HOME OPINI OPINI

  • Selasa, 10 Mei 2022
Pulang Kampung
Gamawan Fauzi

Pulang Kampung

Oleh DR Gamawan Fauzi

Pulang Kampung, atau secara nasional disebut dengan mudik sudah menjadi berita tahunan, entah sejak kapan.Tapi serba-serbi pulang kampung bagi setiap orang tidaklah mampu diungkapkan seutuhnya dan semuanya oleh media, meskipun selalu menjadi berita  berhari-hari sejak pertengahan Ramadhan hingga pertengahan dan akhir syawal. Saban tahun.

Tapi Pulang Kampung (pulang kampuang) tidaklah persis sama dengan Mudik. Mungkin secara fisik memang sama-sama pulang ke desa (di Minangkabau disebut  Nagari) masing-masing, tapi secara sosiologi dan kultural akan memiliki perbedaan. Sama halnya dengan kita menyebut gulai atau curry (kari). Memang sama-sama gulai, tapi rasa ramuan Minang tentu beda dengan ramuan suku bangsa lain. Bumbunya beda dan rasanya juga beda. Lalu bagaimana rasanya? Pasti takkan terceritakan dengan kata, hanya bisa ditanyakan kepada lidah yang mencicipinya.

Sama ketika saya bertanya kepada seorang teman yang sedang sakit.  
“Bagaimana rasanya ?” 
Lalu dia bertanya lagi ke saya, bagaimana mengatakannya rasa di atas sakit? Karena yang saya rasakan sekarang adalah kata di atas sakit sekali. Saya coba menjawab, “mungkinkah bisa disebut dengan skala satu sampai sepuluh maka yang anda rasakan adalah sakit pada skala sepuluh ?” 

Tidak, katanya, karena ada juga ngilu, pegal, “panek-panek” dan ada juga rasa lain, tapi saya belum ketemu namanya, jawabnya. 

Menurut sejarawan dan budayawan Betawi, JJ Rizal , dahulu perkotaan Jakarta terletak di Jakarta Utara dan Barat. Di luar kedua wilayah itu disebut “udik”. Orang orang yang bekerja di wilayah itu bila pulang ke kampungnya, misalnya Jakarta Selatan, disebut ke Udik, akhirnya istilah itu meluas menjadi pulang kampung dari tempatnya bekerja. Udik lama-lama mengalami penyederhanan bahasa menjadi Mudik.

Menurut Antropolog UGM, Hendri Shri Ahimsa Putra, masyarakat Melayu yang dahulu tinggal di hulu sungai sering ke hilir/ muara sungai untuk berbagai keperluan dengan menggunakan biduk/ perahu. Setelah urusan selesai mereka kembali ke hulu. Pergi ke hulu itu disebut Udik, atau ke Kampung. 

Salvario Raden Lilik Aji Sampurno mengatakan, mudik itu sudah terjadi sejak zaman Majapahit atau Mataram Islam. Para pejabat kerajaan yang bertugas di luar pusat kekuasaan bila pulang ke kampung asalnya disebut dengan Mudik.

Meskipun pulang Kampuang dan Mudik adalah sama sama pulang  ke daerah asal, yang bersifat tahunan ( pada umumnya saat lebaran ), tapi aspek psikologis dan nilai kulturalnya berbeda, agak serupa memang, tapi tak sama. 

Pulang Kampuang bagi masyarakat Minang,  tidaklah sekedar kembali ke kampung asal karena urusan sudah selesai di tempat bekerja,  tapi memiliki  dimensi yang sangat luas dan beragam, apalagi bagi mereka yang sempat merasakan hidup dan masa kecilnya di kampungnya di Ranah Minang. 

Dulu mereka merantau tersebab banyak hal, seperti bersekolah, berdagang/berusaha, bekerja, berkeluarga,  dan sebagainya. Mereka merantau dengan sebuah sikap, 
“Karatau madang di hulu, 
babuah babungo balun, 
marantau bujang dahulu, 
Di kampuang paguno balun”. 

Mereka merantau bukan untuk sekedar berangkat dari kampuang.  Mereka pergi dengan tekad untuk meraih sukses di tanah rantau. Sebenarnya mereka  sedih berpisah dengan kampuang, tapi justru karena sayang itu pula lah  mereka pergi berjalan. 

Ada ungkapan, 
“Sayang jo anak di lacuiki( lecut ), 
sayang jo kampuang ditinggakan ( ditinggalkan/pergi merantau )”. 

Menurut ProfTaufik Abdulah, ada tiga alasan orang Minang Merantau. Pertama untuk mencari ilmu, kedua untuk mencari penghidupan yang lebih baik dan ketiga untuk eksistensi dan aktualisasi diri. 

Walaupun ada orang Minang yang merantau dan kemudian tak kembali ke kampuang, beranak pinak dan berkubur di perantauan, tapi itu bukanlah tujuan sejak awal berangkat meninggalkan kampuang  Itu lebih tersebab situasi kampuang yang tak merindu untuk dijelang, karena tak ada lagi orang tua dan sanak saudara di kampuang atau karena situasi di rantau tak memungkinkan untuk pulang . 

Rantau seperti ini dengan sinis sering disebut dalam bahasa pergaulan orang Minangkabau dengan “Rantau Cino”. Meskipun pada umumnya orang Minang selalu merindu dengan kampuang halamannya. 

Hujan ameh di rantau urang, 
hujan batu di kampuang awak, 
nan kampuang takana juo. 

(Hujan emas di rantau orang, 
hujan batu di kampung kita, 
tapi kampung selalu merindu).

