- Sabtu, 27 Desember 2025
Ritme Kehidupan Di Aie Dingin: Adat, Dadiah, Dan Harmoni Alam
Ritme Kehidupan di Aie Dingin: Adat, Dadiah, dan Harmoni Alam
Oleh: Andika Putra Wardana
Kehidupan di Nagari Aie Dingin berjalan dengan ritme yang tenang. Pagi hari dimulai dengan kabut tipis, suara air mengalir, dan langkah petani menuju sawah. Di nagari ini, alam bukan latar belakang, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Masyarakat Aie Dingin hidup dalam ikatan sosial yang kuat. Gotong royong masih menjadi kebiasaan, baik dalam membangun fasilitas nagari, mengolah sawah, maupun menyelenggarakan acara adat. Setiap fase kehidupan, kelahiran, pernikahan, hingga kematian, dijalani bersama dalam bingkai adat Minangkabau dan nilai keislaman.
Salah satu tradisi khas yang masih dijaga adalah Bararak Kapalo Banda, sebuah ritual adat yang berkaitan erat dengan pertanian. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk syukur dan doa agar tanaman terhindar dari hama dan bencana. Penyembelihan hewan ternak, doa bersama, dan arak-arakan mengelilingi sawah menjadi simbol hubungan spiritual antara manusia, tanah, dan Tuhan. Tradisi ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Aie Dingin, bertani bukan hanya soal produksi, tetapi juga soal keseimbangan dan keberkahan.
Dalam urusan kuliner, Aie Dingin memiliki kekhasan yang telah diakui secara nasional, yakni dadiah, makanan fermentasi dari susu kerbau yang disimpan dalam bambu. Dadiah bukan hanya pangan, tetapi juga identitas budaya. Pengakuannya sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia menegaskan bahwa tradisi kuliner Aie Dingin memiliki nilai historis dan kearifan lokal yang tinggi.
Potensi nagari ini juga mulai berkembang ke arah wisata berbasis alam dan pertanian. Kawasan perbukitan, udara dingin, serta pengembangan agrowisata kopi di Solok Radjo membuka peluang baru bagi masyarakat. Namun, masyarakat Aie Dingin tetap memandang pembangunan sebagai proses yang harus selaras dengan adat dan alam.
Aie Dingin adalah nagari yang tidak kehilangan arah di tengah perubahan. Ia bergerak pelan namun pasti, menjaga tradisi, merawat alam, dan mempertahankan nilai kebersamaan. Di sanalah kekuatan nagari ini, bukan pada gemerlap, melainkan pada keteguhan.
Editor : melatisan
Tag :Ritme Kehidupan, Aie Dingin, Adat, Dadiah, Harmoni Alam
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
NAGARI CUPAK: JEJAK PERJUANGAN, ADAT NAGARI, DAN KEHIDUPAN DI KAKI GUNUNG TALANG
-
TRADISI SUSUNGAN JENAZAH DAN RASA KULINER BUKIK TANDANG: IDENTITAS BUDAYA YANG TETAP HIDUP
-
BUKIK TANDANG: NAGARI PERBUKITAN YANG MENJAGA ADAT DAN JEJAK SEJARAH DI BUKIT SUNDI
-
BUKIK BAIS: JEJAK PRASEJARAH, TRADISI BALOTA, DAN LANGKAH MENUJU NAGARI CERDAS
-
NAGARI BUKIT BAIS: SEJARAH, ADAT, DAN JEJAK KEHIDUPAN MINANGKABAU DI IX KOTO SUNGAI LASI
-
“TEMBAK PATUIH”: MITOS EDUKATIF DALAM UNGKAPAN LARANGAN ULAKAN TAPAKIS
-
CHERRY CHILD FOUNDATION BERSAMA BERBAGAI KOMUNITAS SALURKAN BANTUAN KE WILAYAH TERDAMPAK BANJIR BANDANG DI PADANG
-
MENANAM POHON, MENUAI KESELAMATAN: KONSERVASI LAHAN KRITIS UNTUK KETAHANAN HIDUP KOMUNITAS.
-
MUSIBAH
-
KEMANA BUPATI TAPSEL