HOME VIRAL UNIK

  • Selasa, 9 Juni 2026

Membedah Sejarah Sipahi Dan Menjawab Apa Itu Tabuik Di Kota Pariaman

Membedah Sejarah Sipahi dan Menjawab Apa Itu Tabuik di Kota Pariaman

Oleh: Andika Putra Wardana

Banyak tradisi budaya unik yang hidup di tengah masyarakat Sumatera Barat. Salah satunya adalah pesona perayaan kolosal yang kerap memancing rasa penasaran tentang apa itu tabuik bagi masyarakat awam dari luar daerah. 

Tradisi peringatan masa berkabung ini biasanya diselenggarakan secara besar-besaran pada sepuluh hari pertama di bulan Muharram merujuk pada kalender Hijriah. Hajatan raksasa yang berpusat membelah jalanan pesisir Kota Pariaman ini bukan sekadar pawai memamerkan patung bersayap, melainkan sebuah ritual sejarah untuk mengenang gugurnya cucu Nabi Muhammad, yakni Imam Husain, dalam pertempuran berdarah di padang Karbala pada awal abad ketujuh masehi.

Jejak Pasukan Sipahi di Pesisir Pantai

Melacak jejak masuknya perayaan bising ini ke tanah Minangkabau memaksa kita mundur jauh ke masa peralihan kekuasaan militer Inggris dan Belanda pada awal abad ke-19, tepatnya pada kisaran rentang tahun 1826. Rombongan pasukan bayaran asal India beragama Islam Syiah yang dikenal luas dengan sebutan tentara Sipahi ikut dibawa berlayar dan akhirnya menetap kawin-mawin di pesisir Pariaman.

Pasukan pendatang inilah yang pertama kali merakit kerangka menara dan memukul periuk tanah berlapis kulit kambing atau gandang tasa untuk meratapi tragedi Karbala di tanah rantau. Kebiasaan meratap dan mengarak patung ini lambat laun membaur sangat erat dengan laku lampah warga lokal. 

Seiring berjalannya waktu, ritual keprajuritan ini murni diambil alih tata kelolanya oleh masyarakat asli pesisir Pariaman dan berubah wujud menjadi pesona pertunjukan budaya tingkat kota.

Pertarungan Gengsi Pasa dan Subarang

Wujud perayaan ini terang saja tidak pernah digarap setengah hati. Orang Pariaman membelah wilayah kotanya menjadi dua kubu besar pengelola, yakni kawasan Pasa dan kawasan Subarang. Kedua kubu kampung ini diwajibkan merakit menara patungnya masing-masing dari nol. 

Rangkaian acaranya sangat memeras keringat orang sekampung, dimulai dari prosesi mengambil tanah basah di dasar sungai, memotong batang pisang menggunakan parang tajam, sampai menyusun rangka bambu dan ikatan rotan menjadi menara setinggi belasan meter.

Menara menjulang ini dihiasi patung buraq pada bagian bawahnya, sebuah wujud makhluk mitologi berbadan kuda tegap dengan kepala manusia. Selama proses perakitan yang memakan waktu berhari-hari ini, pemuda dari kedua kubu warga sengaja dibiarkan beradu mulut dan bergesekan fisik di perbatasan kampung. 

Taktik saling memanaskan emosi ini murni dipertahankan oleh tetua desa untuk membakar semangat warganya, meniru persis tegangnya suasana perang di padang pasir masa lalu.

Sorakan Hoyak Tabuik di Pasir Gandoriah

Puncak dari seluruh rangkaian acara yang menguras isi dompet dan tenaga ini baru benar-benar pecah berantakan saat masuk jatuhnya hari kesepuluh bulan Muharram. Menara raksasa yang sudah dibalut penuh kertas warna-warni dan bunga payung itu lantas diangkat beramai-ramai oleh puluhan laki-laki dewasa berotot kencang. 

Rombongan pengangkut ini nekat membelah padatnya aspal jalanan kota menuju bibir Pantai Gandoriah sambil terus mengayunkan menara berat tersebut ke kiri dan ke kanan, sebuah atraksi fisik berbahaya yang akrab diteriaki oleh lautan penonton dengan sebutan hoyak tabuik.

Atraksi unjuk nyali dan adu tenaga ini selalu dikawal ketat oleh bisingnya tabuhan pukulan gendang tasa yang berbaur dengan ketukan talempong kuningan sepanjang jalan. Begitu langkah kaki alas para pemikul ini menyentuh batas pasir pantai saat matahari perlahan mulai turun terbenam, kedua menara raksasa seharga puluhan juta rupiah itu langsung dibuang tanpa ampun ke tengah deburan ombak laut lepas. 

Membuang karya seni mahal ini ke air asin bertindak sebagai simbol pelepasan ikhlas, membuang jauh semua amarah dan sisa permusuhan warga selama berhari-hari ke dasar lautan. Melihat ganasnya adu gengsi warga dan kerasnya benturan kayu menara di pesisir ini akhirnya memberi kita gambaran jernih untuk merangkum jawaban utuh atas pertanyaan apa itu tabuik. 

Perhelatan yang menelan banyak biaya dan memeras urat leher orang sekota ini membuktikan bahwa warga pantai barat Sumatera amat pintar merawat rentetan sejarah lewat tontonan jalanan yang menggelegar. Ritual membuang patung ke laut lepas ini terus dibiarkan hidup menantang zaman semata-mata untuk mengunci pesan jujur di isi kepala warganya. 

Sebuah pembuktian keras bahwa perbedaan pendapat dan pertarungan gengsi sebesar apa pun wajib punya titik akhir, semuanya harus ditenggelamkan habis ke dasar ombak agar orang sekampung bisa kembali minum kopi semeja pada esok paginya tanpa menyimpan dendam.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Membedah, Sejarah Sipahi, Menjawab, Apa Itu Tabuik, di Kota Pariaman

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com