Kerinduan terhadap kampuang halaman bagi orang minang, mungkin  bisa kita simak dalam syair-syair lagu sebagai ungkapan kata hati. Saya mencoba menelusuri lagu lagi Minang, ternyata ada puluhan lagu yang isinya mengungkapkan kerinduannya pada kampuang, seperti lagu “Ratok Anak Rantau”, “Harok di Rantau”, “Larek Badan Di Rantau”, “Pulang Kampuang” yang sempat dinyanyikan Betharia Sonatha , “Tinggalah Kampuang”, “Batu Tagak”, dan sebagainya.

Simaklah sepenggal bait lagu Batu Tagak yang di ciptakan oleh Syahrul Tarun Yusuf. Lagu yang mengundang air mata perantau itu bertutur:

Mande, basabalah mande dahulu 
lai taragak denai nak pulang, 
nak basuo ayah jo bundo, 
tapi kini sadang sangsaro.

Takana maso denai ka pai.
Bundo malapeh jo ibo hati
Basabalah Mande mananti.
Di Batu Tagak, nantikan denai. 

Atau, simak pula bait lagu Tinggalah Kampuang berikut ini:

Tinggalah kampuang, Ranah Balingka
Gunuang Singgalang ondeh lai ka manjago
Oi mandeh kanduang tolong jo doa
Antah pabilo ondeh kito basuo.

Takadia untuang kok lai ka mujua
Bilo masonyo kito basuo
Sadangnyo arek tali jo bumi
Bakarek rotan kini jadinyo

Bait-bait itu umumnya merepresentasikan rasa rindu dengan ibu dan kampuang, meskipun kadang dibumbui dengan kisah kisah romantis sebagai bunga bunga kehidupan. 

Kerinduan perantau, selalu sambut bersambut dengan kerinduan orang Kampuang , dengan sanak saudaranya yang merantau. Simakpulalah sepenggal pantun Minang yang   di dendangkan dalam senandung yang malankolis dalam Rabab.

Anak sipasan dalam rimbo
Mati di golek-golek batang
Bapasan kami nan tido
ratok tangih manyuruh pulang 

Atau syair lagu Pulang Lah Uda yang sangat populer tahun 80-an yang tak lekang hingga kini:

Uda kanduang di rantau urang
Pulanglah uda, di tanah Jao
Rindu  lah lamo, indak basuo, 
apo kadayo

Karena itu, gayung bersambut kerinduan perantau dan anak nagari/ urang kampuang , menjadi  magnit yang kuat untuk terjadinya proses Pulang Kampuang. Banyak motif lain yang mewarnai pulang kampuang itu  ada juga proses menunjukkan eksistensi diri, yaitu pulang dengan membawa suatu kebanggaan karena berhasil di rantau (berpangkat, berkedudukan tinggi, kaya, ternama dan sebagainya),  rindu kepada suasana masa lalu yang mengesankan di kampuang , ketemu sanak saudara yang sangat memberikan perhatian , ingin menikmati makanan kesukaan masa kecil, melepas kerinduan dengan ibu atau ayah  , juga sanak saudara, teman sepermainan masa kecil, dan tempat bermain, menikmati kehidupan sosial masa lalu yang mengesankan atau apalah yang membuat memori di kepala dan dalam hati serasa segar kembali.

Pulang kampuang, meskipun kadang tak bisa berlama-lama, tapi momentum itu membuat fresh satu tahun, hingga pulang lagi tahun berikutnya. Untuk menggambarkan bagaimana indahnya dan berkesannya suasana pulang kampuang bagi setiap individu, saya kira sehebat apapun tulisan di nukilkan, takkan mampu mengurai semuanya, karena setiap diri yang pulang kampuang, punya perjalanan hidup dan memori masing-masing yang tak terkatakan seluruhnya. 

Bila tahun ini perantau yang pulang ke Ranah Minang ada satu juta orang, maka satu juta orang pula punya kesan dan pengalaman yang berbeda dengan segala kenangannya. 

Tahun ini, pulang kampuang bagi orang minang seperti " berbuka puasa bulan carai" karena sejak dua tahun lalu cintanya di rusak covid 19. Tak bisa pulang.

Tahun ini, saya membaca banyak keluhan soal kemacetan, susah mencari hotel karena penuh, dan ketidakmampuan restoran atau rumah makan melayani pengunjung. Saya kira perantau tak perlu kecewa, maklum jalan kita tidak dirancang menerima tambahan penduduk yang tiba-tiba datang dalam jumlah sebanyak itu.

Restoran dan objek wisata kita juga seperti itu, nikmati sajalah semua dengan riang dan sabar. Toh kerinduan utama sudah terjawab, yaitu bisa pulang kampuang  bermaaf-maafan sajalah kita, berlapang lapang sajalah jiwa kita. Tak usah diperkatakan pula gubernur, bupati atau wali kota. Beliau-beliau itu sudah berusaha, tapi ada keterbatasan yang tak mampu diatasi, orang sabar disayang Allah. Tahun depan kita perbaiki lagi yang kurang itu.

Selamat jalan para perantau, kami dikampuang selalu mendokan untuk lebih sukses hingga kita jumpa lagi tahun ketiba.

Permata jatuh ke rumput, 
tiba di rumput bilang-bilang, 
di mata sungguhpun luput, 
di hati takkan hilang. 

Eh...Tapi kini kita masih bisa ketemu juga melalui video call.

(Alahan Panjang, 9 Mei 2022)


Tag :#GamawanFauzi #Opini #PulangKampuang