yang membuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menetapkan tari piring sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Status ini membuktikan bahwa menari di atas pecahan kaca bukan sekadar pamer nyali, melainkan cara warga nagari menjaga arsip sejarah mereka tetap hidup.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Sejarah, Fakta Tari Piring, Jejak Ritual, Petani Solok, Atraksi. Kaca di Atas Panggung

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com