- Jumat, 2 Januari 2026
Nagari Batu Banyak: Jejak Panjang Perjalanan Leluhur Dari Pariangan Hingga Singkarak
Nagari Batu Banyak: Jejak Panjang Perjalanan Leluhur dari Pariangan hingga Singkarak
Oleh: Andika Putra Wardana
Sejarah Nagari Batu Banyak tidak dapat dilepaskan dari sejarah awal peradaban Minangkabau di Pariangan Padang Panjang. Pada sekitar abad ke-13, wilayah Pariangan Padang Panjang berada di bawah kekuasaan Dt. Bandaro Kayo dan Dt. Maharajo Basa. Pada masa itu, jumlah penduduk terus bertambah hingga wilayah tersebut semakin padat. Kondisi ini mendorong sebagian kelompok masyarakat untuk memohon izin menyebar dan mencari daerah pemukiman baru.
Dengan restu Dt. Katamanggungan dan Dt. Parpatih Nan Sabatang, rombongan masyarakat mulai bergerak ke berbagai arah: ke timur Tanah Datar, ke barat Agam, dan ke utara Lima Puluh Koto. Pergerakan inilah yang kelak dikenal sebagai asal-usul Luhak Nan Tigo. Namun, karena semakin banyak penduduk yang meninggalkan Pariangan, Dt. Bandaro Kayo mulai membatasi izin penyebaran penduduk demi menjaga keberlangsungan wilayah asal.
Memasuki abad ke-15, sebuah rombongan besar yang dipimpin oleh Tuanku Labuah Basa, yang kemudian bergelar Sultan Manangkerang, kembali memohon izin untuk mencari daerah baru. Setelah musyawarah panjang, rombongan ini diizinkan berangkat ke arah timur Tanah Datar dengan satu ketentuan: mereka adalah rombongan terakhir yang memperoleh izin. Setelah keberangkatan itu, pintu gerbang Pariangan dikunci, menandai berakhirnya masa penyebaran penduduk dari pusat Minangkabau.
Dalam perjalanannya, rombongan Sultan Manangkerang terus bertambah. Anak kemenakan berkembang, niniak mamak dan cadiak pandai bermusyawarah untuk memastikan masa depan generasi berikutnya. Dari Luhak Tanah Datar Batu Sangka, rombongan bergerak ke barat hingga ke Muara Batang Ombilin, lalu menyusuri hilir Danau Singkarak dan tiba di wilayah Kubuang Tigo Baleh.
Wilayah Kubuang Tigo Baleh mencakup banyak kawasan yang kini dikenal luas, seperti Solok, Salayo, Cupak, Talang, Gantuang Ciri, Kinari, Muaro Paneh, Sirukam, Supayang, hingga Taruang-taruang. Dari sinilah muncul kesepakatan adat yang dikenal dengan pepatah: “Ibu Solok, Bapak Salayo, Kakak Guguak, Adiak Koto Nan Anam.”
Dalam struktur Koto Nan Anam tersebut, salah satu wilayah yang memiliki peran penting adalah Batu Banyak, yang dikenal sebagai koto yang luas. Dari sinilah perjalanan menuju pembentukan Nagari Batu Banyak bermula, sebuah nagari yang lahir dari perjalanan panjang, musyawarah adat, dan kesadaran kolektif untuk membangun kehidupan baru.
Editor : melatisan
Tag :Nagari Batu Banyak,Jejak Panjang, Perjalanan Leluhur, Pariangan, Singkarak
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MAKNA DIBALIK BARARAK TUNDUAK
-
NAGARI KACANG DAN KEHIDUPAN MASYARAKAT DI TEPIAN DANAU SINGKARAK
-
NILAI-NILAI KEHIDUPAN DALAM KABA RANCAK DI LABUAH
-
MENJAGA TRADISI BALIMAU DITENGAH PERUBAHAN ZAMAN DI PESISIR SELATAN
-
TRADISI MANGGODOK DI NAGARI SIRUKAM PAYUNG SEKAKI
-
DARI PASAR KE TANAH SUCI: KISAH PAK DAS, BURUH ANGKUT BATUSANGKAR YANG MENJEMPUT KEMULIAAN DI KURSI BISNIS GARUDA
-
KOPI MINANG, PERMATA GASTRONOMI YANG LAYAK JADI WAJAH WONDERFUL INDONESIA
-
PERTUMBUHAN EKONOMI SUMBAR MENGUAT DI AWAL 2026
-
HARAPAN DAN REALITAS PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI INDONESIA: ANTARA NARASI KEMAJUAN DAN KRISIS STRUKTURAL
-
KARTINI DI RANTAU: KETIKA SEMANGAT EMANSIPASI BERTEMU FALSAFAH BUNDO KANDUANG