- Kamis, 1 Januari 2026
Nagari Aripan: Dari Lilitan Kayu Marunduak Ke Nagari Yang Arif
Nagari Aripan: Dari Lilitan Kayu Marunduak ke Nagari yang Arif
Oleh: Andika Putra Wardana
Nagari Aripan merupakan salah satu nagari tua di Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Sejarahnya tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang sejak masa awal pemukiman manusia di wilayah Minangkabau. Sebelum dikenal sebagai nagari, wilayah ini terlebih dahulu berupa taratak, kemudian berkembang menjadi dusun, hingga akhirnya berdiri sebagai sebuah nagari adat.
Nama awal nagari ini adalah Nagari Lilitan Kayu Marunduak. Nama tersebut berasal dari peristiwa yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Konon, ketika Dt. Perpatih Nan Sabatang melintasi wilayah ini dalam perjalanannya dari Pariangan menuju Solok, kudanya tersangkut pada pohon mengkudu. Penduduk setempat dengan penuh kearifan melepaskan kuda tersebut hingga pohon mengkudu itu merunduk. Sejak peristiwa itulah, wilayah ini dikenal dengan sebutan Lilitan Kayu Marunduak.
Seiring perkembangan penduduk dan struktur sosial, nagari ini kemudian mengalami perubahan nama menjadi Aripan. Nama Aripan berasal dari kata “Arif”, yang berarti bijaksana, pemurah, terbuka, dan suka menolong. Akhiran “-an” menunjukkan sifat yang melekat pada penduduknya. Perubahan dari Arifan menjadi Aripan terjadi secara alamiah seiring perkembangan nagari, dan nama tersebut bertahan hingga hari ini sebagai identitas kolektif masyarakatnya.
Secara adat, Nagari Aripan menganut sistem matrilineal Minangkabau. Garis keturunan ditarik dari pihak ibu, rumah gadang dan harta pusaka diwariskan kepada perempuan, sementara laki-laki berperan sebagai mamak yang memimpin dan menjaga kaum. Struktur adat ini menjadi fondasi kehidupan sosial nagari hingga sekarang.
Pembentukan nagari juga ditandai dengan kesepakatan membentuk lima suku utama, yaitu Piliang, Sumpadang, Sikumbang, Jambak, dan Sumagek, masing-masing dengan penghulu pucuknya. Sistem kepemimpinan adat yang lengkap, penghulu, manti, malin, dan dubalang menunjukkan bahwa Aripan sejak awal berdiri sebagai nagari yang tertata secara adat dan sosial.
Nagari Aripan bukan hanya tempat tinggal, tetapi ruang hidup yang dibangun dari nilai kearifan, musyawarah, dan kebersamaan. Jejak sejarahnya masih terasa dalam struktur adat, cerita lisan, dan sikap masyarakatnya yang menjunjung tinggi nilai arif dalam kehidupan sehari-hari.
Editor : melatisan
Tag :Nagari Aripan, pesona, Lilitan Kayu, Marunduak, Nagari yang Arif
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
NAGARI CUPAK: JEJAK PERJUANGAN, ADAT NAGARI, DAN KEHIDUPAN DI KAKI GUNUNG TALANG
-
TRADISI SUSUNGAN JENAZAH DAN RASA KULINER BUKIK TANDANG: IDENTITAS BUDAYA YANG TETAP HIDUP
-
BUKIK TANDANG: NAGARI PERBUKITAN YANG MENJAGA ADAT DAN JEJAK SEJARAH DI BUKIT SUNDI
-
BUKIK BAIS: JEJAK PRASEJARAH, TRADISI BALOTA, DAN LANGKAH MENUJU NAGARI CERDAS
-
NAGARI BUKIT BAIS: SEJARAH, ADAT, DAN JEJAK KEHIDUPAN MINANGKABAU DI IX KOTO SUNGAI LASI
-
“TEMBAK PATUIH”: MITOS EDUKATIF DALAM UNGKAPAN LARANGAN ULAKAN TAPAKIS
-
CHERRY CHILD FOUNDATION BERSAMA BERBAGAI KOMUNITAS SALURKAN BANTUAN KE WILAYAH TERDAMPAK BANJIR BANDANG DI PADANG
-
MENANAM POHON, MENUAI KESELAMATAN: KONSERVASI LAHAN KRITIS UNTUK KETAHANAN HIDUP KOMUNITAS.
-
MUSIBAH
-
KEMANA BUPATI TAPSEL