- Kamis, 12 Maret 2026
Perayaan Hari Besar Di Ranah Minang, Tradisi Yang Tetap Hidup Di Tengah Masyarakat
Perayaan Hari Besar di Ranah Minang, Tradisi yang Tetap Hidup di Tengah Masyarakat
Oleh: Mutia Fadillah
Di berbagai daerah di Sumatera Barat, perayaan hari besar selalu berlangsung dengan suasana yang khas. Masyarakat tidak hanya merayakannya sebagai momen keagamaan, tetapi juga sebagai ruang berkumpul dan menjalankan tradisi yang sudah lama diwariskan. Karena itu, perayaan hari besar di Ranah Minang sering kali diiringi dengan berbagai kegiatan adat dan tradisi masyarakat.
Dalam banyak kesempatan, perayaan tersebut melibatkan seluruh warga nagari. Mulai dari kegiatan keagamaan, tradisi makan bersama, hingga perayaan budaya yang berlangsung meriah di tengah masyarakat.
Salah satu tradisi yang dikenal luas di Minangkabau adalah balimau. Tradisi ini biasanya dilakukan menjelang datangnya bulan Ramadan. Warga berkumpul di sungai atau tempat pemandian untuk mandi bersama menggunakan air yang dicampur limau.
Balimau dipercaya sebagai simbol membersihkan diri sebelum memasuki bulan puasa. Tradisi ini sudah lama dikenal di kalangan masyarakat Minangkabau dan terus dilakukan di beberapa daerah hingga sekarang.
Di sejumlah nagari, kegiatan balimau juga menjadi momen berkumpulnya masyarakat. Banyak orang pulang ke kampung untuk mengikuti tradisi ini bersama keluarga dan warga setempat.
Selain balimau, masyarakat Minangkabau juga mengenal tradisi makan bajamba. Tradisi ini berupa makan bersama yang dilakukan secara berkelompok dengan satu hidangan besar yang diletakkan di tengah.
Makan bajamba biasanya hadir dalam berbagai perayaan penting, termasuk peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi. Dalam tradisi ini, masyarakat duduk bersama dan menikmati hidangan secara bersama-sama sebagai simbol kebersamaan.
Tradisi ini sudah dikenal sejak lama di beberapa daerah di Sumatera Barat. Selain sebagai bagian dari perayaan, makan bajamba juga mencerminkan nilai kebersamaan yang kuat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Perayaan hari besar di Ranah Minang juga terlihat dalam tradisi tabuik yang berlangsung di Kota Pariaman. Tradisi ini digelar setiap tahun pada tanggal 10 Muharram dan berkaitan dengan peringatan wafatnya Husain bin Ali dalam peristiwa Karbala.
Dalam perayaan ini, masyarakat membuat bangunan besar yang disebut tabuik. Bangunan tersebut kemudian diarak keliling kota sebelum akhirnya dilarung ke laut sebagai bagian dari prosesi penutup perayaan.
Tabuik telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Pariaman sejak abad ke-19 dan hingga kini masih menarik perhatian masyarakat luas setiap tahunnya.
Berbagai tradisi yang hadir dalam perayaan hari besar menunjukkan bagaimana masyarakat Minangkabau memadukan kegiatan keagamaan dengan kebiasaan adat yang telah lama berkembang. Kegiatan seperti balimau, makan bajamba, hingga tabuik menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di berbagai nagari.
Melalui tradisi tersebut, perayaan hari besar di Ranah Minang tidak hanya menjadi momen ibadah atau peringatan tertentu. Ia juga menjadi ruang berkumpul, mempererat hubungan sosial, sekaligus menjaga warisan budaya yang telah lama hidup di tengah masyarakat Minangkabau.
Editor : melatisan
Tag :Perayaan, Hari Besar di Ranah Minang, Tradisi, Tetap Hidup, Tengah Masyarakat
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
PARIWISATA BUDAYA MINANGKABAU: MENYUSURI TRADISI, RUMAH GADANG, DAN WARISAN ADAT DI RANAH MINANG
-
MINANG DI ACARA KEBUDAYAAN NASIONAL: KETIKA TRADISI RANAH MINANG TAMPIL DI PANGGUNG NUSANTARA
-
FESTIVAL BUDAYA MINANGKABAU: RUANG PERAYAAN TRADISI DAN IDENTITAS MASYARAKAT RANAH MINANG
-
PELESTARIAN TARI MINANGKABAU DI SEKOLAH: CARA GENERASI MUDA MENGENAL BUDAYA SEJAK DINI
-
PERAN SANGGAR SENI LOKAL: RUANG BELAJAR BUDAYA BAGI GENERASI MUDA
-
SUJUD DI AMBANG LAILATUL QADAR: MENJEMPUT DAMAI DI TANAH HARAM BERSAMA SIANOK TOUR DALAM BAYANG KETEGANGAN DUNIA
-
RUMAH GADANG MAU DIPUGAR, BANYAK YANG AMBRUK
-
SURAT KEPADA NAHKODA SUMBAR, YANG BAHTERANYA KOYAK DI HANTAM GALODO
-
DUA JALAN KEBIJAKAN KOPI: INDONESIA DAN ETHIOPIA DI PERSIMPANGAN STRATEGI
-
ROSITA MEDINA, BUNDO KANDUANG DI RANTAU PUNYA TANGGUNGJAWAB MORAL